Heboh Penyiksaan Aktivis GSF, Presiden Kolombia Sebut Menteri Israel Ben Gvir Nazi
What Happened During sebuah aksi demonstrasi yang memicu perdebatan internasional, Presiden Kolombia Gustavo Petro mengecam tindakan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir atas perlakuan kasar terhadap aktivis dari Global Solidarity Flotilla (GSF). Petro menilai kekerasan yang dilakukan Ben Gvir mengingatkan pada praktik penjajahan Nazi, menunjukkan sikap yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai hak asasi manusia. Peristiwa ini menjadi sorotan global karena dilakukan dalam konteks konflik Israel-Palestina yang sudah berlangsung lama.
Detik-Detik Kekerasan di Tengah Demonstrasi
Dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial, terlihat pasukan Israel menghadang para aktivis GSF yang sedang berdemo di kota kecil Tiberias. Para tahanan diperintahkan berlutut, dahi mereka dipaksa menyentuh lantai, dan tangan dibundel di belakang. Tindakan ini dilakukan sambil bendera Israel dikibarkan dan aktivis dipaksa berjalan dalam kondisi terjepit. Video tersebut dijuluki “What Happened During” oleh penonton, karena menggambarkan momen-momen kekerasan yang terjadi di bawah tekanan pemerintah Israel.
“Bebaskan Palestina,” teriak seorang aktivis perempuan di depan Ben Gvir. Aktivis itu segera dipaksa berlutut oleh anggota keamanan, menunjukkan kekerasan yang dijalankan selama aksi demonstrasi. Suara teriakan itu menjadi bagian dari peristiwa yang dianggap sebagai simbol perlawanan rakyat Palestina terhadap penjajahan, menurut para pengamat.
Presiden Kolombia mengkritik perlakuan Ben Gvir sebagai bentuk kekerasan terhadap orang-orang yang berusaha menegakkan keadilan. Dalam pernyataannya, Petro menekankan bahwa tindakan itu tidak hanya melanggar hak asasi manusia, tetapi juga memperkuat stereotip tentang Israel sebagai negara yang menindas. Perbandingan ini menimbulkan reaksi yang beragam, baik dari kelompok pro-Palestina maupun kelompok yang mendukung kebijakan Israel.
Analisis Internasional dan Konteks Politik
Reaksi terhadap What Happened During peristiwa tersebut mencapai level yang tinggi, terutama di kalangan negara-negara yang berpaham anti-penjajahan. Beberapa diplomat mengkritik Israel atas penggunaan kekerasan terhadap pengunjuk rasa yang tidak bersenjata, sementara organisasi hak asasi manusia meminta investigasi lebih lanjut. Peristiwa ini juga memengaruhi hubungan diplomatik antara Kolombia dan Israel, yang sebelumnya tergolong stabil.
Presiden Petro menyoroti bahwa kekerasan Ben Gvir mengingatkan pada masa penjajahan Nazi, mengingat cara-cara yang digunakan oleh pasukan Israel serupa dengan perlakuan terhadap rakyat Palestina. Ini menjadi titik balik dalam perdebatan internasional tentang keterlibatan Kolombia dalam konflik Timur Tengah. What Happened During aksi itu tidak hanya menimbulkan kecaman, tetapi juga memicu pertanyaan tentang konsistensi pemerintah Kolombia dalam mendukung keadilan global.
Di sisi lain, penggemar kebijakan Israel menilai bahwa tindakan Ben Gvir adalah bentuk pertahanan terhadap ancaman teror yang dihadapi negara mereka. Namun, kekerasan yang terjadi selama What Happened During aksi itu juga mengingatkan para pendukung hak asasi manusia bahwa perlindungan terhadap aktivis tetap menjadi tantangan utama. Selama peristiwa tersebut, para pengunjuk rasa terus berupaya menegakkan pendirian mereka, meskipun terpaksa menerima perlakuan kasar dari pasukan Israel.