Lifestyle

Menangis Disebut Detoks Alami, Menkes Ungkap Manfaat Air Mata bagi Tubuh

codex-e3bd0d395c6d4d2d997b8878615f376c
Foto : William Garcia - nusantaranews1.com
Daftar Isi
  1. Menangis Dapat Menjadi Ruang Pelepasan Emosi yang Alami
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Menangis Dapat Menjadi Ruang Pelepasan Emosi yang Alami

Nusantaranews1.com – Air mata sering kali dikaitkan dengan kesedihan, kerapuhan, atau kesulitan mengendalikan perasaan. Pandangan tersebut membuat sebagian orang memilih menahan tangis, terutama ketika berada di hadapan orang lain. Padahal, menangis dapat menjadi respons alami ketika seseorang menghadapi tekanan, duka, rasa sakit, frustrasi, maupun beban pikiran yang menumpuk.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa tangisan tidak seharusnya dipahami sebagai tanda kelemahan. Ia menyampaikan bahwa proses tersebut dapat memberi manfaat bagi kesehatan jiwa dan membantu tubuh merespons stres.

“Jangan salah, menangis itu ternyata ada manfaatnya loh buat kesehatan jiwa,” kata Budi, dikutip Kamis (1/10/2026).

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa emosi merupakan bagian dari pengalaman manusia. Rasa sedih, kecewa, takut, atau tertekan tidak selalu harus dipendam. Dalam kondisi tertentu, memberi diri sendiri kesempatan untuk menangis dapat membantu seseorang mengenali apa yang sedang dirasakan sebelum mengambil langkah berikutnya untuk menenangkan diri.

Air Mata dan Respons Tubuh terhadap Stres

Salah satu hal yang disoroti Budi adalah kaitan menangis dengan hormon kortisol. Hormon ini dikenal luas sebagai hormon stres karena berkaitan dengan reaksi tubuh saat seseorang berada dalam situasi penuh tekanan. Saat beban emosional meningkat, tubuh dapat menunjukkan beragam respons, termasuk ketegangan, sulit rileks, pikiran yang berputar-putar, hingga dorongan untuk menangis.

Budi menjelaskan bahwa keluarnya air mata dapat membantu tubuh menurunkan kortisol. Ia menggambarkan tangisan sebagai bentuk detoks alami yang terjadi melalui mekanisme tubuh sendiri.

“Pertama, fungsinya sebagai detoks alami. Dengan kita mengeluarkan air mata, tubuh kita bisa menurunkan hormon kortisol. Ini adalah hormon stres,” ujarnya.

Gagasan tentang menangis sebagai pelepasan emosi penting dilihat dalam konteks yang lebih luas. Tangisan bukan penyelesaian tunggal untuk setiap persoalan, tetapi bisa menjadi satu bagian dari cara seseorang merespons tekanan. Setelah menangis, sebagian orang mungkin merasa lebih lega, dapat menarik napas lebih teratur, atau lebih siap membicarakan masalah yang sebelumnya terasa berat.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan emosi. Ada yang menangis saat menghadapi kehilangan, ada pula yang baru menangis setelah tekanan berlangsung lama. Tidak semua kesedihan terlihat dari air mata, dan tidak semua orang yang menangis berarti tidak mampu menghadapi keadaan. Respons emosional seseorang perlu dipahami tanpa terburu-buru memberi penilaian.

Oksitosin dan Endorfin Disebut Ikut Meningkat

Selain kortisol, Budi menyebut aktivitas menangis berkaitan dengan peningkatan oksitosin dan endorfin. Kedua hormon ini disebut berperan dalam membantu meredakan rasa nyeri, baik yang dirasakan secara fisik maupun mental. Dalam situasi emosional, tubuh dan pikiran memang saling berkaitan: tekanan batin dapat terasa melelahkan, sementara ketidaknyamanan fisik juga bisa memperberat kondisi perasaan.

“Kedua, hormon oksitosin dan hormon endorfin kita akan naik. Dan ini adalah hormon-hormon yang meredakan nyeri fisik maupun nyeri mental,” ujarnya.

Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa menangis tidak sekadar peristiwa emosional yang terlihat dari luar. Ada respons tubuh yang menyertainya. Karena itu, membiarkan diri merasakan emosi dalam batas yang aman dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap kondisi diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, tekanan dapat muncul dari banyak arah, seperti tuntutan pekerjaan, konflik keluarga, persoalan hubungan, masalah keuangan, atau kekhawatiran mengenai masa depan. Saat berbagai beban hadir bersamaan, seseorang dapat merasa kewalahan. Mengakui perasaan tersebut merupakan langkah awal yang lebih sehat dibanding memaksa diri untuk selalu tampak baik-baik saja.

Membantu Tubuh Lebih Rileks

Budi juga menyampaikan bahwa menangis dapat membuat tubuh terasa lebih santai karena melibatkan aktivasi saraf parasimpatik. Sistem ini berkaitan dengan kondisi tubuh yang lebih tenang setelah menghadapi ketegangan. Itulah sebabnya sebagian orang merasakan sensasi lega atau lelah setelah menangis.

Rasa rileks tersebut tidak berarti masalah yang dihadapi langsung hilang. Namun, kondisi yang lebih tenang dapat memberi ruang untuk berpikir dengan lebih jernih. Seseorang mungkin kemudian memilih beristirahat, berbicara dengan orang tepercaya, menuliskan perasaan, atau mencari bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Lingkungan juga memiliki peran besar. Sikap yang mengejek tangisan dapat membuat seseorang semakin sulit mengungkapkan beban emosinya. Sebaliknya, kehadiran teman, keluarga, atau rekan yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian saat sedang berada dalam masa sulit.

Tangisan Bukan Ukuran Kekuatan Seseorang

Masih ada anggapan bahwa orang yang kuat tidak boleh menangis. Budi mengingatkan bahwa pandangan itu perlu diubah. Menangis dapat menjadi teknik alami untuk mengurangi gejala overthinking, yaitu keadaan ketika pikiran terus berputar dan membuat seseorang semakin terbebani.

“Jadi ingat ya, nangis itu bukan menandakan diri kita lemah. Justru ini adalah teknik alami bisa mengurangi gejala-gejala overthinking yang membuat kita memiliki masalah,” kata Budi.

Pesan tersebut tidak berarti setiap kesulitan cukup dihadapi dengan menangis. Jika perasaan sedih, cemas, atau tertekan berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional dapat menjadi langkah penting. Meminta bantuan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari upaya menjaga diri.

Pada akhirnya, air mata dapat dipandang sebagai salah satu bahasa tubuh ketika kata-kata belum cukup menjelaskan apa yang dirasakan. Memberi ruang bagi emosi, tanpa mengabaikan kebutuhan akan dukungan dan penanganan yang tepat, dapat membantu seseorang menjalani tekanan hidup dengan lebih sadar dan manusiawi.

Frequently Asked Questions

What is Menangis Disebut Detoks Alami Menkes Ungkap?

Menangis Disebut Detoks Alami Menkes Ungkap is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menangis Disebut Detoks Alami Menkes Ungkap matter?

Menangis Disebut Detoks Alami Menkes Ungkap matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment