Latest Program: Emrus Sihombing Bicara Efek Pantul Cermin Film Pesta Babi: Semakin Dilarang, Semakin Booming
Latest Program – Dalam program terbarunya, Emrus Sihombing, seorang pakar politik dan komunikasi, memberikan wawancara mendalam mengenai fenomena efek pantul cermin dalam konteks film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini kembali menjadi sorotan setelah diberlakukan larangan di beberapa daerah. Menurut Emrus, kebijakan pembatasan akses ke film tersebut justru memberikan dampak sebaliknya, yaitu meningkatkan popularitasnya. “Efek pantul cermin ini terjadi karena larangan yang dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap konten film, yang justru membuat masyarakat lebih penasaran,” terangnya dalam sesi Latest Program bertajuk ‘Ada Apa di Balik Film Pesta Babi?’ yang disiarkan iNews, Selasa (19/5/2026).
Analisis Efek Pantul Cermin dalam Konteks Pemutaran Film
“Larangan bisa dianggap sebagai bentuk perhatian yang lebih intens, karena masyarakat merasa tertarik untuk mengetahui alasan dibelakangnya. Dalam teori efek cermin, semakin banyak yang menentang, semakin besar pula keinginan untuk memahami,” ujar Emrus dalam wawancara. Ia menyoroti bahwa larangan terhadap film ini sebenarnya berfungsi sebagai pemicu awal bagi penyebaran ide-ide yang disampaikan melalui karya tersebut. “Jika film itu dibiarkan tanpa hambatan, mungkin tidak akan secepat ini mencapai perhatian luas. Tapi dengan larangan, film justru mengalami momentum yang lebih kuat.”
Menurut Emrus, fenomena ini juga terkait dengan cara media sosial dan komunikasi massa memperkuat narasi. “Film ini diakses melalui platform digital, jadi ketika ada pembicaraan di media, penonton juga ikut tertarik. Kebijakan larangan justru memicu reaksi yang memperkuat keberadaannya di mata publik,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa ini menunjukkan bagaimana keterlibatan masyarakat dalam isu sosial dapat memperbesar dampak sebuah karya, bahkan jika ada perbedaan pandangan.
Strategi Komunikasi dalam Pemutaran Film
Emrus juga mengungkapkan bahwa pengetahuan tentang komunikasi pembangunan yang ia pelajari selama pendidikan S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi dasar analisisnya. “Komunikasi itu bukan sekadar menyampaikan pesan, tapi juga membangun kesadaran dan keterlibatan masyarakat,” terangnya. Dalam konteks film Pesta Babi, ia menekankan bahwa pemutaran yang dipersoalkan membutuhkan pendekatan yang lebih kreatif dan inklusif. “Kita harus berkomunikasi dengan berbagai kelompok, agar mereka memahami manfaat yang diperoleh, dan tidak hanya melihatnya sebagai ancaman.”
Ia menjelaskan bahwa film ini sebenarnya mengusung isu-isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti ketergantungan pada sistem kolonialisme dan kritik terhadap hegemoni budaya. “Jika masyarakat merasa film ini menggambarkan masalah yang mereka alami, mereka akan lebih mudah menerima pesannya. Tapi jika tidak diberi kesempatan untuk berdiskusi, mereka mungkin hanya menolak secara langsung.”
Emrus juga menyoroti peran media dalam memperkuat efek pantul cermin. “Media memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi secara proporsional. Jika film ini disebut sebagai ancaman, masyarakat akan ikut merasa tertarik untuk mengetahui seluruh konteksnya. Ini membantu memperluas wawasan dan membangun dialog yang lebih produktif,” tambahnya. Ia menyarankan bahwa larangan yang diberlakukan seharusnya disertai dengan upaya pengenalan ide-ide film tersebut, agar masyarakat tidak hanya menolak, tetapi juga memahami dan merespons secara baik.
Dalam Latest Program ini, Emrus juga menyinggung tentang bagaimana popularitas film bisa memengaruhi perdebatan politik dan budaya. “Ketika film dilarang, ia justru menjadi simbol perlawanan yang memicu minat publik. Ini bukan hanya tentang konten film, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat membangun identitas dan perspektif mereka terhadap isu-isu yang relevan,” katanya. Ia menambahkan bahwa fenomena ini perlu dipahami dalam konteks dinamika komunikasi modern, di mana larangan bisa menjadi alat pemasaran terselubung.
Dengan wawancara ini, Emrus Sihombing berharap masyarakat bisa lebih terbuka dalam menghadapi kritik dan perdebatan terkait film dokumenter. “Kita perlu mengakui bahwa larangan bisa menjadi bagian dari proses komunikasi, selama dilakukan dengan transparan dan berimbang. Jadi, Latest Program ini menjadi platform untuk menggali lebih dalam tentang dinamika tersebut,” pungkasnya. Kebijakan yang diterapkan terhadap film Pesta Babi menunjukkan bagaimana isu sosial bisa menjadi perbincangan yang memicu perubahan persepsi dan aksi publik.