Main Agenda: Viral Main Gim saat Rapat, Anggota DPRD Jember Minta Maaf dan Siap Disanksi
Main Agenda – Sebuah video yang menayangkan Achmad Syahri Assidiqi, anggota DPRD Jember dari Fraksi Gerindra, tengah memainkan permainan gim selama rapat anggota menjadi perbincangan hangat di media sosial. Video tersebut memperlihatkan Syahri duduk di meja rapat sambil bermain permainan di ponselnya, sementara rekan-rekannya sedang mengikuti pembahasan serius tentang isu stunting, yang menjadi prioritas utama dalam upaya memperbaiki kesehatan masyarakat. Setelah video ini viral, Syahri segera mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada masyarakat serta siap menerima sanksi dari institusi terkait.
Kesalahan Syahri terjadi saat rapat yang dihadiri oleh sejumlah anggota DPRD Jember untuk membahas penanganan stunting di daerah tersebut. Meski awalnya dianggap sebagai hal yang sepele, tindakan tersebut memicu kritik dari berbagai pihak, termasuk warga Jember dan organisasi pemantau kesehatan. Ia menyatakan bahwa kejadian ini menunjukkan kurangnya kesadaran sebagai wakil rakyat untuk menjaga etika dan profesionalisme dalam rapat resmi. “Saya bersedia menerima semua sanksi yang diberikan oleh Badan Kehormatan DPRD Jember atau DPP Partai Gerindra. Ini menjadi pembelajaran bagi saya sendiri dan anggota dewan lainnya,” tutur Syahri, Kamis (14/5/2026).
Konteks Isu Stunting di Jember
Isu stunting, yang merujuk pada kondisi kurang gizi pada anak-anak, menjadi fokus utama dalam rapat tersebut. Stunting tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif dan kemampuan belajar. Pemangkasan anggaran dan peningkatan akses layanan kesehatan dianggap penting untuk mengatasi masalah ini. Namun, tindakan Syahri selama rapat dinilai tidak sesuai dengan tingkat kepentingan topik yang dibahas, sehingga menimbulkan ketimpangan antara tindakan dan konten.
“Stunting adalah isu yang sangat strategis untuk masa depan generasi muda Jember. Pernyataan Syahri yang dianggap tidak serius mengikis kepercayaan masyarakat terhadap kinerja legislatif,” kata Dr. Rizka Surya, peneliti kesehatan dari Universitas Jember.
Menurut data Dinas Kesehatan Jember, tingkat stunting di daerah tersebut masih mengkhawatirkan, dengan angka sekitar 28 persen pada usia 0-5 tahun. Dengan kondisi ini, rapat yang dihadiri oleh 35 anggota DPRD Jember dianggap sebagai momentum penting untuk mengambil keputusan bersama. Namun, sikap Syahri selama rapat mengakibatkan pembicaraan tentang topik tersebut jadi teralihkan, sehingga memberi kesan tidak fokus.
Respons dari Fraksi Gerindra
Fraksi Gerindra, partai tempat Syahri bernaung, menyampaikan respons terhadap aksi viral ini. Mereka menegaskan bahwa anggota dewan yang memainkan gim saat rapat adalah tindakan tidak profesional, tetapi juga menekankan bahwa Syahri telah langsung mengambil langkah responsif dengan meminta maaf dan bersedia dihukum. “Main Agenda ini menjadi bahan evaluasi internal Fraksi Gerindra. Kami berharap tindakan ini menjadi pelajaran untuk anggota dewan lainnya agar lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas,” ujar Wakil Ketua Fraksi Gerindra, Teguh Prasetyo.
Sebagai bagian dari Partai Gerindra, Syahri dikenal sebagai anggota yang aktif di berbagai kegiatan politik. Namun, kejadian ini menggambarkan sisi human error dari seorang legislatif yang seharusnya menjaga kesopanan dan konsentrasi. Fraksi Gerindra juga menyatakan akan meninjau kembali mekanisme pengawasan terhadap anggota dewan, terutama terkait etika dalam rapat resmi.
“Kami akan mengevaluasi kebijakan internal mengenai kehadiran anggota dewan di rapat, termasuk ketatnya aturan penggunaan perangkat elektronik. Ini adalah langkah untuk memastikan anggota dewan lebih memperhatikan proses pengambilan keputusan,” tambah Teguh.
Penilaian dari Komunitas dan Masyarakat
Kritik terhadap Syahri tidak hanya datang dari kalangan politik, tetapi juga dari warga Jember yang merasa kecewa atas sikap anggota dewan mereka. Banyak masyarakat menganggap tindakan ini menggambarkan kurangnya komitmen untuk menyelesaikan isu yang vital bagi kehidupan anak-anak. “Sebagai wakil rakyat, mereka seharusnya lebih serius. Main gim di tengah rapat seperti bermain anak-anak, bukan seorang legislator,” komentar netizen @JemberCitizen di media sosial.
Di sisi lain, sebagian kecil masyarakat memahami bahwa Syahri melakukan kesalahan secara kecil, terutama karena kemungkinan faktor kelelahan atau kurangnya pengawasan. Namun, kejadian ini tetap dianggap sebagai pelajaran bagi para anggota dewan untuk menjaga citra dan kredibilitas mereka di mata publik. “Jika seorang anggota dewan bisa terjatuh dalam kesalahan seperti ini, maka semangat masyarakat untuk menyukseskan program stunting bisa terganggu,” papar Yuniarti, warga Jember yang aktif dalam gerakan anti-stunting.
“Main Agenda ini adalah cerminan kebiasaan anggota dewan yang tidak selalu profesional. Masyarakat berharap ada penegakan hukum yang tegas untuk memberi contoh,” tambah Yuniarti.
Langkah Selanjutnya dan Pelajaran untuk Masa Depan
Pengambilan sanksi terhadap Syahri akan menjadi langkah konkrit dari Badan Kehormatan DPRD Jember. Sebelumnya, Badan Kehormatan telah menyatakan akan menindaklanjuti laporan terkait etika anggota dewan. Dalam proses ini, Syahri akan diberikan kesempatan untuk menjelaskan alasan melakukan kegiatan tersebut, dan kemudian dianalisis apakah ada pelanggaran aturan yang jelas.
Sejumlah anggota DPRD Jember menilai kejadian ini bisa menjadi titik balik untuk meningkatkan disiplin dalam rapat resmi. “Mungkin ini saatnya kita merevisi kebijakan rapat agar lebih ketat dalam mengatur penggunaan perangkat elektronik, terutama saat membahas isu yang krusial,” saran Anggota DPRD Jember lainnya, Siti Nuraini.
“Main Agenda ini adalah salah satu contoh bagaimana kebiasaan kecil bisa memengaruhi kredibilitas seorang legislator. Jika tidak diatasi, bisa terjadi dampak besar terhadap kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Analisis dari Aspek Etika dan Profesionalisme
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa etika dalam rapat resmi sangat penting untuk menjaga kredibilitas lembaga legislatif. Dalam UU MD3 (Mekanisme Dewan Kehormatan), anggota dewan diwajibkan untuk menjaga kesopanan dan konsentrasi selama rapat. Tindakan Syahri, meski terkesan kecil, dianggap sebagai pelanggaran etika yang bisa menjadi pelajaran bagi anggota lainnya. “Main gim saat rapat tidak hanya menyimpang dari etika, tetapi juga berdampak pada efektivitas diskusi yang berlangsung,” jelas aktifis etika legislatif, Dian Andini.
Menurut Dian, kejadian ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan internal dan memastikan anggota dewan lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas. “Bukan hanya soal kesalahan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana anggota dewan mewakili masyarakat dalam forum resmi. Main Agenda ini menjadi pembuktian bahwa sanksi diperlukan untuk memberi efek jera,” tambahnya.