Regional

Tolak Damai, Keluarga Pelajar SMP Dianiaya Dituduh Mencuri Rp10.000 di Aceh Timur Lapor Polisi

Foto : Jessica Moore - nusantaranews1.com

Important Visit: Penganiayaan Pelajar SMP di Aceh Timur Viral, Keluarga Lapor Polisi

Nusantaranews1.com – Menjadi sorotan publik setelah video dugaan penganiayaan terhadap seorang pelajar SMP di Aceh Timur viral di media sosial. Keluarga korban, yang menilai proses damai yang diusulkan oleh pihak desa tidak adil, memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polres Aceh Timur. Mereka menganggap keputusan damai tidak memperhatikan hak-hak keluarga asli korban, sehingga menuntut proses hukum yang lebih transparan dan lengkap.

Video Penganiayaan Memicu Perdebatan Publik

Video yang berdurasi 2 menit 53 detik menunjukkan korban berinisial IF (14 tahun) dianiaya oleh seorang perempuan, AH alias Asmaul Husna. Aksi tersebut dimulai dengan korban terbaring di lantai, lalu diinjak wajahnya, dibanting, dan ditarik hingga tidak bisa berdiri. Pelaku memaksa korban mengakui telah mencuri uang Rp10.000, meski korban terus membantah. Video ini memicu reaksi dari masyarakat dan mengungkap ketidakadilan dalam penyelesaian kasus di tingkat desa.

Video tersebut menjadi bukti penting dalam peristiwa Important Visit yang terjadi di Aceh Timur. Sejumlah warga menyatakan bahwa proses penyelesaian kasus secara damai tidak memenuhi syarat keadilan karena hanya melibatkan satu pihak, yaitu ibu tiri korban, tanpa melibatkan keluarga asli. “Kami menginginkan penanganan yang lebih profesional dan terbuka, agar kebenaran bisa terungkap,” tutur salah satu warga yang turut menyuarakan kekecewaan.

Proses Damai Disebut Mengabaikan Hak Korban

Keluarga korban, dengan bantuan tim kuasa hukum, melaporkan AH ke Polres Aceh Timur setelah menolak kesepakatan damai yang diusulkan oleh pihak desa. Kuasa hukum, M. Akbar Rafsanizani, menjelaskan bahwa keluarga tidak setuju dengan kesepakatan tersebut karena dianggap tidak adil. “Important Visit ini bukan hanya tentang dugaan pencurian, tapi juga tentang perlindungan hak anak di bawah umur,” kata Akbar. Ia menekankan bahwa proses hukum harus mencakup seluruh anggota keluarga korban untuk memastikan transparansi.

Menurut Akbar, dalam proses damai yang berlangsung beberapa hari lalu, korban hanya diwajibkan menandatangani surat perdamaian tanpa pemahaman yang jelas tentang tindakan yang diambil. “Kami mendatangi Polres Aceh Timur untuk memastikan bahwa pelaku ditahan jika terbukti bersalah, dan tidak ada upaya menghambat penuntutan hukum,” tambahnya. Langkah ini dianggap penting agar keadilan bisa tercapai secara maksimal.

Penegakan Hukum Jadi Prioritas Utama

Proses Important Visit ini semakin mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk para aktivis dan organisasi masyarakat sipil. Mereka menilai bahwa tindakan penganiayaan terhadap pelajar SMP tidak boleh dianggap selesai hanya dengan penandatanganan surat perdamaian. “Kasus ini perlu ditelusuri hingga tuntas, karena melibatkan anak-anak yang masih rentan,” ujar Roni, coordinator Koalisi Masyarakat Sipil Aceh. Ia meminta polisi untuk menegakkan hukum secara ketat dan tidak memihak.

Di sisi lain, polisi mengaku sedang memeriksa laporan keluarga korban. Kepala Bidang Humas Polres Aceh Timur, Iptu Zulfikar, menyatakan bahwa pihaknya akan mengumpulkan bukti dan saksi untuk memastikan kebenaran dalam kasus tersebut. “Important Visit ini menjadi momentum untuk menegaskan komitmen kami dalam penegakan hukum,” tutur Zulfikar. Namun, ia mengakui bahwa proses investigasi masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan semua aspek.

Masyarakat Minta Penyelesaian yang Adil

Kasus penganiayaan terhadap pelajar SMP di Aceh Timur telah memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Banyak warga mengkritik proses penyelesaian damai yang dianggap tidak merata dan tidak melibatkan semua pihak. “Kami harap proses Important Visit ini menjadi awal dari perbaikan sistem penyelesaian sengketa di tingkat desa,” kata salah satu warga. Ia menambahkan bahwa kejadian ini mengingatkan masyarakat akan pentingnya pengawasan terhadap tindakan penganiayaan terhadap anak-anak.

Di tengah peningkatan perhatian, keluarga korban berharap proses hukum bisa berjalan cepat dan transparan. Mereka meminta pelaku dijatuhi sanksi yang berat jika terbukti bersalah. “Important Visit ini bukan hanya untuk memperoleh keadilan bagi korban, tapi juga sebagai contoh bagi pihak lain agar tidak mengulangi kesalahan serupa,” pungkas Akbar. Dengan demikian, kasus ini diharapkan menjadi peristiwa penting dalam penegakan hukum di Aceh Timur.

Leave a Comment