Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi Kuat
Nusantaranews1.com – Menjadi sorotan dalam upaya menstabilkan nilai tukar rupiah yang kini mencapai Rp18.000 per dolar AS. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa fondamental ekonomi dalam negeri tetap kuat, meskipun pergerakan mata uang ini dipengaruhi oleh faktor eksternal. Penguatan rupiah tersebut menunjukkan kemajuan yang signifikan, terutama dalam lingkungan pasar global yang fluktuatif.
Faktor Penyebab Pergerakan Rupiah
Dalam wawancara terkini, Airlangga menjelaskan bahwa pergerakan rupiah di akhir semester pertama 2026 dipengaruhi oleh perubahan dinamika ekonomi global. Meski harga minyak mentah (BBM) mengalami kenaikan tajam di pasar internasional, pemerintah berkomitmen untuk mengurangi dampak negatifnya melalui Latest Program yang dijalankan secara bertahap. “Sementara satu bulan impor BBM memang negatif karena harga global naik, kita masih memiliki fondamental yang kuat,” kata Airlangga setelah menghadiri agenda KADIN Diplomatic Economic Breakfast, Jumat (10/7/2026).
Berdasarkan data terkini, neraca perdagangan Indonesia menunjukkan kinerja positif sepanjang tahun ini, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen. Airlangga menyoroti bahwa momentum ini menjadi bukti bahwa perekonomian nasional masih stabil, meskipun harus beradaptasi dengan perubahan kebijakan moneter internasional. “Penguatan rupiah ini juga didukung oleh upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasar dan menjaga inflasi di bawah 2,5 plus minus 1 persen,” tambahnya.
Langkah Pemerintah untuk Stabilkan Ekonomi
“Dari sisi perbankan, dana pihak ketiga telah mencapai angka double digit, dan kredit mulai berjalan lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya,” ungkap Airlangga.
Pemerintah terus memperkuat langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi, salah satunya melalui Latest Program yang memprioritaskan pengelolaan inflasi dan ketersediaan dana. Airlangga menjelaskan bahwa insentif bagi industri chemicals sedang disiapkan guna menutupi kenaikan impor bahan baku plastik, yang berdampak pada kestabilan harga barang di pasar. Selain itu, subsidi KPR dan KUR menjadi salah satu alat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama bagi sektor produktif.
Program ini juga memperhatikan kinerja ekspor, yang terutama diperkuat oleh industri kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy. Airlangga memastikan bahwa ekspor sektor ini tidak mengalami penurunan signifikan, sehingga menjaga daya saing Indonesia di pasar internasional. “Meski ada tekanan dari impor BBM, ekspor tetap menjadi pilar utama perekonomian,” ujarnya. Hal ini menegaskan bahwa Latest Program tidak hanya fokus pada angka-angka ekonomi, tetapi juga pada kebijakan yang berdampak jangka panjang.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi dan Langkah Jangka Menengah
Menurut Airlangga, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen untuk tahun ini. Ia menekankan bahwa keberhasilan Latest Program akan menjadi dasar untuk menghadapi tantangan ekonomi global, seperti perang dagang dan perubahan kebijakan fiskal negara lain. “Perekonomian kita tetap aman, dan program ini akan berdampak signifikan dalam beberapa bulan ke depan,” jelasnya.
Pada bagian lain, Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah sedang memperkuat struktur kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga konsistensi pertumbuhan. Dengan penerapan Latest Program, pemerintah berharap dapat menciptakan lingkungan bisnis yang lebih kondusif, terutama di sektor keuangan dan industri. “Kami tidak ingin hanya fokus pada peningkatan nilai tukar, tetapi juga pada penguatan daya beli masyarakat dan kestabilan harga,” tambahnya.
Berdasarkan data terbaru, nilai tukar rupiah yang mencapai Rp18.000 per dolar AS telah memberikan dampak positif pada sektor ekspor, karena menurunkan biaya produksi bagi produsen nasional. Airlangga memastikan bahwa indikator utama seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan neraca perdagangan akan terus dipantau secara ketat dalam rangka menjaga ketahanan perekonomian. “Program ini bukan sekadar respons terhadap situasi saat ini, tetapi juga sebagai upaya mendorong perekonomian ke arah yang lebih sehat,” pungkasnya.
