News

AS-Iran Kembali Saling Serang, Teheran Klaim Tutup Selat Hormuz dan Hantam Pangkalan Militer AS

Foto : Michael Jones - nusantaranews1.com

Konflik AS-Iran Memanas, New Policy Iran Tutup Selat Hormuz dan Serang Pangkalan Militer AS

Nusantaranews1.com – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memuncak, dengan kedua pihak meluncurkan serangan saling dalam rangkaian New Policy yang diumumkan Teheran. Kota Sirik, Qeshm, Bandar Abbas, dan Jask di wilayah barat daya Iran dilaporkan mengalami ledakan setelah serangan militer AS pada Minggu malam, 12 Juli 2026. Di sisi lain, Teheran menyatakan telah menutup Selat Hormuz sebagai bagian dari strategi New Policy mereka, menyebabkan ketegangan global terhadap pasokan energi.

Eskalasi Konflik dan Penyebab New Policy

Dalam pernyataan resmi, Komando Pusat Militer AS (Centcom) mengklaim serangan mereka pada Sabtu malam, 10 Juli 2026, bertujuan menghentikan ancaman terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Operasi ini, yang dianggap sebagai bagian dari New Policy AS, menargetkan sistem pertahanan udara, radar pantai, serta fasilitas rudal dan drone Iran.

“New Policy kami bertujuan memastikan kebebasan pelayaran kapal niaga di Selat Hormuz,” kata Centcom dalam siaran pers mereka.

Ketegangan ini berawal dari rencana New Policy Iran yang mengubah strategi militer mereka, termasuk menutup Selat Hormuz sebagai pernyataan kekuatan. Dalam pernyataan resmi, Iran menyebutkan bahwa tindakan mereka dilakukan sebagai respons terhadap serangan AS yang sebelumnya terjadi pada 28 Februari, ketika Washington dan Israel menyerang fasilitas Iran di Suriah dan Irak.

Reaksi dan Dampak pada Pasokan Energi Global

Serangan AS pada Minggu malam, 12 Juli 2026, dilaporkan menyebabkan satu korban tewas dan empat orang terluka di wilayah barat daya Iran. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain. Tindakan ini memperluas eskalasi konflik yang sebelumnya melibatkan negara-negara sekutu AS, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA).

Pasokan energi global terancam akibat New Policy Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Harga minyak Brent melonjak 4,3 persen menjadi 79,26 dolar AS per barel di pasar Asia Senin (13/7/2026), sementara minyak acuan AS naik 4,3 persen ke 74,50 dolar AS per barel. Meski demikian, harga saat ini masih di bawah puncaknya yang pernah mencapai 120 dolar AS per barel pada April.

Dalam pernyataan resmi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebutkan New Policy AS sebagai penyebab utama ketegangan, sementara Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa serangan Iran menandai berakhirnya masa gencatan senjata. Namun, Trump menambahkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, dengan harapan mencapai penyelesaian konflik permanen.

Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel melakukan serangan terhadap Iran, memicu penutupan efektif Selat Hormuz. Tindakan itu langsung menghawatirkan pasokan energi global, dengan harga minyak Brent melonjak 4,3 persen menjadi 79,26 dolar AS per barel di pasar Asia Senin. Minyak acuan AS juga naik 4,3 persen ke 74,50 dolar AS per barel. Meski demikian, harga saat ini masih di bawah puncaknya yang pernah mencapai 120 dolar AS per barel pada April.

New Policy Iran memperlihatkan keberanian dalam menantang kekuatan militer AS, dengan menargetkan pangkalan militer dan infrastruktur strategis. Serangan ini memperkuat posisi Iran sebagai negara yang aktif dalam menciptakan tekanan politik dan militer di wilayah Timur Tengah. Sementara itu, AS berusaha mempertahankan dominasi mereka di Selat Hormuz, yang menjadi poros penting dalam ekonomi global.

Konflik yang semakin memanas ini tidak hanya memengaruhi keamanan energi, tetapi juga mengancam kesepakatan sementara yang ditandatangani Juni lalu. Tujuan dari kesepakatan tersebut adalah membuka Selat Hormuz dan menciptakan lingkungan perdamaian untuk negosiasi jangka panjang. Namun, New Policy Iran dan tindakan balasan AS menunjukkan bahwa konsensus diplomatik masih sulit tercapai.

Leave a Comment