Waspada! Ini Tanda-Tanda Kamu Terjebak dalam Abusive Relationship Menurut Psikolog
Nusantaranews1.com – Hubungan cinta idealnya memberikan kehangatan dan rasa aman bagi kedua belah pihak. Namun, banyak orang tidak sadar terjebak dalam hubungan yang dipenuhi kekerasan, atau disebut abusive relationship. Dosen Psikologi dari Universitas Islam Bandung, Stephani Raihana Hamdan, menjelaskan bahwa kekerasan dalam hubungan ini tidak selalu terjadi setiap hari dalam bentuk fisik. Sebaliknya, pola ulang yang terus-menerus sering kali membuat korban sulit mengenali situasi yang tidak sehat.
Menurut Stephani, salah satu ciri utama abusive relationship adalah siklus kekerasan yang berulang. Hubungan biasanya dimulai dengan fase romantis, lalu berubah menjadi pertengkaran dan perlakuan kasar. Setelah itu, pelaku akan meminta maaf dan kembali menunjukkan sikap penuh kasih.
“Tapi biasanya ada fase rekonsiliasi, pelaku meminta maaf dan hubungan kembali ke fase honeymoon. Karena itu korban sering memilih bertahan,”
kata Stephani kepada iNews.id.
Di samping siklus tersebut, kekerasan dalam hubungan ini cenderung berkembang secara perlahan. Korban mungkin awalnya hanya menerima perlakuan kasar ringan, namun seiring waktu, tingkat kekerasan bisa meningkat. Stephani menambahkan bahwa kondisi ini membuat korban kehilangan kemampuan untuk melihat hubungan secara objektif karena masih berharap pasangannya bisa berubah.
Karakteristik yang Meningkatkan Risiko
Stephani juga menyebutkan beberapa sifat yang membuat seseorang lebih rentan menjadi korban abusive relationship. Salah satunya adalah ketergantungan emosional yang tinggi terhadap pasangan. Korban yang merasa sangat terikat secara emosional sering kali mudah dimanipulasi, terlebih jika memiliki rasa tidak percaya diri atau rasa tidak aman.
Sementara itu, pelaku abusive relationship biasanya menunjukkan sifat dominan, agresif, serta berusaha mengendalikan kehidupan pasangan. “Ketika seseorang sangat bergantung kepada pasangannya lalu bertemu pasangan yang dominan, agresif, dan controlling, maka risikonya lebih besar masuk ke dalam hubungan yang tidak sehat,” jelas Stephani.
Stephani menegaskan bahwa penjelasan ini berdasarkan konsep psikologi dan hasil penelitian tentang abusive relationship. Analisis tersebut tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan terhadap kasus penyekapan dan penganiayaan yang kini viral serta masih dalam proses hukum. Ia berharap masyarakat semakin waspada dan mampu mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat sejak dini, agar bisa mencari bantuan sebelum kekerasan memburuk.
