WNA Korea Tewas Bersimbah Darah di Tambun Selatan Bekasi, Diduga Korban Pembunuhan
WNA Korea Tewas Bersimbah Darah di Tambun – Kematian warga negara asing (WNA) berkebangsaan Korea di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengejutkan warga setempat. Seorang pria berusia 60 tahun, yang dikenal sebagai Sang Byoung Chan, ditemukan dalam kondisi berlumuran darah di rumah kontrakannya, memicu spekulasi bahwa ia menjadi korban pembunuhan. Kecelakaan ini terjadi pada Kamis (28/5/2026), sekitar pukul 04.00 pagi, dan langsung menarik perhatian masyarakat sekitar yang berdatangan untuk melihat kejadian tersebut.
Penemuan Mayat dan Keterangan Saksi
Mengutip keterangan dari saksi mata, korban ditemukan dalam posisi telungkup dengan luka di kepala dan memar di seluruh tubuh. Menurut sumber, korban adalah seorang warga negara Korea yang tinggal di daerah itu selama beberapa bulan. “Saya bangun dan lihat dari atas sudah ramai. Saya cek katanya bapak juragan yang punya kontrakan sudah meninggal,” kata salah satu warga yang berada di lokasi kejadian. Kematian korban disebut-sebut terjadi akibat pukulan benda tumpul, meski penyebab pasti masih dalam penyelidikan.
Korban, yang bekerja sebagai pengusaha kecil, tinggal di Tambun Selatan bersama keluarga. Lokasi rumah kontrakan berada di tengah kawasan perumahan, sehingga kejadian ini menimbulkan kecemasan di kalangan masyarakat. Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan tanda-tanda perkelahian dan bekas darah di lantai serta dinding rumah. Tidak ada tanda-tanda penggunaan senjata tajam, namun luka di kepala menunjukkan adanya kekerasan yang signifikan.
Proses Penyelidikan dan Pemeriksaan Forensik
Setelah mengumpulkan bukti-bukti di lokasi, petugas kepolisian mengangkut mayat korban ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Polsek Tambun Selatan dan Polres Metro Bekasi menjadi pihak yang menangani kasus ini secara serius. “Kami sedang mempelajari semua bukti yang ada, termasuk luka-luka di tubuh korban,” ujar Kapolsek Tambun Selatan dalam wawancara terpisah. Pihak kepolisian juga mengumpulkan keterangan dari tetangga dan saksi-saksi lain yang melihat kejadian tersebut.
Sejauh ini, tidak ada identitas jelas dari pelaku. Namun, polisi menilai kemungkinan besar kasus ini merupakan pembunuhan berencana. Korban, yang dikenal rendah hati dan tidak memiliki musuh, tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan sebelum meninggal. “Saya kurang tahu penyebabnya, katanya pembunuhan. Iya korban WNA, asli Korea,” tambah saksi mata yang enggan menyebutkan nama lengkapnya. Polisi juga sedang menyelidiki apakah ada hubungan antara korban dengan orang-orang di sekitar lingkungan.
Upaya Pemulihan dan Kondisi Lingkungan
Usai menemukan mayat korban, petugas langsung melakukan pengamanan di sekitar rumah kontrakan. Warga sekitar membanjiri area tersebut dengan air dan memasang pengamanan sementara. Korban meninggalkan warisan kecil, termasuk dokumen identitas dan barang-barang pribadi yang akan diselidiki lebih lanjut. Penyidik juga meminta bantuan dari warga untuk menemukan barang bukti seperti benda tumpul yang diduga digunakan sebagai senjata.
Dalam upaya mengungkap motif pembunuhan, polisi berencana melakukan wawancara lebih lanjut dengan tetangga korban dan penghuni sekitar. “Kami juga akan memeriksa kegiatan korban beberapa hari sebelum kejadian, apakah ada konflik atau tanda-tanda kejanggalan,” kata salah satu penyidik. Selain itu, tim forensik juga mengumpulkan data dari lingkungan sekitar, termasuk rekaman CCTV di sekitar kontrakan yang dianggap bisa menjadi sumber informasi penting.
Respons Masyarakat dan Kebutuhan Informasi Lengkap
Peristiwa kematian WNA Korea ini memicu perhatian warga Tambun Selatan dan media lokal. Banyak dari mereka yang mengunggah berita di media sosial, mencoba mengungkap lebih lanjut mengenai korban dan kejadian yang menimpa. “Kami harap pihak kepolisian bisa memberikan informasi lengkap, karena ini sangat menggemparkan,” kata salah satu warga yang tinggal di dekat lokasi kejadian. Selain itu, ada juga warga yang menilai bahwa kasus ini bisa menjadi bukti kejahatan yang lebih luas di wilayah tersebut.
Korban meninggal dalam keadaan memar di seluruh tubuh dan luka di kepala, yang menunjukkan adanya pertumpahan darah yang cukup parah. Sejumlah warga mengatakan bahwa korban dikenal baik dengan tetangganya dan tidak memiliki alasan untuk dikorbankan. “Saya rasa ini bukan kecelakaan, tapi pembunuhan terencana,” ujar salah satu warga. Polisi menargetkan untuk mengungkap seluruh fakta dalam 2-3 hari ke depan, sebelum memberikan laporan resmi ke publik.