News

Important Visit: Mama Sinta Laporkan Ketua LBH Merauke ke Polda Metro Buntut Film Pesta Babi: Saya Kecewa Sekali

Important Visit: Mama Sinta Laporkan Ketua LBH Merauke ke Polda Metro Buntut Film Pesta Babi

Important Visit menjadi sorotan utama saat Mama Sinta, tokoh adat perempuan dan pejuang lingkungan dari Merauke, Papua, melaporkan Ketua LBH Merauke, JTW, ke Polda Metro Jaya. Tindakan ini diambil setelah film dokumenter “Pesta Babi” yang menampilkan wajahnya tanpa izin terus menyebar luas. Laporan tersebut diterima dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya pada 29 Mei 2026, sebagai langkah penting dalam memastikan hak atas privasi dan konsensi dirinya.

Pelaporan untuk Perlindungan Hak Pribadi

Menurut pengacara Mama Sinta, TS Hamonangan Daulay, laporan ke Polda Metro Jaya bertujuan melindungi kerahasiaan pribadi Mama Sinta. “Important Visit ke Polda Metro Jaya ini dilakukan agar film ‘Pesta Babi’ tidak menyebar tanpa izin. Film itu diputar di Jayapura, Maranatha, dan tempat lainnya, sehingga mengganggu privasi dan reputasi Mama Sinta,” jelasnya. Ia menekankan bahwa pemutaran film tanpa komunikasi sebelumnya menyebabkan rasa kecewa yang mendalam.

“Saya sangat kecewa karena film itu menampilkan wajah saya di berbagai media tanpa ada pembicaraan. Ini bukan hanya soal keterbukaan, tapi juga pelanggaran terhadap hak pribadi saya,” ungkap Mama Sinta. Ia menambahkan bahwa laporan ini adalah respons terhadap penyebaran film yang terus-menerus tanpa persetujuannya.

Langkah important visit ini menjadi bagian dari upaya Mama Sinta untuk menegaskan bahwa dirinya memiliki hak atas privasi dan konsensi dalam penggunaan gambar serta suaranya. Menurutnya, film “Pesta Babi” yang diproduksi oleh LBH Merauke telah mengangkat isu tentang perlindungan data pribadi secara tidak adil. “Sejak 8 April 2026, film tersebut sudah menyebar di berbagai platform, dan saya merasa tidak dihargai sebagai subjek utama dalam dokumentasi itu,” lanjut Mama Sinta.

Isi Film dan Reaksi Publik

Film “Pesta Babi” menggambarkan kehidupan adat Merauke, termasuk ritual pesta babi yang merupakan bagian dari budaya setempat. Namun, Mama Sinta menganggap film tersebut menyebar dengan cara yang tidak tepat, karena menampilkan wajahnya tanpa ada persiapan atau diskusi terlebih dahulu. “Masyarakat Merauke merasa terganggu, karena film itu memberi kesan negatif tentang adat mereka,” kata seorang warga setempat. Ini menunjukkan bahwa important visit ke Polda Metro Jaya bukan hanya tentang dirinya sendiri, tapi juga tentang dampak sosial dari penyebaran konten tersebut.

Di sisi lain, beberapa pihak menyatakan bahwa film “Pesta Babi” memberikan wawasan tentang kehidupan masyarakat Papua. Namun, Mama Sinta menilai bahwa pemutaran film tanpa izin mengganggu kepercayaan publik terhadap proses konsensi. “Important Visit ke Polda Metro Jaya ini diharapkan bisa menjadi contoh untuk menghindari kesalahan serupa di masa depan,” tambah TS Hamonangan Daulay. Tindakan tersebut juga menunjukkan komitmen Mama Sinta untuk menjaga martabat dan kepercayaan dirinya sebagai tokoh adat.

Penyebaran film “Pesta Babi” terjadi setelah sejumlah pertunjukan di Jayapura dan Maranatha. Mama Sinta mengklaim bahwa dirinya tidak terlibat dalam pembuatan film tersebut, sehingga merasa kecewa karena wajahnya digunakan tanpa sepengaturan. “Ini seperti mengambil gambar saya untuk promosi tanpa menanyakan apa yang saya inginkan,” katanya. Laporan ke Polda Metro Jaya dianggap sebagai bagian dari upaya penting untuk memperbaiki situasi ini dan menegaskan prinsip pentingnya konsensi dalam penggunaan konten pribadi.

Leave a Comment