News

BI Ungkap Pemicu Rupiah Sempat Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Siap Jaga Stabilitas

Foto : Sarah Hernandez - nusantaranews1.com

BI Ungkap Penyebab Rupiah Melemah ke Rp18.000 per Dolar AS, Siap Jaga Stabilitas

Nusantaranews1.com – Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan terakhir didorong oleh kebijakan moneter yang diumumkan oleh The Fed, bank sentral Amerika Serikat. Dalam meeting results yang diungkapkan pada pertengahan Juni 2026, BI menyatakan bahwa faktor eksternal, khususnya kebijakan suku bunga The Fed, menjadi penyebab utama pergerakan mata uang kripto ini. Meski rupiah sempat menyentuh Rp18.009 per dolar AS, BI optimis mampu mempertahankan stabilitasnya melalui langkah-langkah yang telah dipersiapkan.

Analisis Fluktuasi Rupiah dalam Konteks Kebijakan The Fed

Dalam meeting results FOMC (Federal Open Market Committee) yang digelar bulan lalu, The Fed memutuskan untuk menjaga suku bunga acuan pada rentang 3,5 hingga 3,75 persen. Namun, ketegangan di pasar keuangan global terus meningkat setelah beberapa pejabat The Fed memberikan sinyal hawkish, menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga di masa depan. Ini berdampak signifikan pada peningkatan indeks dolar AS (DXY), yang mencapai level 101 pada akhir Juni 2026, menjauh dari posisi 95 di Januari 2026.

Menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, sinyal hawkish dari The Fed dan kenaikan DXY menjadi faktor utama yang memicu pelemahan rupiah. “Pertumbuhan indeks DXY menunjukkan kepercayaan pelaku pasar terhadap kebijakan moneter AS, yang secara langsung memengaruhi dinamika mata uang global,” katanya saat jumpa pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2026). BI mengakui bahwa tekanan eksternal ini membutuhkan respons yang cepat dan strategis untuk meminimalkan dampak pada perekonomian Indonesia.

Langkah BI untuk Stabilkan Kurs Rupiah

Setelah melalui meeting results dan evaluasi terhadap situasi pasar, BI mengambil langkah-langkah preventif untuk menjaga stabilitas rupiah. Salah satu strategi utama adalah intervensi di tiga sektor pasar keuangan strategis, termasuk pasar spot, NDF (Non-Deliverable Forward), dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward). BI juga meningkatkan komunikasi dengan pelaku pasar modal untuk memberikan kejelasan terkait arah kebijakan moneter.

Dalam pertengahan Juni 2026, rupiah berhasil berbalik arah dan ditutup menguat 0,08 persen ke Rp17.950 per dolar AS. Namun, dalam pergerakan harian, mata uang AS sempat menyentuh level Rp18.009, yang menjadi titik psikologis penting bagi pasar. “Meski ada tekanan, pergerakan rupiah masih terpantau relatif stabil dibandingkan negara-negara berkembang lainnya,” tambah Denny, menegaskan bahwa BI tetap aktif mengawasi dinamika kurs di pasar lokal maupun internasional.

BI berkomitmen untuk memperkuat kestabilan rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan. Langkah ini mencakup pengawasan 24 jam sehari terhadap pasar keuangan, serta koordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti otoritas moneter dan pemerintah. Dengan dukungan ini, BI yakin bahwa stabilitas kurs rupiah dapat terjaga, meski dinamika pasar global tetap tidak bisa diprediksi secara sempurna.

Menurut Denny, meeting results terbaru menunjukkan bahwa BI telah mengadaptasi strategi kebijakan moneter untuk menghadapi tantangan eksternal. “Kita perlu tetap fokus pada pencapaian target inflasi dan stabilitas nilai tukar, sambil mempertimbangkan kebutuhan ekonomi nasional,” jelasnya. BI juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan sektor pemerintah dan swasta untuk memastikan bahwa pergerakan rupiah tetap terkendali di tengah ketidakpastian global.

Dalam jangka panjang, BI memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah akan kembali stabil setelah penerapan stimulus moneter yang tepat. Meski begitu, meeting results juga menyatakan bahwa kestabilan kurs tidak bisa dicapai secara mandiri. BI mengajak semua pemangku kebijakan untuk bersinergi dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. “Dengan kombinasi kebijakan yang tepat dan komunikasi yang jelas, kita yakin rupiah akan kembali memperlihatkan performa yang baik,” pungkas Denny.

Leave a Comment