News

Latest Program: Studi UGM: Sakit DBD Bisa Habiskan Biaya hingga Rp5,6 Juta bagi Pasien Tanpa BPJS

Foto : Sarah Hernandez - nusantaranews1.com

Studi UGM: Pengeluaran Pasien DBD Tanpa BPJS Mencapai Rp5,6 Juta

Nusantaranews1.com – Dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat, Latest Program kini membawa perhatian terhadap biaya pengobatan yang sangat tinggi bagi pasien demam berdarah dengue (DBD) yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa beban ekonomi akibat penyakit DBD bisa mencapai hingga Rp5,6 juta per episode, berdasarkan laporan yang dikutip dari Takeda. Temuan ini menegaskan pentingnya Latest Program dalam mengurangi dampak finansial penyakit yang sering menyebar di Indonesia.

Beban Finansial Pasien DBD Tanpa BPJS

Studi UGM mengungkapkan bahwa pasien DBD yang tidak terdaftar dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menghadapi kesulitan besar dalam menanggung biaya perawatan. Diperkirakan, pengeluaran khusus untuk penyakit ini bisa mencapai Rp4,3 juta hingga Rp5,6 juta per kasus, dibandingkan pasien dengan BPJS yang hanya menghabiskan Rp1,1 juta hingga Rp1,3 juta. Hal ini mencerminkan perbedaan signifikan antara sistem kesehatan yang terlindungi dan yang tidak terlindungi. Latest Program menjadi solusi yang diperlukan untuk menutupi celah tersebut.

Penelitian ini meninjau data dari lebih dari 2 juta kasus rawat inap DBD yang tercatat di tahun 2024, menunjukkan bahwa beban ekonomi total mencapai USD550,9 juta atau setara Rp9 triliun. Biaya yang dihabiskan mencakup perawatan di rumah sakit, obat-obatan, serta transportasi dan akomodasi keluarga selama masa pemulihan. Latest Program bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan dan meminimalkan risiko kehilangan pendapatan akibat sakit.

Dampak DBD pada Keluarga dan Sosial

Menurut Dr. Diah Ayu Puspandari, M.Kes., MBA., Apt., peneliti dari FK-KMK UGM, beban ekonomi DBD tidak hanya terbatas pada biaya medis. “Banyak pengeluaran terkait transportasi dan akomodasi keluarga selama perawatan yang juga menjadi faktor utama,” katanya. Selain biaya perawatan, keluarga sering mengalami kerugian produktivitas karena harus mengambil waktu untuk merawat pasien. Latest Program diharapkan bisa mengurangi tekanan ini melalui pendanaan yang lebih merata.

“Dampak DBD tidak hanya berupa biaya pengobatan,” ujar Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. “Selama perawatan, anggota keluarga sering kehilangan waktu kerja dan produktivitas. Bahkan, ketika orang tua yang sakit, anak-anak atau anggota keluarga lain harus menggantikan peran mereka.”

Keluhan pasien DBD biasanya berlangsung hingga satu hingga dua minggu setelah keluar dari rumah sakit, sehingga produktivitas mereka belum sepenuhnya pulih. Latest Program juga menyoroti pentingnya pencegahan yang lebih aktif, seperti pengendalian sarang nyamuk dan deteksi dini di fasilitas kesehatan. Dengan pendekatan ini, risiko penyakit bisa diminimalkan, mengurangi jumlah kasus, dan akhirnya menekan biaya pengobatan secara berkelanjutan.

Studi UGM menekankan bahwa Latest Program bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi juga upaya strategis untuk membangun sistem kesehatan yang lebih inklusif. Dengan memperluas cakupan asuransi kesehatan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan DBD, program ini diharapkan mampu mengurangi rasio pasien tanpa BPJS yang menghadapi krisis finansial. Selain itu, Latest Program juga berperan dalam memastikan perawatan yang lebih cepat dan efisien, terutama di daerah dengan akses kesehatan terbatas.

Kelompok riset dari FK-KMK UGM mengungkap bahwa penyakit DBD tetap menjadi masalah utama di Indonesia, terutama di daerah pedesaan dan perkotaan yang kurang dilengkapi fasilitas kesehatan. Latest Program diharapkan mampu memberikan bantuan finansial bagi keluarga yang terkena dampak DBD, termasuk anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun. Karena biaya perawatan bisa sangat tinggi, program ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk memanfaatkan manfaat jaminan kesehatan yang tersedia.

Leave a Comment