News

Kisah Prajurit Kopassus Ditertawakan gegara Bermimpi Jadi Jenderal, Buktikan Diri Jabat KSAD

codex-3fee3a98e552442d8b7aa3e60362a390
Foto : Patricia Rodriguez - nusantaranews1.com
Daftar Isi
  1. Tekad Anak Desa Piyungan yang Menembus Pucuk Pimpinan TNI AD
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Tekad Anak Desa Piyungan yang Menembus Pucuk Pimpinan TNI AD

Nusantaranews1.com – Perjalanan Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo, atau Subagyo HS, menunjukkan bahwa latar belakang sederhana tidak menghentikan seseorang untuk membangun cita-cita besar. Ketika masih menjadi perwira menengah di lingkungan Kopassus, keinginannya untuk menjadi jenderal pernah disambut sinis oleh kawan-kawan lamanya. Bertahun-tahun kemudian, ia membuktikan keyakinan itu dengan mencapai posisi Kepala Staf Angkatan Darat atau KSAD.

Subagyo dilantik sebagai KSAD pada 16 Februari 1998. Sebelum menduduki jabatan tertinggi di Angkatan Darat tersebut, ia juga pernah memimpin Korps Baret Merah sebagai Komandan Jenderal Kopassus pada periode 1994-1995.

Ucapan Saat Makan Bakmi yang Menjadi Pemantik

Kisah tekad Subagyo bermula saat ia masih berpangkat letnan kolonel. Dalam sebuah pertemuan bersama teman-teman masa lalu di Kauman, Yogyakarta, mereka menikmati bakmi goreng sambil berbincang santai. Pada kesempatan itu, Subagyo menyampaikan ambisinya untuk kelak menyandang pangkat jenderal.

Reaksi yang ia dapatkan tidak seperti yang diharapkan. Sejumlah temannya menganggap impian itu terlalu tinggi, lalu menanggapinya dengan tawa dan nada mengejek. Carmelia Sukmawati dalam buku Subagyo HS KASAD dari Piyungan menggambarkan respons tersebut sebagai berikut.

“Mendengar itu (cita-cita Subagyo), rekan-rekannya spontan menanggapi dengan nada sinis dibarengi gelak tawa.”

Keraguan itu muncul karena teman-temannya mengenal kondisi keluarga Subagyo sejak lama. Ia dibesarkan di desa dengan keadaan ekonomi yang terbatas. Rosil, sahabat Subagyo yang kemudian dikenal sebagai pengusaha di Yogyakarta serta aktivis Muhammadiyah, mengingat keyakinan kuat yang dimiliki rekannya itu.

“Waktu itu Subagyo sudah sangat yakin dirinya akan bisa menjadi jenderal. Tapi teman-temannya tidak ada yang percaya. Bagaimana mungkin dia bisa mewujudkan impiannya itu, kami tahu latar belakangnya.”

Ejekan tersebut sempat membuat Subagyo tersinggung. Ia semula mengharapkan doa dan dukungan, tetapi pengalaman itu justru berubah menjadi dorongan pribadi untuk bekerja lebih keras. Dalam hatinya, ia menegaskan tekad yang kelak menjadi kenyataan.

“Suk, aku dadi bintang papat (besok, aku jadi bintang empat),” kata Bagyo dalam hati.

Masa Kecil di Rumah Berdinding Gedek

Subagyo lahir di Desa Piyungan, Kabupaten Bantul, pada 12 Juni 1946. Lokasi desa itu berada sekitar 15 kilometer di timur Yogyakarta. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara, putra Yakub Hadi Siswoyo dan Sukiyah.

Saat lahir, namanya hanya Subagyo. Tambahan Hadi Siswoyo belum melekat pada namanya. Nama Subagyo memiliki arti tersendiri: “su” dimaknai sebagai lebih, sedangkan “bagyo” berarti bahagia.

Keluarga tersebut menjalani kehidupan sederhana. Rumah mereka berdinding gedek atau anyaman bambu dengan lantai tanah. Untuk menopang kebutuhan keluarga, Sukiyah berdagang di pasar. Sementara itu, Yakub bekerja sebagai juru penerang di Djawatan Penerangan.

Latar kehidupan inilah yang membuat pencapaian Subagyo memiliki makna kuat. Cita-cita menjadi perwira tinggi bukan sekadar keinginan memperoleh jabatan, melainkan pembuktian bahwa anak desa dapat membuka jalan melalui ketekunan dan pengabdian.

Promosi Bintang Satu dan Jalan ke Kopassus

Setelah menjalani lebih dari dua dekade karier militer, lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) 1970 itu memperoleh kenaikan pangkat penting pada Mei 1994. Kolonel Inf Subagyo resmi menjadi brigadir jenderal, atau pemegang satu bintang.

Ia tercatat sebagai lulusan Akabri 1970 pertama yang mendapatkan promosi ke pangkat tersebut. Kenaikan itu membuka babak baru dalam perjalanan kariernya di Angkatan Darat.

Pada akhir Agustus 1994, ketika menjabat Kepala Dinas Pengamanan dan Sandi Angkatan Darat (Kadispamad), Subagyo dipercaya menggantikan Brigjen TNI Agum Gumelar sebagai Danjen Kopassus. Penunjukan itu menarik perhatian karena namanya sebelumnya tidak banyak diperhitungkan sebagai kandidat utama pemimpin pasukan elite tersebut.

Subagyo sendiri pernah memandang rekan seangkatannya di Akabri 1970, Luhut Binsar Panjaitan, sebagai sosok yang berpeluang memimpin Kopassus. Luhut merupakan peraih Adhi Makayasa dan ketika itu bertugas sebagai Asisten Operasi Kopassus.

“Sewaktu masih kolonel dan menjadi Komandan Grup A Paswalpres (kini Paspampres), Subagyo mendukung Asisten Operasi Kopassus saat itu, Luhut Binsar Panjaitan, untuk menjadi Danjen Kopassus,” kata Carmelia.

Apabila Luhut menjadi Danjen Kopassus, Subagyo sempat berharap mendapat penugasan sebagai salah satu panglima divisi Kostrad. Namun, penempatan yang akhirnya diputuskan justru membawanya memimpin Kopassus.

Puncak Karier di Angkatan Darat

Kepercayaan memimpin Kopassus menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan Subagyo. Pengalamannya terbentuk dari berbagai penugasan, termasuk di Paswalpres, Bais ABRI, Dispamad, serta satuan yang berkaitan dengan Kopassus.

Setelah sekitar satu tahun menjadi Danjen Kopassus pada 1994-1995, ia kembali memperoleh promosi jabatan sebagai Pangdam IV/Diponegoro untuk periode 1995-1997. Rangkaian tugas tersebut menjadi bagian dari lintasan karier yang akhirnya mengantarkannya ke kursi KSAD pada 1998.

Kisah Subagyo HS menempatkan keteguhan sebagai inti perjalanannya. Tawa yang pernah diterimanya di sebuah pertemuan sederhana di Yogyakarta tidak menghentikan langkahnya. Sebaliknya, pengalaman itu ia jadikan alasan untuk membuktikan bahwa impian besar dapat dikejar, termasuk oleh seseorang yang memulai hidup dari rumah berdinding bambu di Piyungan.

Frequently Asked Questions

What is Kisah Prajurit Kopassus Ditertawakan gegara Bermimpi?

Kisah Prajurit Kopassus Ditertawakan gegara Bermimpi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kisah Prajurit Kopassus Ditertawakan gegara Bermimpi matter?

Kisah Prajurit Kopassus Ditertawakan gegara Bermimpi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment