Lifestyle

Visit Agenda: Mata Mulai Kabur Jangan Dikira Katarak, Bisa Jadi Lebih Berbahaya Retinopati Diabetik

Foto : Sarah Smith - nusantaranews1.com

Visit Agenda: Mata Kabur Bukan Selalu Katarak, Bisa Retinopati Diabetik

Nusantaranews1.com – Menyoroti pentingnya mengenali penyebab mata kabur yang mungkin bukan hanya katarak. Retinopati diabetik, komplikasi penyakit diabetes yang sering diabaikan, bisa menjadi kondisi lebih berbahaya. Banyak orang mengira masalah penglihatan ini berasal dari lensa mata yang kabur, namun pada kenyataannya, retinopati diabetik menyerang retina dan dapat menyebabkan kerusakan permanen jika tidak dideteksi dini. Karena gejala awalnya tidak terasa, banyak pasien hanya menyadari kondisi ini saat kondisi mata sudah memburuk.

Retinopati Diabetik: Penyebab Serius Mata Kabur

Retinopati diabetik adalah kondisi degeneratif yang terjadi akibat kerusakan pembuluh darah di retina akibat gula darah tinggi yang berkepanjangan. Profesor dr Muhammad Bayu Sasongko, M.Epid., Ph.D., Sp.M, mengatakan bahwa pada tahap awal, gejala ini bisa sangat subtis. “Seringkali pasien diabetes sudah mengalami tanda awal retinopati selama 5-10 tahun, tapi belum menyadari perubahan kecil dalam penglihatan,” ungkapnya dalam Forum Jurnalis Kesehatan Roche Indonesia bersama Kementerian Kesehatan, Senin (20/7/2026).

“Contoh gejala yang sering diabaikan adalah perubahan warna cahaya atau kurangnya kejernihan visual. Lampu 100 watt bisa terasa seperti 80 watt, atau warna merah tampak lebih pucat. Perubahan ini terjadi perlahan, sehingga banyak orang mengira ini hanya masalah biasa,” jelas Prof Bayu.

Dengan Visit Agenda, pasien diabetes bisa mengenali tanda-tanda retinopati diabetik lebih dini. Penyakit ini bisa berkembang hingga menyebabkan kebutaan, terutama jika tidak diatasi secara tepat. Profesor Bayu menambahkan bahwa rata-rata 30-40% pasien diabetes yang terdiagnosis melalui skrining rutin ternyata mengalami retinopati diabetik pada tahap awal, tanpa gejala yang mencolok.

Mengapa Skrining Mata Penting untuk Pasien Diabetes?

Visit Agenda menekankan bahwa skrining mata secara berkala adalah langkah pencegahan kritis. Deteksi dini memungkinkan perawatan lebih cepat, baik melalui pengaturan gula darah atau intervensi medis seperti laser therapy atau penggunaan obat anti-vasodilatasi. Menurut data dari Kementerian Kesehatan, sekitar 15% pasien diabetes yang tidak menjalani skrining rutin mengalami kebutaan permanen karena retinopati diabetik, dibandingkan hanya 5% yang menjalani skrining secara teratur.

Pasien yang mengabaikan gejala mata kabur bisa mengalami komplikasi yang serius. Retinopati diabetik terbagi menjadi tiga tahap: tahap awal (mikroneuroglia), tahap pertengahan (perdarahan dan neovaskularisasi), dan tahap akhir (kebutaan akibat retinal detachment). Dengan skrining mata yang teratur, Visit Agenda membantu mengidentifikasi tahap awal, sehingga meminimalkan risiko kerusakan irreversibel.

Kebiasaan hidup yang tidak sehat, seperti pola makan tinggi gula dan kurangnya olahraga, meningkatkan risiko retinopati diabetik. Prof Bayu menyoroti bahwa 70% kasus ini terjadi pada pasien yang tidak menjaga kadar gula darah secara konsisten. “Visit Agenda merekomendasikan skrining mata minimal setiap 6 bulan bagi pasien diabetes tipe 1 atau tipe 2 yang sudah menderita penyakit selama lebih dari 5 tahun,” lanjutnya.

Dalam panduan medis, retinopati diabetik juga dikaitkan dengan tingkat kontrol diabetes yang buruk. Pasien yang mengalami hiperglikemia kronis lebih rentan mengalami perubahan pada retina, termasuk pembengkakan dan kebocoran pembuluh darah. Dengan Visit Agenda, pasien dapat mengatur jadwal pemeriksaan rutin dan mengenali pentingnya menjaga kadar gula darah agar tetap stabil.

Leave a Comment