Lifestyle

Merasa Sehat Lalu Stop Obat Hipertensi? Dokter Ungkap Dampaknya pada Jantung

codex-6c3f84f1de5d4f8cb2bb223010aeab78
Foto : Elizabeth Jones - nusantaranews1.com
Daftar Isi
  1. Jangan Hentikan Obat Hipertensi Saat Tubuh Terasa Baik
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Jangan Hentikan Obat Hipertensi Saat Tubuh Terasa Baik

Nusantaranews1.com – Tekanan darah yang tampak terkendali tidak selalu berarti hipertensi telah hilang. Rasa bugar, tidak pusing, atau tidak adanya keluhan bukan alasan untuk menghentikan obat tekanan darah tinggi tanpa pemeriksaan dan arahan dokter. Hipertensi dapat kembali meningkat secara diam-diam ketika pengobatan dihentikan, lalu memberi dampak serius pada jantung, ginjal, serta organ vital lain.

Pesan ini mengemuka dalam rangkaian konferensi pers World Heart Day di Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026). Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals TB Simatupang, Profesor Dr dr Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), menekankan bahwa hipertensi perlu dikendalikan dalam jangka panjang.

Berbeda dari keluhan ringan seperti pilek yang dapat reda setelah terapi singkat, hipertensi membutuhkan pemantauan berkelanjutan. Pasien bisa saja merasa sehat ketika obat diminum rutin karena tekanan darah sedang terkontrol. Namun, penghentian obat secara sepihak dapat membuat tekanan darah naik kembali tanpa tanda yang mudah dikenali.

Hipertensi Dapat Merusak Organ Tanpa Gejala Jelas

Hipertensi dikenal sebagai silent disease karena sering tidak memunculkan gejala khas. Seseorang dapat tetap beraktivitas seperti biasa, padahal tekanan darahnya berada di atas batas aman. Situasi inilah yang membuat pemeriksaan tekanan darah berkala penting, terutama bagi orang yang sudah memiliki riwayat hipertensi.

Tekanan darah tinggi yang terus tidak terkendali dapat menimbulkan target organ damage atau kerusakan pada organ sasaran. Ginjal dan jantung termasuk organ yang rentan terdampak. Kerusakan tersebut dapat berkembang perlahan, sehingga keluhan baru terasa ketika kondisi telah memburuk.

“Termasuk yang paling sering adalah ginjal, kerusakan ginjal. Coba deh main-main ke unit cuci darah. Mayoritas adalah penderita hipertensi yang tidak minum obat. Iya. Bukan karena sebab lain, mayoritas karena hipertensi. Tanya sama dokter ginjal,” kata Prof Yoga.

Pesan tersebut menggambarkan bahwa pengendalian hipertensi tidak boleh dilihat hanya dari ada atau tidaknya gejala. Kepatuhan minum obat merupakan bagian dari upaya melindungi fungsi organ dalam jangka panjang, bersama pemeriksaan rutin dan evaluasi medis.

Risiko Tekanan Darah Naik Lagi Setelah Obat Dihentikan

Prof Yoga mencontohkan hasil penelitian pada pasien hipertensi yang sebelumnya telah mencapai tekanan darah terkontrol dengan obat antihipertensi. Dalam penelitian itu, pasien dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok melanjutkan pengobatan, sedangkan kelompok lain menghentikannya.

Kelompok yang tetap menjalani terapi menunjukkan kondisi yang lebih baik. Sebaliknya, penghentian obat disertai kenaikan tekanan darah kembali serta munculnya komplikasi, termasuk gangguan ginjal dan pembesaran jantung.

“Ada satu penelitian bagus, orang-orang hipertensi dikasih antihipertensi, terkontrol. Kemudian dibagi dua kelompok: satu meneruskan obatnya, satu berhenti. Ternyata kelompok yang meneruskan obatnya bagus. Yang berhenti obat tentu tensinya naik lagi, gagal ginjal, jantungnya bengkak, itu terjadi,” kata Prof Yoga.

Karena itu, perubahan dosis, jenis obat, maupun keputusan untuk berhenti minum obat perlu dibicarakan terlebih dahulu dengan dokter. Penyesuaian terapi memang dapat dilakukan bila diperlukan, tetapi harus melalui penilaian kondisi pasien secara menyeluruh.

Sekitar 80 persen pasien hipertensi memerlukan lebih dari satu macam obat untuk membantu menjaga tekanan darah dalam target. Kebutuhan setiap orang tidak sama. Dokter akan mempertimbangkan kondisi kesehatan, respons terhadap terapi, serta evaluasi medis saat menentukan kombinasi dan dosis yang sesuai.

Skrining dan Kepatuhan Pengobatan Perlu Menjadi Kebiasaan

Pengendalian hipertensi juga berkaitan dengan upaya mencegah penyakit kritis. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menyampaikan bahwa program kesehatan menaruh perhatian pada penurunan kesakitan dan kematian akibat kanker, penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal.

“Program kesehatan fokus pada upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian KJSU: kanker, jantung, stroke, dan ginjal. Salah satu yang kita lakukan adalah menjaga hipertensi, DM, gangguan lipid, dan juga obesitas,” kata dr Siti Nadia.

Skrining kesehatan rutin membantu menemukan tekanan darah tinggi lebih awal, termasuk pada orang yang belum merasakan keluhan. Bagi pasien yang telah memperoleh diagnosis hipertensi, disiplin mengikuti anjuran medis menjadi langkah penting agar tekanan darah tetap stabil.

Pasien juga perlu memahami bahwa keberhasilan terapi bukan semata-mata ditandai dengan tubuh yang terasa nyaman. Hasil pemeriksaan tekanan darah dan evaluasi dokter tetap menjadi dasar untuk menilai apakah pengobatan perlu diteruskan, disesuaikan, atau diubah.

Menjaga hipertensi tetap terkontrol sejak dini dapat membantu menekan risiko komplikasi pada jantung, ginjal, stroke, dan organ vital lainnya. Bila muncul keinginan untuk mengurangi atau menghentikan obat, langkah paling aman adalah berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, bukan mengambil keputusan sendiri.

Frequently Asked Questions

What is Merasa Sehat Lalu Stop Obat Hipertensi?

Merasa Sehat Lalu Stop Obat Hipertensi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Merasa Sehat Lalu Stop Obat Hipertensi matter?

Merasa Sehat Lalu Stop Obat Hipertensi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment