News

Kekeringan Landa Kota Bima NTB – 1.129 KK Kesulitan Air Bersih

Foto : Patricia Rodriguez - nusantaranews1.com

Krisis Air Bersih Mengancam Kota Bima, NTB

Nusantaranews1.com – Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, tengah menghadapi tantangan besar akibat kekeringan landa Kota Bima NTB yang memicu kelangkaan air bersih bagi sekitar 1.129 kepala keluarga (KK). Menurut informasi yang diterima dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kondisi ini berdampak signifikan terhadap kebutuhan sehari-hari warga, terutama di bidang kehidupan, sanitasi, dan pertanian. Kurangnya curah hujan dalam beberapa minggu terakhir memicu penurunan tingkat air di berbagai sumber, baik alami maupun buatan, menyebabkan tekanan besar terhadap daya tahan pasokan air. Faktor-faktor seperti eksploitasi air secara berlebihan dan peningkatan kebutuhan konsumsi akibat cuaca panas, semakin memperparah situasi.

Situasi di Kota Bima dan Kecamatan Terdampak

BNPB mencatat bahwa kekeringan yang terjadi mengakibatkan penyumbatan aliran air di sumber-sumber utama seperti sumur, embung, dan sungai. Dampaknya merata di berbagai wilayah, termasuk Kecamatan Rasanae Barat, Mpunda, Raba, Asakota, dan sekitarnya. Wilayah yang paling terparah adalah Paruga, Pane, serta Sambinae, yang tercatat sebagai area dengan penggunaan air paling intens. Selain itu, kekeringan juga memengaruhi kegiatan ekonomi, terutama bagi petani yang mengandalkan irigasi tradisional.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, kondisi ini memicu kebutuhan untuk segera mengambil tindakan darurat. “Peningkatan kebutuhan air yang luar biasa membuat warga terpaksa mengambil air dari sumber yang lebih jauh, bahkan sampai berjam-jam perjalanan untuk mengisi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya dalam siaran pers. Ia menambahkan bahwa BNPB sedang bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengatasi masalah ini secepat mungkin, dengan harapan bahwa hujan musiman akan segera turun.

Persiapan dan Langkah Penanggulangan

BPBD Kota Bima telah melakukan evaluasi mendalam terkait kekeringan yang sedang berlangsung. Langkah-langkah penanggulangan termasuk pendistribusian air bersih secara darurat melalui mobil tangki dan penggunaan sumber air dari daerah lain yang masih terlepas dari dampak krisis. Hingga kini, sekitar 70.000 liter air telah didistribusikan kepada masyarakat yang terdampak, terutama di daerah dengan akses transportasi terbatas. Dalam upaya mempercepat respons, BPBD juga bekerja sama dengan organisasi lokal dan swasta untuk menggandeng sumber daya tambahan.

Menurut laporan terbaru, masyarakat yang terdampak memperlihatkan tingkat kekhawatiran yang meningkat. Banyak warga terpaksa menggunakan air sumur yang kotor untuk keperluan mandi, mencuci, dan minum. “Kondisi ini membuat kami harus berupaya keras untuk menemukan solusi jangka pendek,” kata perwakilan BPBD. Namun, meski kondisi sementara stabil, kekeringan kekeringan landa Kota Bima NTB bisa berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, tergantung pada pola curah hujan musiman.

Selain distribusi darurat, pemerintah setempat juga mengupayakan penghematan air melalui sosialisasi kepada warga. Program ini menekankan pentingnya penggunaan air secara bijak, seperti mengurangi penggunaan air untuk keperluan non-esensial, serta membangun sistem penyimpanan air yang lebih efisien. Kebutuhan air minum harian rata-rata per kepala keluarga mencapai 100 liter, yang dianggap cukup tinggi jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Pemerintah juga berharap adanya investasi dalam infrastruktur air yang lebih kuat.

Perkembangan terkini menunjukkan bahwa wilayah sekitar seperti Kecamatan Raba dan Asakota mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan. Namun, hal ini masih tergantung pada peningkatan hujan yang signifikan. Selama ini, masyarakat Kota Bima mengandalkan sumber air alami, tetapi dengan cuaca yang kering, mereka terpaksa mengambil langkah kreatif, seperti menggali sumur tambahan atau membeli air dari daerah lain. Warga juga meminta pemerintah menambah jumlah sumber air yang tersedia, terutama di area yang lebih terpencil.

Menurut data dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Bima, sumber air terbesar saat ini adalah embung dan sumur yang ada di masing-masing kelurahan. Namun, karena tingkat air terus menurun, beberapa embung harus ditutup sementara. Pemerintah juga sedang mengevaluasi kemungkinan pembangunan embung baru atau pemanfaatan teknologi pengolahan air. Keterlibatan masyarakat dalam menangani kekeringan kekeringan landa Kota Bima NTB menjadi bagian penting dari upaya penanggulangan, termasuk penggalangan dana dan kerja sama dengan organisasi masyarakat.

Leave a Comment