Anggota DPRD DKI Dukung Usulan Tiket Masuk Ragunan Jadi Rp10.000: 20 Tahun Tak Pernah Naik
Daftar Isi
Tiket Masuk Ragunan Akan Naik ke Rp10.000 Setelah Dua Dekade Stagnan
Nusantaranews1.com – Setelah dua puluh tahun tanpa perubahan sepeser pun, tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan (TMR) di Jakarta Selatan akhirnya akan mengalami penyesuaian. Komisi C DPRD DKI Jakarta dan pihak pengelola kebun binatang tersebut telah menyepakati arah kebijakan kenaikan harga tiket, dengan angka yang diproyeksikan mencapai Rp10.000 per pengunjung. Langkah ini diambil di tengah kondisi ekonomi warga ibu kota yang terus bergerak naik, sementara harga masuk kawasan konservasi satwa itu masih tertinggal jauh dari realitas pasar.
Dasar Penyesuaian: Kesenjangan Tarif dan Kebutuhan Fasilitas
Dimaz Raditya, Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, menjelaskan bahwa tarif tertinggi yang berlaku saat ini baru Rp4.000. Angka tersebut, menurutnya, sudah tidak lagi mencerminkan daya beli masyarakat maupun biaya operasional sebuah kawasan wisata berbasis satwa. Dalam keterangannya pada Sabtu (5/9/2026), Dimaz menegaskan bahwa kajian angka akhir masih berlangsung, namun arah kebijakan sudah jelas.
“Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara, kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat. Tarif sekarang paling mahal Rp4.000. Rencana akan dinaikkan menjadi Rp10.000, tetapi masih terus kami kaji perihal angka.”
Sebagai pembanding, Dimaz menyebut bahwa Rp10.000 masih berada dalam rentang wajar jika diukur terhadap biaya masuk destinasi wisata lain di Jakarta, seperti kawasan Ancol maupun Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dengan kata lain, penyesuaian ini tidak akan membebani kantong pengunjung secara signifikan.
Keamanan Kandang Jadi Pemicu Utama
Di balik argumen finansial, terdapat pemicu konkret yang mempercepat pembahasan kenaikan tarif. Pada Mei 2026, seorang anak terjatuh ke area kandang gajah di dalam kawasan Ragunan. Insiden itu menjadi sorotan dan memicu evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan fasilitas kandang.
Hardiyanto Kenneth, anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, menyebut kejadian tersebut sebagai catatan serius yang tidak bisa diabaikan. Ia menekankan bahwa peningkatan standar keamanan kandang harus berjalan seiring dengan penyesuaian tarif.
“Beberapa waktu lalu ada anak yang terjatuh ke area kandang gajah. Nah, ini menjadi salah satu catatan kami dan kami berharap standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif.”
Mengurangi Ketergantungan pada APBD
Salah satu motivasi terbesar di balik kenaikan tarif adalah menekan porsi subsidi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta yang selama ini menopang operasional Ragunan. Saat ini, sekitar 70 persen dari total biaya operasional kawasan masih ditanggung oleh anggaran daerah. Artinya, dari setiap rupiah yang dibutuhkan untuk menjalankan kebun binatang, tujuh puluh sen berasal dari pajak warga, bukan dari tiket pengunjung.
Kenneth, yang juga Alumni PPRA Lemhannas RI Angkatan LXII, berharap penyesuaian tarif mampu mendorong Ragunan menuju kemandirian finansial. Efisiensi anggaran yang tercipta, lanjutnya, dapat dialihkan ke program-program lain yang lebih mendesak bagi warga Jakarta.
“Harapan kami dengan adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa mandiri secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain yang lebih membutuhkan.”
Alokasi Pendapatan Tambahan: Dari Sanitasi hingga Pemuliaan Satwa
Berdasarkan hasil inspeksi lapangan yang dilakukan pada Kamis sore, Kenneth merinci sejumlah kebutuhan vital yang harus segera diatasi dengan tambahan pendapatan. Daftar itu mencakup perbaikan sanitasi, kebersihan fasilitas toilet pengunjung, serta program pemuliaan satwa yang selama ini berjalan terbatas.
Salah satu contoh konkret yang ia angkat adalah kasus seekor gorila jantan di Ragunan yang hingga kini belum memiliki pasangan. Kenneth mendorong agar skema pertukaran satwa antar kebun binatang dapat direalisasikan sehingga gorila betina dapat dihadirkan dan proses reproduksi berjalan secara alami. Selain itu, kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
“Kondisi satwa harus tetap prima. Bahkan untuk satwa besar seperti gorila jantan yang saat ini belum memiliki pasangan, kita dorong agar ada skema pertukaran satwa antar kebun binatang agar bisa mendapatkan gorila betina sehingga mereka bisa berkembang biak dengan layak. Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga harus diperhatikan. Semua ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.”
Ketimpangan Jumlah Dokter Hewan
Isu lain yang mendapat sorotan tajam adalah rasio dokter hewan terhadap populasi satwa. Taman Margasatwa Ragunan menaungi lebih dari 2.200 ekor satwa dari berbagai spesies, namun hanya diampu oleh delapan orang dokter hewan. Proporsi tersebut dinilai sangat timpang dan berisiko bagi kesehatan populasi satwa secara keseluruhan.
“Ada lebih dari 2.200 jumlah satwa di Taman Margasatwa Ragunan, tetapi jumlah dokter hewannya hanya berjumlah 8 orang, kan timpang sekali ini. Kalau penyesuaian tarif tiket masuk bisa menambah pemasukan, maka penambahan dokter hewan harus menjadi hal prioritas yang wajib dilakukan.”
Pandangan Pengelola: Bukan Komersialisasi, Melainkan Reorientasi Layanan
Kepala Taman Margasatwa Ragunan, drh. Endah Rumiyanti, menyambut positif wacana penyesuaian tarif. Ia mengungkapkan bahwa kebutuhan anggaran operasional tahunan kawasan mencapai sekitar Rp160 miliar, sementara pendapatan mandiri yang berhasil dikumpulkan baru berkisar Rp30 miliar per tahun. Selisih sekitar 70 persen tersebut selama ini ditutupi oleh subsidi pemerintah daerah.
“Total kebutuhan anggaran operasional kami per tahunnya mencapai sekitar Rp160 miliar, tapi pendapatan mandiri yang mampu kami kumpulkan baru sekitar Rp30 miliar per tahun. Artinya, tingkat subsidi dari pemerintah daerah masih berada di kisaran 70 persen.”
Endah menegaskan bahwa kenaikan tarif tidak dimaksudkan sebagai langkah komersialisasi kawasan. Kebijakan ini merupakan upaya reorientasi pelayanan publik agar Ragunan mampu merealisasikan masterplan pengembangan kawasan secara bertahap dan sistematis. Fokus utama yang akan dikejar meliputi pembenahan fasilitas pendukung, perbaikan serta pemeliharaan kandang satwa, dan penataan ulang sistem zonasi kawasan sesuai masterplan yang telah disusun.
“Bila penyesuaian tarif ini terlaksana, fokus utama kami adalah pembenahan fasilitas pendukung, perbaikan serta pemeliharaan kandang satwa, hingga penataan sistem zonasi kawasan berdasarkan masterplan yang telah disusun. Goal utamanya adalah menghadirkan ruang terbuka hijau dan kebun binatang berstandar internasional.”
Bagi warga Jakarta, penyesuaian tarif ini pada dasarnya merupakan investasi jangka panjang terhadap kualitas pengalaman berkunjung sekaligus keberlangsungan konservasi satwa. Dengan lebih dari 2.200 ekor satwa yang menjadi tanggung jawab kawasan, setiap rupiah tambahan dari tiket masuk berpotensi mengubah wajah Ragunan dari sekadar kebun binatang tua menjadi institusi konservasi modern yang mandiri secara finansial dan aman bagi pengunjung dari segala usia.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Anggota DPRD DKI Dukung Usulan Tiket?
Anggota DPRD DKI Dukung Usulan Tiket is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Anggota DPRD DKI Dukung Usulan Tiket matter?
Anggota DPRD DKI Dukung Usulan Tiket matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.