News

Jenazah Pria Ditemukan di Pulau Enggano, Polisi Cocokkan DNA Keluarga Jurnalis dan Kru Kapal Hilang Kontak

codex-615d5b6820a7478f9ddba6c64c12a4a2
Foto : Jessica Moore - nusantaranews1.com
Daftar Isi
  1. Polisi Telusuri Identitas Jenazah Pria yang Ditemukan di Pulau Enggano
  2. Pencarian di Selat Sunda Diperpanjang
  3. Menunggu Kepastian Forensik
  4. Related Reading
  5. Frequently Asked Questions

Polisi Telusuri Identitas Jenazah Pria yang Ditemukan di Pulau Enggano

Nusantaranews1.com – Penemuan jenazah seorang pria tanpa identitas di Pulau Enggano, Bengkulu, kini menjadi perhatian dalam pencarian delapan orang yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Aparat kepolisian masih melakukan autopsi serta pemeriksaan lanjutan untuk memastikan siapa pria tersebut.

Polda Banten menyiapkan pencocokan DNA jenazah dengan sampel dari keluarga lima jurnalis dan tiga kru kapal yang belum ditemukan. Langkah ini ditujukan untuk menjawab kemungkinan adanya keterkaitan antara temuan di Pulau Enggano dan rombongan yang sedang dicari.

Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea menyampaikan bahwa proses identifikasi belum dapat disimpulkan sebelum hasil pemeriksaan DNA tersedia. Sampel pembanding telah diambil dari keluarga orang-orang yang hilang kontak.

“Kita menunggu pencocokan DNA yang sudah diambil dari keluarga teman-teman yang hilang kontak. Kita akan melakukan pencocokan, kami mohon waktu untuk bisa menjelaskan setelah keluar hasil cek DNA dari Polda Bengkulu,” kata Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Ahiles Hutapea, Senin (14/9/2026).

Ciri Awal Jenazah

Pemeriksaan awal menunjukkan jenazah tersebut berjenis kelamin laki-laki. Tingginya diperkirakan sekitar 165 sentimeter, sementara usianya diduga lebih dari 50 tahun. Kondisi wajah jenazah disebut mengalami kerusakan, sehingga pengenalan secara visual menjadi terbatas dan pemeriksaan forensik memiliki peran penting dalam pengungkapan identitasnya.

“Jenis kelamin mayat yang di Pulau Enggano itu berjenis kelamin laki-laki, tinggi lebih kurang 165 cm, kemudian mukanya sedikit hancur, kulitnya biasa, umur diperkirakan di atas 50 tahun,” sambungnya.

Pencocokan DNA dilakukan untuk menilai apakah jenazah itu memiliki hubungan dengan salah satu dari delapan orang yang hilang kontak. Proses tersebut menjadi bagian penting karena identifikasi tidak hanya bergantung pada ciri fisik, terutama ketika kondisi jenazah menyulitkan pengenalan langsung.

Hingga hasil uji DNA keluar, status identitas jenazah masih belum dapat dipastikan. Aparat meminta waktu agar pemeriksaan berjalan tuntas dan informasi yang disampaikan kepada keluarga maupun publik dapat didasarkan pada hasil yang telah diverifikasi.

Pencarian di Selat Sunda Diperpanjang

Di sisi lain, operasi pencarian dan pertolongan bagi lima jurnalis serta tiga kru kapal di perairan Selat Sunda diperpanjang selama tiga hari. Keputusan itu diambil setelah tim SAR gabungan melakukan evaluasi seusai satu pekan operasi berlangsung.

Pencarian pada Senin (14/9/2026), yang merupakan hari ketujuh operasi, belum membuahkan hasil. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad menyatakan evaluasi pada hari itu masih belum menemukan tanda keberadaan rombongan tersebut.

“Evaluasi operasi hasil SAR hari ketujuh masih nihil,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad di Posko SAR Gabungan Marina Carita, Banten, Senin (14/9/2026).

Perpanjangan waktu pencarian dilakukan setelah rapat evaluasi yang turut dihadiri Gubernur Banten Andra Soni. Dengan tambahan tiga hari, operasi SAR tetap berfokus pada upaya menemukan delapan orang yang belum dapat dihubungi sejak hilang kontak di kawasan Selat Sunda.

Operasi pencarian merupakan upaya yang berbeda dari proses identifikasi jenazah di Pulau Enggano, tetapi keduanya berkaitan melalui pemeriksaan DNA yang sedang disiapkan. Hasil forensik nantinya akan membantu menentukan apakah temuan jenazah tersebut berhubungan dengan pencarian yang berlangsung di perairan Selat Sunda atau tidak.

Delapan Orang yang Masih Hilang Kontak

Rombongan yang masih dalam pencarian terdiri atas lima jurnalis serta tiga orang yang berkaitan dengan operasional kapal dan pendampingan perjalanan. Mereka adalah:

Yudistiro Pranoto, jurnalis atau pewarta foto iNews; Firdaus Wajidi, jurnalis Anadolu Agency; Donal Husni, jurnalis freelance; M. Bagus Khoirunnas, pewarta foto Antara; serta Arie Basuki, pewarta foto Merdeka.com.

Tiga orang lainnya ialah Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai kru kapal atau ABK, dan Heriyanto yang bertugas sebagai guide atau pemandu.

Penyebutan identitas tersebut penting untuk membedakan peran setiap orang dalam rombongan yang dicari. Namun, keberadaan mereka semua hingga Senin, 14 September 2026, masih belum diketahui dan operasi SAR belum menghasilkan temuan.

Menunggu Kepastian Forensik

Hasil pencocokan DNA akan menjadi salah satu penentu utama dalam identifikasi jenazah pria yang ditemukan di Pulau Enggano. Pemeriksaan ini diperlukan agar tidak muncul kesimpulan terburu-buru hanya dari perkiraan usia, tinggi badan, atau kondisi fisik jenazah.

Sementara proses forensik berlangsung, pencarian di Selat Sunda tetap diteruskan dalam masa perpanjangan operasi. Keluarga delapan orang yang hilang kontak masih menanti kabar pasti, baik dari kerja tim SAR di lapangan maupun hasil pemeriksaan kepolisian terhadap jenazah tanpa identitas tersebut.

Frequently Asked Questions

What is Jenazah Pria Ditemukan di Pulau Enggano?

Jenazah Pria Ditemukan di Pulau Enggano is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Jenazah Pria Ditemukan di Pulau Enggano matter?

Jenazah Pria Ditemukan di Pulau Enggano matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment