News

Netanyahu Sebut Iran di Ambang Keruntuhan, Benarkah Kekuasaan Mojtaba Khamenei Goyah?

codex-43a57161ba3d4e11ba2fb43df67459bb
Foto : David Jackson - nusantaranews1.com
Daftar Isi
  1. Netanyahu Klaim Pemerintahan Iran Mendekati Keruntuhan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Netanyahu Klaim Pemerintahan Iran Mendekati Keruntuhan

Nusantaranews1.com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kepemimpinan Iran berada dalam kondisi yang disebutnya semakin rapuh. Pernyataan itu muncul saat Israel terus menempatkan perubahan rezim di Teheran sebagai salah satu sasaran utama dalam konfrontasinya dengan Iran.

Netanyahu menyampaikan pandangan tersebut ketika mengunjungi Jabal Al Sheikh atau Gunung Hermon di Suriah, kawasan yang kini diduduki pasukan Israel. Dia menilai Israel telah bergerak sangat dekat ke arah tujuan untuk menjatuhkan pemerintahan Iran, meski tidak memaparkan bukti khusus yang memperkuat penilaian itu.

“Masih ada tugas yang harus diselesaikan, tugas utamanya adalah menumbangkan rezim teror di Iran. Kita sudah sangat dekat dengan hal itu,”

Ucapan Netanyahu itu disampaikan pada Sabtu, 12 September 2026. Dalam pernyataan lanjutan, dia juga menggambarkan jaringan kekuatan yang bersekutu dengan Iran sebagai poros yang pada akhirnya akan mengalami kejatuhan.

“Kita tahu bahwa keseluruhan poros tersebut pada akhirnya akan runtuh,”

Pertanyaan tentang stabilitas Mojtaba Khamenei

Klaim dari Netanyahu kembali menempatkan situasi politik internal Iran dalam sorotan. Perhatian terutama tertuju pada Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang ditunjuk menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada Maret lalu.

Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Pergantian kepemimpinan kemudian berlangsung ketika Iran sedang menghadapi tekanan besar akibat konflik dengan Israel dan AS. Dalam keadaan seperti itu, kesinambungan pemerintahan, otoritas pemimpin baru, serta kemampuan negara menjaga persatuan menjadi isu yang diperhatikan secara luas.

Mojtaba Khamenei belum pernah tampil di hadapan publik sejak pengangkatannya. Ketidakhadiran tersebut memunculkan spekulasi mengenai siapa yang menjalankan kendali pemerintahan sehari-hari dan seberapa kokoh posisi pemimpin tertinggi yang baru. Namun, tidak adanya penampilan publik dengan sendirinya tidak membuktikan bahwa kekuasaannya telah melemah atau pemerintahan Iran berada di ambang runtuh.

Isu itu juga pernah diangkat Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump beberapa kali menyatakan bahwa kepemimpinan Iran akan jatuh dan mengaku tidak jelas pihak mana yang saat ini memegang kendali di Teheran. Pernyataan-pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan politik terhadap Iran tidak hanya hadir lewat konflik bersenjata, tetapi juga melalui narasi tentang legitimasi dan stabilitas pemerintahan.

Penolakan dari pejabat Iran

Pejabat Iran berulang kali menolak gambaran bahwa Mojtaba Khamenei maupun pemerintahannya akan tumbang. Mereka menilai AS berupaya membangun kesan adanya perpecahan di dalam pemerintahan Iran untuk melemahkan persatuan nasional.

Teheran menegaskan upaya tersebut tidak akan berhasil. Dalam posisi resminya, pemerintah Iran justru menyatakan masyarakat semakin bersatu dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat. Penolakan ini menunjukkan adanya perbedaan tajam antara narasi Israel dan AS dengan sikap pemerintah Iran mengenai keadaan politik di dalam negeri.

Bagi pembaca, penting membedakan klaim politik dengan fakta yang telah dapat dibuktikan. Pernyataan Netanyahu menggambarkan tujuan strategis Israel terhadap Iran, bukan bukti terbuka bahwa struktur kekuasaan di Teheran telah runtuh. Sementara itu, bantahan dari Iran mencerminkan upaya pemerintah mempertahankan legitimasi dan menepis dugaan krisis internal.

Konflik melampaui medan militer

Pertarungan antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat tidak hanya berlangsung melalui operasi militer. Perebutan persepsi juga menjadi bagian penting dari konflik. Klaim bahwa suatu pemerintahan melemah dapat memengaruhi kepercayaan publik, solidaritas politik, sikap kelompok pendukung, hingga cara negara lain membaca arah perkembangan kawasan.

Dalam konteks Iran, suksesi setelah kematian Ali Khamenei menjadi titik yang sangat sensitif. Pemimpin tertinggi memiliki posisi sentral dalam sistem politik Iran. Karena itu, kemampuan Mojtaba Khamenei membangun otoritas setelah ditunjuk pada Maret akan terus menjadi perhatian, khususnya di tengah tekanan konflik yang belum mereda.

Namun, belum ada bukti yang dipaparkan Netanyahu untuk mengonfirmasi bahwa kekuasaan Mojtaba Khamenei benar-benar goyah. Yang terlihat jelas adalah adanya persaingan narasi: Israel dan AS menonjolkan kemungkinan keruntuhan pemerintahan Iran, sedangkan para pejabat Iran menyatakan negara mereka tetap bertahan dan masyarakatnya semakin kompak.

Perkembangan berikutnya akan sangat ditentukan oleh dinamika di dalam Iran, arah konflik dengan Israel dan AS, serta kemampuan masing-masing pihak menerjemahkan klaim politik menjadi kenyataan di lapangan. Untuk saat ini, pernyataan Netanyahu menambah tekanan diplomatik dan psikologis terhadap Teheran, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa perubahan rezim di Iran sudah dekat.

Frequently Asked Questions

What is Netanyahu Sebut Iran di Ambang Keruntuhan?

Netanyahu Sebut Iran di Ambang Keruntuhan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Netanyahu Sebut Iran di Ambang Keruntuhan matter?

Netanyahu Sebut Iran di Ambang Keruntuhan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment