News

Kisah Menyedihkan Pasien Kanker Gaza Sulit Berobat: Saya Hanya Menunggu untuk Mati

Daftar Isi
  1. Kisah Menyedihkan Pasien Kanker Gaza: Menanti Pengobatan
  2. Related Reading

Kisah Menyedihkan Pasien Kanker Gaza: Menanti Pengobatan

Nusantaranews1.com – Bagi para penderita kanker di Jalur Gaza, pertempuran melawan penyakit mematikan hanyalah satu bagian dari perjuangan mereka. Hambatan terbesar justru terletak pada kesulitan memperoleh pengobatan yang layak, sementara kesehatan mereka terus menurun setiap harinya. Kisah Menyedihkan Pasien Kanker Gaza ini mencerminkan realita pahit yang dihadapi ribuan warga Palestina setiap hari.

Kisah Khuloud Abu Sahmoud, seorang wanita Palestina berusia tiga puluh tiga tahun yang mengidap kanker ovarium stadium lanjut, menjadi salah satu contoh paling menyayat hati. Ia telah lama menantikan kesempatan untuk meninggalkan Gaza guna menjalani perawatan di Mesir atau negara-negara lain. Sayangnya, waktu terus berlalu dan penyakitnya semakin meluas. Kini, sel-sel kanker telah menyerang paru-paru serta tulang-tulangnya.

Dalam kondisi yang semakin sulit, Khuloud merasa hidupnya bagai menunggu kematian. Ia menceritakan bahwa setiap hari penyakitnya menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Seluruh kuku tangannya telah rontok, tidak ada satupun yang tersisa. “Saya hanya menunggu untuk mati,” ungkapnya, sebagaimana dilaporkan The Straits Times pada Kamis (13/8/2026).

Keterbatasan Akses Menghancurkan Harapan

Ucapan Khuloud mencerminkan betapa beratnya beban yang ditanggung pasien kanker di Gaza akibat minimnya akses pengobatan. Ia telah menunggu sejak gencatan senjata Oktober untuk bisa keluar dari Gaza dan memulai terapi. Namun, selama masa penantian itu, penyakitnya justru terus berkembang pesat.

Bagi penderita kanker, waktu adalah segalanya. Tanpa pengobatan yang tepat dan segera, penyakit dapat menyebar ke berbagai organ tubuh, memperburuk kondisi pasien secara signifikan. Fenomena ini juga diamati oleh para dokter di Gaza. Mereka mencatat bahwa setiap hari ada pasien yang harus kehilangan nyawa karena tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya.

“Kami mencatat sejumlah besar kematian, berkisar tiga hingga lima setiap hari, karena pasien tidak menerima kemoterapi yang dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa mereka,” jelas Mohamed Abu Selmia, kepala Rumah Sakit Al Shifa.

Angka kematian tersebut jauh melampaui kondisi sebelum pecahnya perang. Sobhi Skaik, seorang dokter bedah Palestina yang pernah memimpin Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, menyebutkan bahwa sebelumnya hanya satu hingga dua pasien kanker yang meninggal setiap harinya. Perbedaan ini menunjukkan betapa drastisnya peningkatan angka kematian akibat keterbatasan fasilitas kesehatan.

Hancurnya Fasilitas Kesehatan

Perjuangan pasien kanker semakin berat setelah Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, yang merupakan fasilitas khusus kanker di Gaza, hancur pada tahun 2025. Kehancuran bangunan tersebut menyebabkan pasien kehilangan salah satu pusat utama untuk mendapatkan terapi kanker. Banyak pasien yang sebelumnya rutin berobat kini harus mencari alternatif lain.

Menurut para dokter, rumah sakit yang masih beroperasi pun mengalami kekurangan berbagai perlengkapan medis penting, termasuk alat untuk diagnosis dan pengobatan kanker. Akibatnya, pasien yang memerlukan kemoterapi maupun perawatan lanjutan harus menghadapi pilihan yang sangat terbatas. Tidak semua pasien mampu membayar biaya pengobatan di luar Gaza.

Sebagian dari mereka harus menunggu kesempatan untuk keluar dari Gaza agar dapat menjalani pengobatan di luar wilayah. Namun, tidak semua pasien berhasil mendapatkan kesempatan tersebut. Bagi Khuloud, penantian itu bukan sekadar menunggu perjalanan menuju rumah sakit lain. Ia menunggu sambil merasakan penyakit terus mengambil alih tubuhnya.

Kanker telah menyebar ke paru-paru dan tulang. Kukunya bahkan telah rontok seluruhnya. Di tengah kondisi tersebut, ia tidak tahu kapan bisa mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan. “Setiap hari penyakit saya berkembang,” katanya. Kesaksiannya menjadi potret memilukan pasien kanker di Gaza yang harus menghadapi penyakit mematikan tanpa kepastian kapan dapat memperoleh terapi.

Harapan yang Terus Bertahan

Bagi mereka, pengobatan bukan lagi sekadar tentang menyembuhkan penyakit. Pengobatan menjadi harapan untuk mendapatkan waktu hidup yang lebih panjang. Namun, ketika obat dan terapi sulit didapatkan, harapan itu pun perlahan menipis. Banyak keluarga di Gaza yang harus menerima kenyataan pahit bahwa loved ones mereka akan meninggal karena penyakit yang seharusnya bisa diobati.

Komunitas internasional terus memantau situasi ini dengan kekhawatiran yang mendalam. Berbagai organisasi kemanusiaan berusaha mengirimkan bantuan medis ke Gaza, namun jumlahnya masih jauh dari kebutuhan yang ada. Pasien kanker seperti Khuloud menjadi simbol perjuangan rakyat Palestina yang tidak hanya melawan penjajahan, tetapi juga melawan penyakit yang mengancam nyawa mereka.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pasien Kanker Gaza

Berapa jumlah pasien kanker yang meninggal setiap hari di Gaza? Saat ini, tercatat tiga hingga lima pasien kanker meninggal setiap hari karena tidak mendapatkan kemoterapi yang dibutuhkan.

Apa yang terjadi pada Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina? Fasilitas khusus kanker ini hancur pada tahun 2025, menyebabkan pasien kehilangan pusat utama terapi kanker di Gaza.

Bagaimana kondisi Khuloud Abu Sahmoud saat ini? Khuloud berusia 33 tahun dengan kanker ovarium stadium lanjut yang telah menyebar ke paru-paru dan tulang. Seluruh kuku tangannya telah rontok.

Apakah ada kesempatan bagi pasien kanker Gaza untuk berobat ke luar negeri? Ya, sebagian pasien menunggu kesempatan untuk keluar dari Gaza, terutama sejak gencatan senjata Oktober, namun tidak semua berhasil mendapatkan izin perjalanan.

Leave a Comment