Berita

New Policy: Keraton Yogya Berduka, Bagas Korban Tewas saat Glamping Ternyata Fotografer Tundha Yekti

New Policy: Keraton Yogya Berduka, Bagas Tewas Saat Glamping di Tandha Yekti

New Policy – Penyebab kematian Bagas Amar Hakiki (21), fotografer yang menjadi korban kecelakaan saat mengikuti aktivitas glamping di Tandha Yekti, sedang diteliti. New Policy ini memicu perhatian publik karena melibatkan kelembagaan Keraton Yogya yang selama ini dianggap sebagai simbol budaya Jawa. Kejadian tragis tersebut terjadi pada 28 Mei 2026, ketika keluarga Bagas yang terdiri dari tiga anggota, MHM (52), M (43), dan AEH (17), ditemukan dalam kondisi tubuh kaku di dalam tenda mereka di Desa Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Kejadian Tragis dan Respons Keraton Yogya

Dalam pernyataan resmi, Pengajeng Hudyanawara Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Nyi RW Kartiutami Guritno, mengungkapkan bahwa Bagas adalah salah satu fotografer yang aktif di kawasan Tandha Yekti. “Betul. Mas Bagas salah satu fotografer kami di Kawedanan Tandha Yekti,” katanya. Kematian Bagas menjadi sorotan karena ia turut serta dalam program magang yang dipandu oleh Keraton Yogya, sebuah kelembagaan yang memperkenalkan New Policy dalam mengelola aktivitas budaya dan wisata di kawasan keraton.

Glamping, atau glamorous camping, merupakan tren wisata yang semakin populer di daerah seperti Tandha Yekti. New Policy ini dirancang untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung, terutama dalam kegiatan yang menggabungkan wisata alam dengan budaya lokal. Namun, kejadian di Tandha Yekti mengingatkan kembali pentingnya pengawasan ketat dalam menjalankan kebijakan baru tersebut. Selain Bagas, dua anggota keluarga lainnya juga mengalami kematian, yang menimbulkan pertanyaan tentang persiapan dan protokol yang diterapkan selama kunjungan.

Investigasi dan Faktor Penyebab Kecelakaan

Pihak berwenang masih mengejar penyebab pasti kecelakaan yang menewaskan Bagas dan dua anggota keluarganya. Selain faktor cuaca, seperti hujan deras yang mengganggu stabilitas tenda, petugas juga memeriksa keandalan fasilitas dan panduan oleh pengelola glamping. New Policy yang dijalankan Keraton Yogya mencakup standarisasi peralatan dan pelatihan bagi petugas pengawas. “Kami sudah menerapkan New Policy untuk mencegah kecelakaan serupa, tapi jelas masih ada celah yang perlu diperbaiki,” kata Nyi RW Kartiutami Guritno.

Dalam upaya memperbaiki kesalahan, Keraton Yogya berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap New Policy yang diterapkan. Evaluasi ini melibatkan keterlibatan ahli keselamatan dan pengelola kegiatan serupa di kawasan lain. Selain itu, keluarga korban meminta pihak keraton untuk memberikan penjelasan lengkap mengenai prosedur pengawasan yang dilakukan saat kejadian. “Kami ingin memastikan New Policy benar-benar memberikan perlindungan maksimal bagi peserta,” tambahnya.

Glamping di Tandha Yekti, yang sebelumnya dianggap sebagai pengalaman unik dan aman, kini menjadi bahan evaluasi setelah kejadian tersebut. New Policy yang diterapkan Keraton Yogya mencakup penggunaan tenda anti-angin, pelatihan keselamatan untuk peserta, dan pengawasan 24 jam. Meski sudah mengambil langkah-langkah tersebut, kejadian Bagas mengingatkan kembali bahwa keamanan dalam aktivitas budaya dan wisata tetap menjadi prioritas utama. Keluarga korban juga mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap kesiapan pihak keraton sebelum kejadian.

Sebagai respons terhadap kejadian ini, Keraton Yogya berkomitmen untuk memperkuat New Policy dalam beberapa aspek. Antara lain, mereka berencana mengadakan workshop berkala untuk pengelola glamping dan peserta, serta memperbaiki sistem alarm di area tenda. New Policy ini juga diharapkan menjadi contoh bagi kelembagaan lain dalam mengintegrasikan keamanan dengan kegiatan budaya. Selain itu, kejadian Bagas menjadi momentum penting untuk mempercepat adopsi teknologi pemantauan real-time di lokasi wisata keraton.

Leave a Comment