Menag Usul ASN Kemenag Pakai Sarung-Peci Sepekan Sekali, Ungkap Makna dan Filosofinya
Daftar Isi
Kemenag Dorong Penggunaan Sarung dan Peci sebagai Ekspresi Budaya ASN
Nusantaranews1.com – Gagasan mengenakan sarung dan peci di lingkungan kerja Kementerian Agama kembali mengemuka sebagai upaya memperkuat penghargaan terhadap identitas budaya Indonesia. Menteri Agama Nasaruddin Umar mengusulkan agar aparatur sipil negara di Kementerian Agama dapat memakai dua busana tradisional tersebut pada satu hari kerja setiap pekan.
Usulan itu disampaikan Nasaruddin dalam keterangannya yang dikutip pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Ia melihat sarung dan peci bukan hanya pelengkap penampilan, melainkan bagian dari warisan Nusantara yang layak dirawat melalui praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di kantor pemerintahan.
“Mengenakan sarung dan peci ini sebetulnya harus menjadi sebuah kegiatan rutin di Kementerian Agama. Saya setuju kalau seandainya teman-teman sepakat, sekali seminggu kita (ASN Kemenag) kerja pakai sarung dan peci,” kata Nasaruddin.
Meski demikian, penggunaan sarung dan peci tidak diarahkan sebagai aturan yang mengikat seluruh pegawai. Nasaruddin menegaskan bahwa gagasan tersebut sebaiknya menjadi ajakan yang diterapkan dengan mempertimbangkan situasi kerja, kenyamanan pribadi, serta kebutuhan masing-masing ASN saat menjalankan tugas.
Busana Tradisional dan Kepercayaan Diri Bangsa
Bagi Nasaruddin, menjaga tradisi tidak berarti menolak perkembangan zaman. Sebaliknya, bangsa yang mampu membawa nilai budayanya ke ruang modern menunjukkan karakter dan rasa percaya diri yang kuat. Pakaian tradisional juga dapat menjadi penanda bahwa kemajuan tetap dapat berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap akar kebudayaan.
Ia menyinggung praktik di sejumlah negara yang tetap menampilkan busana khas mereka sebagai simbol kebanggaan, termasuk dalam pergaulan internasional. Indonesia, dengan keragaman tradisinya, memiliki ruang besar untuk memperkenalkan kekayaan tersebut kepada masyarakat luas tanpa harus mengesampingkan fungsi praktis pakaian kerja.
Sarung telah lama hadir dalam kehidupan sosial dan spiritual di berbagai daerah Indonesia. Kain ini digunakan dalam beragam kegiatan, mulai dari aktivitas keluarga, pendidikan keagamaan, hingga acara kemasyarakatan. Dalam pandangan Nasaruddin, sarung mengandung pesan tentang kebersamaan, kesetaraan, dan kebebasan.
Peci pun memiliki posisi penting dalam perjalanan identitas nasional. Selain digunakan dalam lingkungan keagamaan, peci dikenal sebagai penutup kepala yang kerap hadir dalam kegiatan resmi dan acara kenegaraan. Nilainya tidak terbatas pada fungsi busana, tetapi juga berkaitan dengan penghormatan, kewibawaan, dan simbol kebangsaan.
“Sarung dan peci itu adalah pakaian kebangsaan, pakaian spiritual, pakaian budaya, pakaian kehormatan,” ujar Nasaruddin.
Pesan tersebut menempatkan sarung dan peci sebagai bagian dari ekspresi budaya yang inklusif. Penggunaannya dapat menjadi pengingat bahwa identitas Indonesia dibentuk oleh banyak tradisi, daerah, dan pengalaman sejarah yang saling bertemu dalam kehidupan masyarakat.
Keragaman Daerah sebagai Kekayaan Bersama
Indonesia memiliki banyak jenis sarung serta bentuk penutup kepala tradisional yang berkembang sesuai ciri khas tiap wilayah. Motif, bahan, teknik pembuatan, hingga cara pemakaiannya dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lain. Keanekaragaman itu memperlihatkan luasnya jejak interaksi sosial serta perjalanan sejarah masyarakat Nusantara.
Dalam konteks lingkungan kerja, pengenalan busana tradisional dapat membuka ruang apresiasi terhadap kekayaan tersebut. Pegawai tidak hanya melihat sarung sebagai pakaian yang akrab dengan kegiatan tertentu, tetapi juga sebagai produk budaya yang memiliki nilai sosial dan sejarah. Kehadirannya di kantor dapat menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi tanpa mengubah tugas utama ASN sebagai pelayan publik.
Pengaturan yang bersifat imbauan juga memberi keleluasaan bagi setiap unit kerja untuk menyesuaikan pelaksanaannya. Kebutuhan pekerjaan lapangan, agenda rapat resmi, kondisi cuaca, maupun jenis layanan yang dijalankan tentu dapat menjadi pertimbangan. Dengan pendekatan yang fleksibel, semangat pelestarian budaya tetap dapat berjalan secara wajar dan nyaman.
Usulan Program Selasa Bersarung
Gagasan Menteri Agama itu mendapat sambutan dari Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said. Ia mengajukan rencana program Selasa Bersarung di lingkungan Direktorat Jenderal Pesantren sebagai langkah pembiasaan penggunaan sarung pada satu hari kerja dalam sepekan.
Program tersebut masih memerlukan persetujuan Menteri Agama sebelum ditetapkan. Basnang memandang penggunaan sarung secara berkala dapat menjadi penghargaan terhadap tradisi pesantren, yang selama ini memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan nilai dan kebudayaan Nusantara.
“Direktorat Jenderal Pesantren merencanakan, jika disetujui oleh Pak Menteri Agama, kami akan mencoba menetapkan satu hari kerja khusus di lingkungan Ditjen Pesantren untuk menggunakan sarung,” kata Basnang.
Hari Selasa dipilih karena dinilai sesuai dengan pakaian kerja putih yang biasa dikenakan pegawai. Perpaduan baju putih dan sarung dipandang tetap serasi sekaligus memungkinkan pelaksanaan program dilakukan tanpa perubahan besar pada kebiasaan berpakaian kerja.
“Semoga bisa kita anggap Selasa Bersarung. Kenapa? Karena kalau Selasa masih menggunakan baju putih, apa pun bentuk sarungnya tetap nyambung dengan bajunya,” ujar Basnang.
Apabila diterapkan, inisiatif ini dapat menjadi contoh bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar. Kebiasaan memakai sarung dan peci pada waktu tertentu dapat menjadi pengingat sederhana akan nilai kebangsaan, keberagaman, dan penghormatan terhadap warisan budaya yang terus hidup dalam masyarakat Indonesia.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Menag Usul ASN Kemenag Pakai Sarung?
Menag Usul ASN Kemenag Pakai Sarung is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Menag Usul ASN Kemenag Pakai Sarung matter?
Menag Usul ASN Kemenag Pakai Sarung matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.