Regional

Napak Tilas Sultan HB X di Sragen, Telusuri Jejak Panjang Perjalanan Pangeran Mangkubumi

Foto : Jessica Moore - nusantaranews1.com

Key Discussion: Napak Tilas Sultan HB X di Sragen, Menggali Jejak Pangeran Mangkubumi

Nusantaranews1.com – Terkait perjalanan sejarah Pangeran Mangkubumi kembali menjadi sorotan setelah Sultan Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan napak tilas ke empat lokasi bersejarah di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada Kamis (9/7/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari perayaan keistimewaan Yogyakarta, dengan pendanaan dari Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sultan HB X turut meninjau situs-situs yang berkaitan erat dengan perjalanan pangeran yang menjadi pendiri Kasultanan Yogyakarta, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif masyarakat tentang nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkandung di wilayah tersebut.

Jejak Sejarah dalam Setiap Lokasi

Napak tilas yang dilakukan Sultan HB X menelusuri sejumlah lokasi strategis yang diyakini terkait dengan perjalanan Pangeran Mangkubumi sebelum pendirian Yogyakarta. Dari lima lokasi utama yang dikunjungi, Pandak Krikilan dianggap sebagai tempat pertama di mana pangeran berhenti setelah meninggalkan Keraton Mataram. Situs ini memiliki peran penting dalam membentuk perjalanan awalnya, sebelum melanjutkan ke Goa Mangkubumi, yang dianggap sebagai tempat persembunyian sebelum pengasingan.

Di samping itu, Pesanggrahan Ponopatan di Katelan menjadi fokus perhatian selama Key Discussion ini, karena dianggap sebagai lokasi strategis untuk pengintaian sebelum pendirian wilayah Yogyakarta. Lokasi ini juga dihubungkan dengan peran Pangeran Mangkubumi dalam mengamankan sumber daya alam dan membentuk basis kekuatan di wilayah tersebut. Sementara itu, Sendang Sumberan di Japoh dipercaya sebagai titik awal negosiasi Perjanjian Giyanti, yang mengubah sejarah kekuasaan di Jawa Tengah.

Dalam Key Discussion tersebut, para ahli sejarah dan tokoh setempat menjelaskan bahwa setiap lokasi memiliki cerita tersendiri yang bisa menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda. Misalnya, Pandak Krikilan menjadi saksi bisu perjuangan politik dan militer Pangeran Mangkubumi, sementara Goa Mangkubumi dianggap sebagai simbol ketahanan dan pengorbanan. Penelusuran ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memperkuat hubungan antara sejarah dengan identitas budaya masyarakat Sragen.

Peran Sejarah dalam Pelestarian Budaya

Pelestarian cagar budaya dianggap sebagai prioritas utama dalam Key Discussion yang digelar Sultan HB X. Kepala Dinas Pariwisata Sragen, M. Heru Prasetyo, mengatakan bahwa kunjungan ini bertujuan membangkitkan minat masyarakat terhadap warisan sejarah dan memastikan situs-situs tersebut tetap terjaga dari kerusakan. “Kawasan bersejarah ini menjadi bagian dari identitas lokal, sehingga perlu dijaga keberadaannya,” ujarnya, dikutip dari iNews Sragen, Kamis (9/7/2026).

Sendang Sumberan, yang menjadi salah satu tempat kunjungan, dianalisis memiliki daya tarik alami dan budaya yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata. Selain sumber mata airnya yang aktif, kawasan ini juga memiliki makna sejarah dalam menandai awal persiapan perundingan antara Pangeran Mangkubumi dan Kesultanan Mataram. Kepala Desa Japoh, Bambang Sutrisno, menambahkan bahwa masyarakat setempat telah melakukan perawatan rutin terhadap situs tersebut, dengan harapan bisa menjadi daya tarik wisata yang lebih luas.

Menurut catatan sejarah, Pangeran Mangkubumi menghabiskan waktu di Sragen sebelum berangkat ke Yogyakarta, yang kini menjadi pusat kekuasaan kesultanan. Napak tilas ini menunjukkan upaya kontinu untuk menyelaraskan perayaan keistimewaan dengan eksplorasi kehidupan sehari-hari Pangeran Mangkubumi. Dengan Key Discussion yang dipadukan dengan kunjungan langsung, harapannya adalah agar warisan budaya ini tidak hanya diabadikan, tetapi juga dipahami secara mendalam oleh generasi masa kini.

Pelaksanaan napak tilas juga menjadi momentum untuk mengajak masyarakat mengikuti jejak para tokoh sejarah. Sultan HB X berharap kegiatan ini mendorong partisipasi aktif warga Sragen dalam menjaga kelestarian cagar budaya. “Sragen memiliki peran penting dalam sejarah Yogyakarta, sehingga kegiatan ini bisa menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas,” katanya, dalam Key Discussion yang dipandu oleh tim sejarah dan pemangku kepentingan lokal.

Sebagai bagian dari Key Discussion, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya pendidikan sejarah dalam membentuk rasa nasionalisme. Pangeran Mangkubumi, sebagai tokoh yang berperan dalam pembentukan negara Jawa Tengah, dinilai sebagai panutan dalam menghadapi tantangan politik dan sosial. Sultan HB X berharap kegiatan napak tilas ini bisa menjadi percontohan bagi daerah lain dalam membangkitkan minat terhadap sejarah dan budaya.

Leave a Comment