Main Agenda: Tiga Gili KLU Hadapi Masalah Air Bersih dan Sampah
Main Agenda – Di tengah peningkatan popularitas pariwisata Tiga Gili di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB), masalah utama seperti ketersediaan air bersih dan pengelolaan sampah terus menjadi fokus utama dalam Main Agenda pengembangan destinasi wisata ini. Hal ini diungkapkan oleh legislator Partai Perindo, HM Taufik, yang menekankan perlunya pembenahan infrastruktur dasar guna menjaga kualitas pengalaman wisatawan. Masalah tersebut, jika tidak segera diperbaiki, berpotensi mengurangi daya tarik Tiga Gili sebagai salah satu lokasi wisata unggulan di NTB.
Peran Air Bersih dalam Pemenuhan Fasilitas Pariwisata
Menurut Taufik, kurangnya akses air tawar di Gili Meno menjadi isu serius yang memengaruhi operasional wisatawan dan pelaku usaha lokal. “Sudah tiga tahun terakhir belum ada fasilitas air bersih yang memadai di Gili Meno. Ini membuat pengusaha mengeluh, terutama saat musim paruh pertama tiba,” jelasnya. Persoalan ini tidak hanya mengganggu kenyamanan pengunjung, tetapi juga mengurangi potensi pendapatan daerah yang bergantung pada sektor pariwisata.
“Kita harus memprioritaskan pembenahan fasilitas dasar agar pariwisata KLU tetap kompetitif,” tegas Taufik, yang juga menjabat sebagai anggota Pansus Pajak dan Retribusi DPRD KLU. Ia menegaskan bahwa Main Agenda pembenahan infrastruktur harus segera dijalankan, baik melalui peran pemerintah maupun kolaborasi dengan masyarakat dan pemilik usaha.
Manajemen Sampah sebagai Ancaman Jangka Panjang
Dalam aspek pengelolaan sampah, Taufik mengingatkan bahwa ketidaksempurnaan dalam sistem pengumpulan dan pemrosesan limbah bisa memperparah dampak negatif terhadap lingkungan dan reputasi Tiga Gili. “Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menumpuk di daerah wisata, merusak ekosistem, dan mengurangi minat turis,” ujarnya. Saat ini, Gili Air dan Gili Meno telah menerapkan sistem pengangkutan sampah secara bersamaan dengan masyarakat, tetapi Gili Trawangan masih menghadapi tantangan karena fasilitas pengolahan sampah belum optimal.
Legislator ini menyoroti bahwa pembenahan masalah air dan sampah tidak hanya penting untuk keberlanjutan pariwisata, tetapi juga untuk meningkatkan PAD daerah. “Dengan Main Agenda ini, kita bisa mengoptimalkan pendapatan asli daerah, sekaligus memastikan kesejahteraan masyarakat sekitar,” tambah Taufik. Ia menyarankan peningkatan pelayanan dermaga, pengembangan jalan lingkungan, serta penerangan yang lebih merata di area wisata.
Strategi Kolaborasi dan Kemajuan Pembenahan
Dalam rangka mencapai Main Agenda pembenahan, DPRD KLU berharap melibatkan pelaku usaha secara aktif, termasuk pengelola properti, transportasi laut, serta UMKM. “Pembahasan Raperda Perubahan Pajak dan Retribusi menjadi momentum untuk mendorong perbaikan secara bertahap, baik dalam pendapatan daerah maupun kesejahteraan wisatawan,” jelas Taufik. Ia menekankan perlunya koordinasi antar lembaga dan masyarakat guna menciptakan solusi yang holistik dan berkelanjutan.
Pengelolaan sampah dan akses air bersih menjadi dua isu yang paling mendesak dalam Main Agenda Tiga Gili. Taufik menyatakan bahwa pembenahan ini bisa dilakukan melalui peningkatan sistem pengumpulan sampah, pemasangan fasilitas pengolahan air, serta edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. “Jika kita bisa memperbaiki dua aspek ini, maka daya tarik Tiga Gili akan tetap terjaga, bahkan meningkat,” imbuhnya.