Berita

Pilu! Begini Pengakuan Gadis Indramayu Korban TPPO Modus Pengantin Pesanan di China

Pilu Begini Pengakuan Gadis Indramayu Korban TPPO Modus Pengantin Pesanan di China

Pilu Begini Pengakuan Gadis Indramayu Korban – Kisah pilu yang dialami Gadis Indramayu, Kusnia, menjadi sorotan publik setelah kembali ke Indonesia setelah lima bulan menghabiskan waktunya di Tiongkok. Ia terkena skema TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) yang menggunakan modus pengantin pesanan. Dengan janji mahar besar dan pekerjaan tetap, Kusnia ditarik ke luar negeri, tetapi kenyataannya jauh dari harapan.

Mekanisme Penipuan TPPO

Modus TPPO pengantin pesanan sering kali memulai dengan penawaran kerja di luar negeri yang diiringi janji kehidupan yang lebih baik. Kusnia, yang berusia 21 tahun, tergiur oleh iklan yang menjanjikan uang bulanan stabil dan pendapatan tambahan dari pengantin. Ia dibujuk oleh agen yang berpura-pura sebagai pemberi kerja, sehingga mudah terlena dan menyetujui perjalanan ke Tiongkok.

“Saya dijanjikan akan mendapatkan uang Rp50 juta dan pekerjaan tetap. Tapi di sana, semua janji dihancurkan. Saya diperlakukan kasar dan dipaksa menikah dengan seorang pria Tiongkok yang tidak dikenal,” ujarnya, Sabtu (30/6/2026).

Kusnia tidak sendirian dalam pengalaman ini. Ribuan perempuan di Indonesia dikabarkan jadi korban TPPO melalui modus serupa, terutama di daerah pedesaan dengan kondisi ekonomi yang kurang stabil. Mereka sering kali terjebak karena rasa ingin memiliki kehidupan lebih baik dan tergoda oleh iming-iming uang besar.

Pengalaman Trauma di Tiongkok

Setelah tiba di Tiongkok, Kusnia segera dihubungkan dengan pria yang menjadi calon suaminya. Ia dipaksa menjalani ritual pernikahan secara cepat, tanpa proses pendaftaran yang lengkap. Kehidupan di sana diawali dengan harapan, tetapi berubah menjadi penderitaan setelah ia mengetahui bahwa pekerjaan yang dijanjikan tidak pernah ada.

“Kehidupan di sana terasa seperti penjara. Saya diperlakukan seperti budak, bahkan diteror kalau tidak menuruti kemauan dia,” katanya.

Menurut informasi yang diterima, Kusnia jadi korban setelah diberi nama palsu dan dokumen kependudukan yang tidak sah. Ia dipaksa mengikuti proses pernikahan dengan pria yang tidak ia kenal, lalu dibiarkan menghadapi kehidupan yang tidak ia pahami. Kondisi ini membuat Kusnia merasa kehilangan harapan dan kemerdekaan.

Kasus Ini dan Keterlibatan Pihak Lain

Kasus Kusnia menjadi contoh nyata bagaimana TPPO beroperasi di Indonesia. Ia tidak sendirian dalam pengalamannya. Berdasarkan laporan dari SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia), banyak korban lain yang mengalami nasib serupa, terutama dari daerah terpencil seperti Indramayu. Pihak agen yang terlibat dalam proses ini diduga tidak menjamin keamanan dan hak korban.

“Kasus Kusnia menunjukkan bagaimana kelemahan regulasi dan kurangnya informasi bagi masyarakat membuat TPPO mudah terjadi. Kami berharap pemerintah lebih serius menangani masalah ini,” kata Huki Jaenah, Ketua SBMI Indramayu.

Kusnia menegaskan bahwa ia siap melaporkan semua pihak yang terlibat, termasuk agen dan pihak yang memaksa pernikahan. Ia berharap kasusnya bisa menjadi pelajaran bagi korban lain agar tidak mudah terjebak dalam modus TPPO yang sama. “Saya ingin korban lain tidak mengalami hal yang sama,” ujarnya.

Dengan kembali ke kampung halaman, Kusnia mulai memulihkan diri dan berharap masyarakat lebih waspada. Ia juga menyoroti perlunya pendidikan dan sosialisasi tentang TPPO agar para perempuan lebih paham tentang risiko yang mengintai. “Jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal dan menawarkan pekerjaan di luar negeri,” pesannya.

Leave a Comment