News

Facing Challenges: Pramono Pastikan Harga Hewan Kurban di Jakarta Masih Stabil, Belum Ada Kenaikan

Facing Challenges: Jakarta Hewan Kurban Harga Stabil, Tidak Ada Kenaikan

Facing Challenges – Menyambut Hari Raya Iduladha, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memberikan jaminan bahwa harga hewan kurban tetap stabil tanpa kenaikan signifikan. Dalam pernyataannya, Pramono menekankan bahwa kota Jakarta masih menghadapi tantangan dalam menjaga kestabilan harga, tetapi pihaknya telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memastikan pasar tetap seimbang. “Kami belum menerima laporan mengenai peningkatan harga, sehingga kondisi pasar tetap terjaga dengan baik,” ujarnya dalam wawancara yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Persiapan Suplai Hewan Kurban

Pramono menyebutkan bahwa persiapan pasokan hewan kurban telah dimulai jauh hari guna memenuhi permintaan warga. Dengan bantuan Perumda Dharma Jaya, pihaknya mengupayakan distribusi yang merata dan mengurangi risiko kelangkaan. “Dengan stok yang aman, kita yakin harga tetap bisa terkendali meskipun ada peningkatan permintaan,” tambahnya. Menurut data terkini, total hewan kurban yang diperkirakan tersedia mencapai sekitar 20.000 ekor, termasuk sapi, kerbau, dan kambing, yang tersebar di berbagai daerah strategis di Jakarta.

“Mengenai teknis penjualan, kami tidak ingin sarana publik seperti trotoar dan fasilitas lainnya digunakan oleh para penjual hewan kurban. Sebab, nantinya akan berdampak luas bagi masyarakat dan lingkungan,”

ucap Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Ali Murthadho, dalam keterangan yang diambil dari Pemprov DKI Jakarta, Kamis (7/5/2026). Pemerintah setempat juga telah menerapkan aturan penggunaan fasos-fasum sebagai tempat jual beli hewan kurban. Langkah ini bertujuan meminimalkan gangguan terhadap kegiatan warga dan menjaga kebersihan lingkungan.

Strategi Pemantauan Harga

Untuk menghadapi tantangan kenaikan harga, pemerintah DKI Jakarta telah mengambil beberapa langkah terukur. Sejumlah instansi seperti lurah, camat, Satpol PP, Bina Marga, serta Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) ditugaskan memantau aktivitas penjualan. Pemantauan ini dilakukan secara berkala untuk memastikan harga tidak terpengaruh oleh tekanan pasar. “Kami mengharapkan semua pihak berperan aktif dalam menjaga stabilitas harga selama masa Iduladha,” jelas Pramono.

“Semua ini saling berkesinambungan, mulai dari masalah ketertiban umum, kebersihan, hingga sampah yang ditimbulkan yang dapat berdampak pada lingkungan dan kesehatan,”

kata Ali Murthadho. Ia menegaskan bahwa penggunaan fasos-fasum sebagai tempat jual beli tidak hanya mengganggu kegiatan warga, tetapi juga mencemari kualitas udara dan meningkatkan risiko kesehatan. Pemerintah berupaya mengarahkan penjual hewan kurban ke area yang lebih terencana, seperti pasar tradisional atau pusat pengumpulan.

Pemantauan harga juga dilengkapi dengan koordinasi antar dinas. Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian mengawasi harga hewan kurban di tingkat pedagang dan peternak. “Kami melakukan survei harga setiap hari untuk mendeteksi adanya fluktuasi awal, sehingga bisa diantisipasi lebih dini,” terang salah satu pejabat KPKP. Selain itu, pemerintah DKI Jakarta juga berupaya memastikan distribusi hewan kurban berjalan efisien agar tidak terjadi peningkatan biaya secara signifikan.

Dalam situasi pasar yang dinamis, stabilitas harga hewan kurban menjadi kunci bagi kepuasan masyarakat. Kenaikan harga bisa membebani konsumen, terutama untuk keluarga yang menghabiskan sebagian besar penghasilan untuk membeli hewan kurban. “Kami berharap seluruh warga Jakarta bisa membeli hewan kurban dengan harga terjangkau,” tambah Pramono. Pemprov DKI Jakarta juga mengimbau masyarakat agar memperhatikan keamanan dan kesehatan hewan kurban sebelum membelinya, terutama selama masa pandemi.

Sebagai upaya menjaga kestabilan pasar, pemerintah DKI Jakarta berkomitmen untuk melibatkan para peternak dalam menjaga kualitas dan harga hewan kurban. “Kerja sama dengan para peternak sangat penting dalam menghadapi tantangan ini,” ujarnya. Tantangan lain yang dihadapi mencakup fluktuasi cuaca, permintaan pasar yang meningkat, serta perubahan pola konsumsi masyarakat. Meskipun demikian, langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah diharapkan mampu menjaga harga tetap stabil hingga hari raya tiba.

Leave a Comment