Terungkap Pembacok IRT di Palangka Raya Diduga ODGJ yang Kehabisan Obat
Kasus Pembacokan di Jalan Mahir Mahar
Terungkap Pembacok IRT di Palangka Raya – Kasus pembacokan terhadap seorang IRT di Palangka Raya memicu perhatian publik setelah terungkap bahwa pelakunya diduga merupakan ODGJ yang mengalami kambuh akibat kehabisan obat. Kejadian ini terjadi pada hari Kamis, 14 Mei 2026, di Jalan Mahir Mahar, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya. Korban, Evi Julianti atau biasa disapa Memei (45), adalah seorang penjual dan tukang pijat yang mengalami luka berat di kepala, leher, serta kedua tangan hampir putus akibat serangan parang dari pelaku.
Menurut saksi yang mengungkap kejadian, korban ditemukan dalam kondisi kritis setelah mencoba berjalan ke warung warga untuk mencari bantuan. Meski terluka parah, korban masih sadar sebelum akhirnya pingsan. Insiden ini menjadi sorotan karena terungkapnya identitas pelaku sebagai ODGJ yang sebelumnya pernah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa.
“Korban dibacok pakai parang. Pelaku itu tetangga,” ujarnya. Menurut Awon, pemilik warung tempat kejadian, kondisi korban saat ditemukan sangat mengenaskan karena mengalami banyak luka bacok. “Kedua tangan korban nyaris putus, ada juga bacok di leher dan kepala,” tambahnya.
Proses Penanganan Darurat dan Penyelidikan
Petugas Brimob Polda Kalteng dan warga sekitar langsung bergerak cepat untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit setelah mendengar kabar kejadian. Dalam proses penyelidikan, polisi mengungkap bahwa pelaku berhasil diamankan dan dibawa ke rumah sakit jiwa untuk pemeriksaan psikologis. Kasus ini kini ditelusuri lebih lanjut oleh Polsek Pahandut guna memperjelas motif dan latar belakang tindakan kekerasan yang dilakukan ODGJ tersebut.
Dalam konferensi pers, Kepolisian menyatakan bahwa pelaku tidak memiliki niat jahat awal, melainkan tergoda oleh keadaan dan kondisi mental yang tidak stabil. Dari laporan awal, pelaku diduga mengalami kehabisan obat karena tidak bisa mengakses pasokan farmasi di sekitar rumahnya. Sementara itu, korban dirawat di ruang perawatan kritis rumah sakit dengan kondisi yang memerlukan pemantauan intensif.
Riwayat Pelaku dan Faktor Pemicu
Menurut warga setempat, Darlan Ginter, pelaku telah beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa dalam beberapa bulan terakhir. “Ia sudah beberapa kali masuk rumah sakit jiwa, kemungkinan penyakitnya kambuh dan kehabisan obat,” kata Darlan. Faktor ini dipercaya menjadi penyebab munculnya kejang emosional yang memicu tindakan anarkis pelaku terhadap korban.
Keluarga korban menyatakan bahwa peristiwa ini terjadi tanpa peringatan. “Kami tidak tahu kalau kondisi ODGJ itu sudah tidak stabil,” ujar salah satu saudara korban. Penyelidikan terus berjalan, dengan polisi memeriksa catatan medis pelaku dan mencari tahu hubungan antara kondisi kesehatannya dengan insiden kekerasan tersebut.
Respons Masyarakat dan Kebutuhan Penanganan Sosial
Insiden pembacokan di Palangka Raya memicu kecemasan warga sekitar, terutama terkait dengan perawatan psikologis dan pendampingan bagi ODGJ. “Kita perlu lebih memperhatikan kondisi mereka sebelum kejadian seperti ini terjadi,” katanya. Banyak warga mengkritik pemerintah daerah atas ketersediaan obat di rumah sakit dan keberhasilan pengelolaan penyakit mental di lingkungan kota.
Sementara itu, masyarakat mulai menggalang dana untuk membantu pemulihan korban. Pemulihan fisik dan mental korban menjadi prioritas, sementara pihak keluarga mengharapkan penjelasan lebih lanjut mengenai kejadian tersebut. Polisi juga berencana mengadakan sosialisasi mengenai penanganan ODGJ di lingkungan masyarakat sekitar.
Analisis dan Rekomendasi untuk Masa Depan
Dari sudut pandang psikologis, pakar mengungkapkan bahwa kehabisan obat bisa menjadi faktor kritis dalam memicu gangguan mental. “Kehabisan obat bisa menyebabkan ekspresi emosional yang ekstrem jika tidak didukung oleh intervensi yang tepat,” jelas Dr. Rizal, psikolog klinis dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Ia menyarankan bahwa pemerintah perlu meningkatkan akses obat psikotropika dan program pengawasan rutin bagi ODGJ di wilayah Kalimantan Tengah.
Persiapan dan penanganan darurat di tempat kejadian juga menjadi bahan evaluasi. “Dengan adanya keterlibatan ODGJ, kita perlu lebih siap dalam menangani situasi krisis di lingkungan warga,” imbuh Dr. Rizal. Ia menyarankan adanya pelatihan bagi masyarakat tentang cara menghadapi gangguan mental sebelum kejadian yang lebih parah terjadi.
Kebutuhan untuk Memperkuat Sistem Pengawasan
Kasus ini mengingatkan pentingnya memperkuat sistem pengawasan dan pendampingan terhadap ODGJ. Pihak keluarga korban mengharapkan adanya mekanisme keamanan tambahan di sekitar rumah pelaku agar insiden serupa tidak terulang. “Kalau ODGJ diberi keamanan yang cukup, mungkin kejadian seperti ini bisa dicegah,” ujar salah satu warga yang tidak ingin disebutkan namanya.
Kepolisian Kalteng berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini hingga tuntas. “Kita akan terus melacak informasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait guna memastikan penanganan yang tepat,” jelas Kasat Reskrim Polresta Palangka Raya. Dengan adanya peluang untuk mencegah konflik serupa, kasus pembacokan IRT di Palangka Raya menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sistem pengawasan dan kesehatan mental di daerah tersebut.