Menlu Sugiono: BRICS Harus Aktif Jaga Perdamaian Global Tanpa Standar Ganda
Meeting Results – Dalam pertemuan para Menteri Luar Negeri BRICS yang berlangsung di New Delhi, India, Menteri Luar Negeri Sugiono menekankan pentingnya BRICS memainkan peran penting dalam mempertahankan perdamaian dan stabilitas internasional. Ia menegaskan bahwa forum ini harus menjadi solusi, bukan sumber polarisasi, serta menyerukan penerapan keadilan dalam penegakan hukum global.
Pertemuan tersebut diadakan di bawah kepemimpinan India dan mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”. Tahun ini juga menjadi tahun kedua Indonesia menjadi anggota BRICS, yang sekaligus merayakan ulang tahun ke-20 organisasi tersebut sejak didirikan pada 2006.
Sugiono menyampaikan dukungan penuh terhadap Palestina dan solusi dua negara dalam sesi diskusi. Ia juga menyoroti kasus gugur empat personel Indonesia di UNIFIL, meminta pihak yang bersalah diberi tanggung jawab penuh.
Reformasi Sistem Perdagangan dan Tata Kelola Global
Dalam sesi pertama, Sugiono membahas tantangan global saat ini, termasuk kebutuhan reformasi tata kelola dunia. Ia menekankan pentingnya sistem perdagangan yang inklusif, terbuka, dan tidak membeda-bedakan, dengan World Trade Organization (WTO) sebagai fondasi utamanya.
“Ke depan, Indonesia dapat memanfaatkan forum BRICS untuk meningkatkan kerja sama di bidang-bidang strategis seperti ekonomi, perubahan iklim, energi, kesehatan, serta reformasi tata kelola global,” tutur Sugiono.
Menlu mengatakan bahwa keanggotaan Indonesia dalam BRICS diharapkan dapat membawa manfaat dan kerja sama nyata. BRICS mewakili sekitar 28-30% dari total GDP global dan mencakup 45% populasi dunia.
BRICS Foreign Ministers’ Meeting (FMM) merupakan ajang utama di tingkat menteri luar negeri. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menuju Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18, yang rencananya diadakan pada 12–13 September 2026 di New Delhi, India.