News

Latest Update: MUI Kritik Kekerasan di Ponpes Terus Terulang, Sebut Bertentangan dengan Pendidikan Islam

Foto : Jessica Moore - nusantaranews1.com
Daftar Isi
  1. Latest Update: MUI Terus Mengkritik Kekerasan di Ponpes, Tegaskan Konflik dengan Prinsip Pendidikan Islam
  2. Latar Belakang Kekerasan di Ponpes

Latest Update: MUI Terus Mengkritik Kekerasan di Ponpes, Tegaskan Konflik dengan Prinsip Pendidikan Islam

Nusantaranews1.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali mengkritik kasus kekerasan yang terus terjadi di berbagai pesantren (ponpes) di Indonesia. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Digital, KH Masduki Baidlowi, sebagai respons atas kejadian yang memicu perdebatan terkait perlakuan terhadap santri. Ia menyoroti bahwa kekerasan di ponpes bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan Islam yang seharusnya menekankan kelembutan, keteladanan, dan pembentukan karakter umat. Masduki menekankan bahwa peristiwa ini tidak hanya merusak reputasi lembaga pendidikan, tetapi juga mengancam keberlanjutan visi pendidikan agama yang moderat.

Latar Belakang Kekerasan di Ponpes

Kasus kekerasan di ponpes terjadi di beberapa wilayah, termasuk Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kebakaran yang menewaskan empat santri di Pondok Pesantren Rosyidatus Shaulatiyah Al-Ibrahimy pada 13 Desember 2025 menjadi momok besar bagi dunia pendidikan Islam. Pernyataan resmi dari kepolisian mengungkap bahwa dua tersangka ditetapkan dalam kasus tersebut, yaitu MR, seorang remaja, dan AMR, pimpinan ponpes. Kejadian ini memperlihatkan bahwa kekerasan tidak hanya terjadi secara sporadis, tetapi juga menjadi fenomena yang berulang dalam sistem pendidikan agama.

MUI menegaskan bahwa kekerasan di pesantren melanggar prinsip uswah hasanah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Prinsip ini mengharuskan para pendidik, kiai, atau guru menjadi teladan dalam mengasuh santri. “Latest Update, kekerasan dalam konteks pendidikan justru bisa memicu trauma dan merusak proses pembelajaran,” tambah Masduki dalam pernyataannya, dikutip Sabtu (18/7/2026). Ia menyoroti bahwa penggunaan kekerasan sebagai hukuman (ta’zir) harus memiliki batas, dan jika melanggar, harus diakui secara hukum.

Kondisi Pendidikan Islam di Indonesia

Kiai Masduki juga memaparkan bahwa pesantren memiliki peran penting dalam membentuk generasi umat Islam yang berakhlak mulia. Namun, kekerasan yang terus-menerus di berbagai ponpes menimbulkan pertanyaan serius. “Latest Update, keberhasilan pesantren dalam mencetak peserta didik yang berkualitas bergantung pada prinsip keterbukaan dan kelembutan,” jelasnya. Ia menyarankan bahwa MUI seharusnya terus melakukan pemantauan untuk memastikan nilai-nilai pendidikan Islam tidak dilupakan dalam praktik sehari-hari.

Kasus kekerasan di pesantren menjadi topik hangat dalam diskusi publik, terutama setelah keluarga korban melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib pada Juni 2026. Proses hukum yang diambil Polres Lombok Tengah menunjukkan bahwa kekerasan di ponpes bukan hanya isu moral, tetapi juga masalah hukum yang perlu diperhatikan. “Latest Update, ini adalah tanda bahwa pendidikan Islam harus beradaptasi dengan tantangan zaman sekarang,” ujarnya. Masduki menegaskan bahwa kebijakan internal pesantren tidak cukup, karena perlindungan santri harus menjadi prioritas.

Menyusul kritik MUI, sejumlah pesantren di daerah lain juga mulai meninjau ulang sistem pengajaran mereka. “Latest Update, kekerasan bisa berujung pada trauma psikologis yang berdampak jangka panjang,” kata salah satu kiai dari pesantren di Jawa Timur. Ia menambahkan bahwa pendidikan Islam harus berdiri di atas prinsip keadilan dan toleransi, bukan hanya kekuasaan atau kebiasaan yang sudah melekat sejak lama. MUI, sebagai lembaga yang berwenang dalam hal keagamaan, diharapkan dapat menjadi pengawas utama untuk menjaga integritas nilai-nilai Islam dalam pendidikan.

Latest Update – MUI juga mengingatkan bahwa kekerasan di pesantren bisa menjadi contoh buruk bagi masyarakat. “Latest Update, pendidik harus menjadi contoh bagus, bukan penegak hukum yang terlalu keras,” imbuhnya. Dalam sebuah pernyataan resmi, MUI mengatakan bahwa kasus kekerasan di ponpes harus dijadikan pembelajaran bagi seluruh pihak terkait. Kritik ini terutama ditujukan kepada pengelola pesantren yang terkesan tidak transparan dalam menghadapi masalah tersebut. “Latest Update, kekerasan di pesantren justru menimbulkan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan pendidikan Islam yang seharusnya memberi ilmu, bukan kesedihan,” tutup Masduki.

Leave a Comment