PVMBG: Gunung Dukono Meletus 48 Kali di Halmahera Utara, Pendaki Dilarang Mendekati Kawah
PVMBG – Badan Pusat Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (PVMBG) memberikan laporan mengenai aktivitas vulkanik Gunung Dukono yang terjadi secara intensif sejak 9 Mei 2026 hingga 14 Mei 2026. Di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, tercatat 48 kali erupsi dalam waktu enam hari, dengan tinggi kolom abu vulkanis mencapai antara 600 meter hingga 4.300 meter di atas puncak. PVMBG mengungkapkan bahwa erupsi ini menjadi indikator peningkatan keaktifan gunung api yang memerlukan perhatian khusus dari warga sekitar dan pengunjung kawasan.
Detail Aktivitas Vulkanik dan Peringatan PVMBG
Dalam laporan PVMBG, erupsi Gunung Dukono yang berlangsung sejak 9 Mei 2026 terus berlangsung dengan frekuensi tinggi. Setiap letusan diikuti oleh aktivitas seismik yang tercatat dalam seismogram, termasuk pada hari Kamis pagi, 12 Mei 2026, saat terjadi letusan sekitar pukul 07.12 WIT. PVMBG mencatat amplitudo maksimum 34 mm dan durasi 73,49 detik, yang menunjukkan bahwa erupsi tidak hanya berdampak pada lingkungan sekitar, tetapi juga memiliki potensi menyebar ke daerah lebih luas.
Kolom abu vulkanis yang muncul dari Gunung Dukono berwarna kelabu hingga hitam, dengan intensitas tebal dan ketinggian mencapai 3.500 meter. PVMBG menyatakan bahwa arah sebaran abu mengarah ke utara, sehingga memengaruhi permukiman dan Kota Galela. Warga serta pengunjung kawasan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hujan abu, yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem transportasi dan kebersihan lingkungan.
“Dari 9 Mei hingga 14 Mei 2026, Gunung Dukono tetap aktif dengan 48 kali erupsi, menunjukkan tingkat keberhasilan vulkanik yang signifikan,” kata PVMBG. Laporan ini memperkuat bahwa kegiatan erupsi di Gunung Dukono merupakan fenomena alami yang perlu diawasi secara terus-menerus oleh lembaga mitigasi bencana seperti PVMBG.
Langkah Pencegahan dan Dampak Terhadap Aktivitas Pendaki
Menyadari risiko yang mungkin terjadi, PVMBG memberikan peringatan kepada pendaki untuk tidak mendekati kawah Gunung Dukono dalam radius 4 kilometer. Selain abu vulkanis, ancaman lain seperti aliran lahar saat musim hujan dan lontaran batu pijar juga menjadi perhatian utama. Masyarakat sekitar, wisatawan, dan pendaki dianjurkan untuk menghindari area rawan dan mematuhi arahan dari lembaga pengamat gunung api.
PVMBG menegaskan bahwa peningkatan intensitas erupsi dapat terjadi kapan saja, sehingga pemantauan aktivitas vulkanik tetap dilakukan secara rutin. Sejumlah data geofisika seperti gelombang seismik dan perubahan suhu kawah menjadi parameter utama dalam menilai stabilitas Gunung Dukono. Dengan memantau secara intensif, PVMBG berupaya mengurangi risiko dampak yang mungkin menjangkau daerah sekitar dan membahayakan nyawa masyarakat.
Gunung Dukono dikenal sebagai salah satu gunung berapi aktif di Indonesia, dengan sejarah erupsi yang tercatat sejak abad ke-19. Aktivitas vulkaniknya tidak selalu konsisten, tetapi seringkali mengalami fluktuasi yang bisa berubah drastis dalam waktu singkat. PVMBG menyatakan bahwa erupsi dalam rentang waktu 9-14 Mei 2026 termasuk dalam fase keaktifan yang memerlukan pengawasan ekstra, karena frekuensi dan intensitasnya mengalami peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.