Lifestyle

IDAI Ungkap Bahaya Screen Time Berlebihan, Perkembangan Bahasa Anak Bisa Terganggu

codex-bafffc3b26544ee199b9a6d22d639482
Foto : Sandra Thomas - nusantaranews1.com
Daftar Isi
  1. Waktu Menatap Layar Berlebih Berisiko Menghambat Bahasa Anak
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Waktu Menatap Layar Berlebih Berisiko Menghambat Bahasa Anak

Nusantaranews1.com – Penggunaan gawai yang tidak terkendali pada anak usia dini dapat mengurangi kesempatan mereka berbicara, bermain, dan membangun hubungan langsung dengan orang di sekitarnya. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi mengganggu perkembangan bahasa, sekaligus memengaruhi kemampuan sosial dan emosional anak.

Peringatan tersebut menjadi penting di tengah teknologi digital yang semakin dekat dengan kehidupan keluarga. Layar ponsel, tablet, televisi, maupun perangkat lain memang dapat menjadi bagian dari keseharian, tetapi penggunaannya tidak seharusnya mengambil porsi waktu yang semestinya dipakai anak untuk berinteraksi secara nyata.

Dokter Anak dan Ahli Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), menekankan bahwa masa awal kehidupan merupakan periode ketika anak belajar mengenali keluarga, memahami percakapan, serta mencoba menyampaikan keinginan dan perasaannya. Proses tersebut membutuhkan respons dua arah yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh konten di layar.

“Yang kedua, perkembangan. Andaikata kita berikan pada usia dini, di mana seharusnya dia belajar tentang keluarganya, belajar bagaimana dia berbicara, itu habis waktunya pada screen time yang hanya satu arah,” katanya di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), dikutip Kamis (8/10/2026).

Interaksi Langsung Membantu Anak Memahami Bahasa

Anak belajar bahasa bukan hanya melalui suara atau kata-kata yang didengar. Mereka juga memerhatikan gerakan wajah, nada bicara, ekspresi, kontak mata, dan tanggapan dari lawan bicara. Saat anak menunjuk sesuatu, mengajukan pertanyaan sederhana, atau menirukan kata, respons dari orang tua dan keluarga menjadi stimulasi penting bagi proses belajarnya.

Konten digital pada umumnya menghadirkan komunikasi satu arah. Anak dapat melihat gambar bergerak dan mendengar suara, namun tidak selalu memperoleh tanggapan yang sesuai dengan kebutuhan atau pertanyaan mereka pada saat itu. Ketika durasi layar terlalu dominan, peluang untuk mengalami percakapan langsung pun menyusut.

Bernie menyampaikan bahwa dampak penggunaan layar berlebihan tidak terbatas pada kemampuan berbahasa. Anak juga dapat menghadapi hambatan pada perkembangan sosial-emosional karena lebih sedikit berlatih menjalin interaksi nyata dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.

“Jadi kadang-kadang pada anak-anak yang terlalu banyak screen time, seringkali terjadi masalah dalam perkembangan, baik itu perkembangan bahasa, sosial-emosional, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi sederhana dapat menjadi ruang belajar yang bernilai bagi anak. Percakapan saat makan, bermain bersama, membaca buku, bernyanyi, atau mengajak anak mengenali benda di rumah dapat membantu mereka memperkaya kosakata dan belajar merespons orang lain. Kegiatan bergerak di luar rumah serta bermain dengan teman juga memberi pengalaman sosial yang berbeda dari menatap perangkat elektronik.

Gawai Tidak Boleh Menggantikan Waktu Bermain

Penggunaan teknologi perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan tumbuh kembang anak. Peran orang tua menjadi sangat penting untuk memastikan perangkat digital tidak berubah menjadi pengganti kehadiran orang dewasa, teman bermain, maupun aktivitas fisik anak.

Pengawasan tidak hanya berkaitan dengan lama penggunaan, tetapi juga situasi ketika gawai digunakan. Anak tetap memerlukan waktu yang cukup untuk berbicara dengan keluarga, bermain aktif, bergerak, beristirahat, dan berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Rutinitas keluarga yang memberi ruang bagi komunikasi dapat membantu menjaga keseimbangan antara teknologi dan pengalaman langsung.

Risiko dari screen time yang berlebihan juga meluas ke aspek kesehatan lainnya. Anak dapat semakin terbiasa dengan pola hidup sedentari atau minim gerak, yang berpotensi berkaitan dengan overweight maupun obesitas. Risiko lain mencakup kecanduan, cyberbullying, serta persoalan kesehatan mental.

Karena itu, perhatian terhadap kebiasaan digital anak perlu dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga tumbuh kembang mereka secara menyeluruh. Orang tua dapat memulai dengan menyediakan alternatif kegiatan yang menarik, seperti permainan aktif, menggambar, membaca bersama, membantu aktivitas ringan di rumah, atau mengajak anak mengobrol tentang pengalaman hari itu.

Perlindungan Anak di Ruang Digital

Bernie, yang juga menjabat Ketua Bidang 3 Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota IDAI, mengapresiasi penerapan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP Tunas oleh Kementerian Komunikasi dan Digital.

Aturan tersebut membatasi akses media sosial untuk anak berusia di bawah 16 tahun. Kebijakan ini mencerminkan pentingnya perlindungan anak dalam ruang digital, terutama agar perkembangan mereka tidak dikorbankan oleh paparan teknologi yang belum sesuai dengan usia dan kesiapan mereka.

Ruang digital dapat menjadi bagian dari perkembangan zaman, tetapi kebutuhan dasar anak tetap tidak berubah: mereka memerlukan percakapan, perhatian, gerak, permainan, dan hubungan yang hangat dengan orang-orang di sekitarnya. Menjaga agar penggunaan gawai tidak menggeser kebutuhan-kebutuhan itu menjadi langkah penting bagi keluarga dalam mendampingi anak tumbuh dan berkembang.

Frequently Asked Questions

What is IDAI Ungkap Bahaya Screen Time Berlebihan?

IDAI Ungkap Bahaya Screen Time Berlebihan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does IDAI Ungkap Bahaya Screen Time Berlebihan matter?

IDAI Ungkap Bahaya Screen Time Berlebihan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment