Inews Tv

Solving Problems: Mama Sinta Bantah Diintimidasi Aparat

Mama Sinta Tegaskan Tidak Diintimidasi oleh Aparat

Solving Problems adalah bagian dari upaya yang dilakukan Mama Sinta, tokoh perempuan adat dan aktivis lingkungan dari Merauke, Papua Selatan, dalam menyelesaikan berbagai tantangan yang dihadapinya. Dalam sebuah wawancara terkini, ia menyangkal klaim bahwa dirinya diintimidasi oleh aparat dan dibawa ke Jakarta menggunakan pesawat pribadi milik seorang pengusaha. Menurut Mama Sinta, perjalanan ke ibu kota dilakukan atas inisiatif pribadinya, tanpa campur tangan yang diduga mengintimidasi. “Saya tidak dijemput paksa, tidak ada intimidasi. Saya datang ke Jakarta karena harga diri saya,” ujarnya, Minggu (31/5/2026), saat menjelaskan latar belakang kunjungan tersebut.

Penolakan Narasi Media Lokal

Mama Sinta mengklaim bahwa narasi yang disebarkan oleh akun media lokal @laolao_papua tidak benar. Ia menegaskan bahwa perjalanan ke Jakarta hanya untuk menyelesaikan masalah hukum yang terkait dengan film dokumenter Pesta Babi. “Itu omong kosong. Namanya provokator,” tegas Mama Sinta, yang dikenal sebagai pengusul kebijakan lokal dan pelopor isu lingkungan di wilayahnya. Menurutnya, media tersebut sengaja memanipulasi fakta untuk memperkuat narasi yang menyerang kredibilitasnya sebagai aktivis.

Dalam wawancara tersebut, Mama Sinta juga menjelaskan bahwa dirinya telah menghadiri Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada Jumat (29/5/2026) untuk memberikan keterangan resmi terkait laporan yang diajukan. Pihak kepolisian menerima laporan dengan nomor register LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya, yang berisi pengaduan tentang penyelenggara film yang diduga melanggar Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Ia menegaskan bahwa wajahnya muncul dalam film tersebut tanpa izin, sehingga menimbulkan kontroversi.

Upaya Menyelesaikan Masalah Hukum

Solving Problems dalam konteks ini bukan hanya tentang menyelesaikan konflik dengan aparat, tetapi juga untuk memperjuangkan hak atas data pribadi yang dimiliki warga adat. Mama Sinta menekankan bahwa tindakan aparat yang diduga melakukan penindasan adalah bagian dari upaya mengendalikan isu-isu yang ia usung. “Saya ingin menyelesaikan masalah ini secara adil, bukan dengan cara yang membuat saya terlihat sebagai korban,” tambahnya.

Menurut Mama Sinta, dalam film Pesta Babi terdapat klaim-klaim yang tidak akurat terkait aktivitasnya di wilayah Merauke. Ia menjelaskan bahwa dirinya memang turut serta dalam kegiatan dokumentasi tersebut, tetapi hanya sebagai subjek yang dipilih secara sukarela. “Saya tidak diharuskan, tidak diwajibkan. Saya datang karena ingin melihat bagaimana film ini dianggap oleh publik,” jelasnya. Ini menunjukkan bahwa ia bersikeras menyelesaikan masalah dengan transparansi dan kejelasan.

Sebagai seorang perempuan adat yang berusia 62 tahun, Mama Sinta telah lama menjadi pionir dalam isu lingkungan dan hak masyarakat adat. Selama ini, ia aktif mengadvokasi penyelesaian masalah seperti deforestasi ilegal, eksploitasi sumber daya alam, dan konflik lahan. Kini, ia menghadapi tantangan baru dalam bentuk laporan hukum terkait kehadirannya di film dokumenter. Ia berharap melalui proses ini, ia dapat menyelesaikan masalah dengan cara yang mengedepankan prinsip hukum dan keadilan.

Mama Sinta juga menyoroti pentingnya Solving Problems dalam membangun hubungan yang sehat antara warga adat dengan pihak berwenang. “Jika kita tidak bisa menyelesaikan masalah secara baik, maka konflik akan terus berlanjut dan masyarakat akan merasa tidak diakui,” tuturnya. Dengan mendatangi Ditreskrimum, ia berharap mendapatkan kejelasan atas laporan yang diajukan, serta memastikan bahwa tindakan aparat tidak terkesan bersifat diskriminatif atau memperkuat narasi provokasi.

Dalam wawancara tersebut, Mama Sinta juga mengungkapkan bahwa beberapa pihak di wilayahnya menganggap perjalanan ke Jakarta sebagai langkah strategis untuk mengubah persepsi publik. “Saya ingin menyelesaikan masalah ini secara terbuka, agar semua pihak bisa melihat fakta yang sebenarnya,” katanya. Dengan demikian, Solving Problems tidak hanya menjadi fokus utama dalam keterlibatannya dengan aparat, tetapi juga dalam memperkuat kepercayaan masyarakat terhadapnya.

Mama Sinta mengingatkan bahwa menyelesaikan masalah tidak selalu berarti harus mengorbankan kebebasan individu. “Saya tetap berpegang pada prinsip Solving Problems dengan kejujuran dan transparansi,” pungkasnya. Ia berharap dengan langkah ini, konflik yang terjadi bisa diselesaikan tanpa ada yang terkesan memperkuat kekuasaan tertentu. “Jika Solving Problems dilakukan dengan baik, maka semua pihak akan saling menghormati,” tambahnya, menegaskan komitmen untuk menjaga keseimbangan antara hak asasi manusia dan kepatuhan hukum.

Editor: Vitrianda Hilba Siregar

Leave a Comment