Perubahan Iklim Menjadi Tantangan Baru Stabilitas Listrik di Sumatra
Facing Challenges – Dalam konteks peristiwa black out yang terjadi di Sumatra, Kevin Marojahan Banjar Nahor, pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengingatkan bahwa perubahan iklim semakin menjadi faktor kritis yang memengaruhi kestabilan sistem tenaga listrik. Menurutnya, kejadian gangguan pada jaringan interkoneksi besar tidak hanya disebabkan oleh faktor teknis, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang terus berubah, terutama dalam skala besar.
Peran Cuaca dan Faktor Lingkungan
“Kondisi cuaca menjadi salah satu parameter penting dalam pengoperasian jaringan transmisi,” kata Kevin, mengutip pernyataan dari hari Sabtu (30/5/2026).
Kevin menjelaskan bahwa faktor lingkungan seperti suhu, kecepatan angin, curah hujan, dan kelembapan memiliki dampak signifikan terhadap sifat mekanis dan kelistrikan konduktor. Perubahan iklim telah mengubah pola cuaca, menghasilkan variasi yang lebih tidak terduga, sehingga memperparah kompleksitas dalam mengelola sistem tenaga. “Gangguan bersifat probabilistik, dan kejadian lokal bisa berkembang menjadi kegagalan berantai jika memengaruhi aliran energi,” tambahnya.
Salah satu contoh yang sering muncul adalah pengaruh suhu tinggi yang mempercepat penguapan minyak pelumas pada peralatan transmisi. Di sisi lain, badai atau angin kencang juga dapat menyebabkan kerusakan pada infrastruktur listrik, terutama di wilayah yang rawan bencana. Kevin menekankan bahwa operator jaringan harus bersiap menghadapi tantangan ini dengan strategi yang lebih adaptif.
Strategi untuk Meningkatkan Ketahanan Sistem
Kevin mengungkapkan bahwa sistem proteksi otomatis adalah alat penting untuk meminimalkan risiko kerusakan lebih luas saat terjadi gangguan. “Fungsi utama sistem ini adalah mencegah black out total dan memastikan keselamatan peralatan pembangkit serta transmisi,” jelasnya.
Dalam upaya menghadapi Facing Challenges yang diakibatkan perubahan iklim, Kevin menyoroti pentingnya teknologi pemantauan real-time, analisis data canggih, dan inspeksi menggunakan drone. Teknologi ini dapat membantu mendeteksi masalah sebelum terjadi kegagalan besar, serta mempercepat respons darurat. Selain itu, penggunaan bahan konduktor yang tahan terhadap fluktuasi cuaca dan peningkatan kapasitas jaringan listrik juga dianggap sebagai solusi strategis.
Kemajuan dalam teknologi dan pengelolaan sistem tenaga listrik tidak cukup hanya mengandalkan faktor teknis. Kevin menyatakan bahwa perubahan iklim memaksa operator jaringan untuk mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam rencana operasional. “Perubahan iklim mengubah paradigma dalam pengelolaan jaringan listrik, sehingga perlu adopsi pendekatan holistik,” ujarnya.
Di samping itu, Kevin menambahkan bahwa kejadian black out di Sumatra juga memberikan pelajaran bagi negara lain. “Ketahanan sistem tenaga terhadap fluktuasi cuaca menjadi fokus utama dalam pengembangan ketenagalistrikan modern,” tegasnya. Ini menunjukkan bahwa Facing Challenges dalam bidang energi bukan hanya masalah lokal, tetapi juga global yang memerlukan solusi kolektif.
Sebelumnya, investigasi awal oleh Bareskrim, Puslabfor, dan PLN menunjukkan bahwa gangguan di Sumatra kemungkinan berasal dari putusnya kabel transmisi di area sambungan atau mid span jointing. Faktor cuaca dan tekanan mekanis dikaitkan sebagai penyebab utama dari kejadian tersebut. Dengan adanya perubahan iklim, risiko seperti ini bisa meningkat, memaksa operator jaringan untuk lebih waspada dalam merancang infrastruktur.