Longsor Terjang Banjar Kalsel – 10 Rumah Rusak dan Puluhan Jiwa Mengungsi
Longsor Terjang Banjar Kalsel – Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, menjadi korban bencana alam berupa longsor pada hari Minggu, 10 Mei 2026. Bencana ini mengguncang Desa Tanah Abang, Kecamatan Mataraman, dan menyebabkan kerusakan signifikan pada bangunan serta evakuasi warga ke tempat yang lebih aman. Berdasarkan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), setidaknya 10 unit rumah mengalami kerusakan akibat tertimbun material longsor, sementara puluhan jiwa terpaksa mengungsi akibat risiko bahaya yang mengancam. Situasi ini memperlihatkan dampak serius dari fenomena alam yang terjadi di wilayah tersebut, menyoroti kebutuhan untuk meningkatkan antisipasi dan respons terhadap bencana hidrometeorologi.
Penyebab Longsor dan Kondisi Wilayah yang Rentan
Menurut pengakuan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, longsor di Banjar Kalsel dipicu oleh kondisi tanah yang mengalami kestabilan rendah. Curah hujan deras yang terjadi beberapa hari sebelumnya meningkatkan risiko terjadinya longsor, terutama di daerah dengan topografi curam dan permukaan tanah yang rentan erosi. “Kondisi ini memperparah keadaan, sehingga longsor bisa terjadi secara mendadak dan memengaruhi area pemukiman warga,” jelas Abdul Muhari dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa, 12 Mei 2026.
“Kami sedang melakukan evaluasi awal untuk memahami titik tekan yang mengakibatkan longsor ini, termasuk tingkat kerusakan pada jalan dan bangunan,” tambahnya.
Kondisi tanah yang lembap akibat hujan intensif menyebabkan penurunan kekuatan struktur, sehingga tanah tidak lagi mampu menahan beban dari lapisan atas. Kecamatan Mataraman, khususnya, sering kali menjadi titik rawan karena aktivitas pertambangan dan konstruksi yang berdampak pada stabilitas lereng. Longsor terjadi sekitar pukul 14.00 WITA, menyebabkan aliran material yang menggulingkan beberapa rumah dan memisahkan warga dari jalur evakuasi. BNPB mengungkapkan bahwa dampak bencana ini terutama dirasakan oleh warga yang tinggal di permukiman informal atau dekat dengan area hutan.
Kondisi Pasca-Longsor dan Upaya Penanganan Darurat
Pasca-Longsor Terjang Banjar Kalsel, tim relawan dan petugas BPBD setempat langsung bekerja untuk mengamankan area dan mengevakuasi warga yang terjebak. Sejumlah rumah yang rusak terparah mengalami kerusakan struktur dinding dan atap, sementara yang lain hanya mengalami kerusakan ringan. Pemerintah setempat memberikan bantuan sementara berupa tenda pengungsian, makanan, dan peralatan sanitasi untuk memastikan kenyamanan warga yang terdampak.
“Warga yang terkena longsor Terjang Banjar Kalsel sudah berpindah ke tempat tinggal keluarga terdekat, tetapi kami masih mengawasi kondisi mereka untuk mencegah penyebaran penyakit dan kelelahan,” kata Kepala BPBD Kabupaten Banjar, yang tidak disebutkan nama lengkapnya.
Untuk mempercepat penanganan, BNPB mengirimkan tim pemantau ke lokasi. Akses jalan utama masih terbuka, meski terdapat beberapa titik kemacetan akibat material longsor yang terlempar. “Kami juga memperkirakan potensi longsor susulan jika hujan masih terus mengguyur wilayah ini,” kata Abdul Muhari, menegaskan perlunya pengawasan terus-menerus terhadap cuaca dan kestabilan tanah.
Upaya Pemulihan dan Koordinasi dengan Pihak Terkait
Pemulihan pasca-Longsor Terjang Banjar Kalsel sedang digalakkan melalui kerja sama antara BNPB, BPBD, dan pihak kelurahan. Warga yang mengungsi diberi layanan kesehatan dan psikologis, terutama bagi mereka yang mengalami cedera akibat bencana. Pemerintah daerah juga berupaya mengkoordinasikan distribusi bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Koordinasi dengan lembaga seperti Pemda Banjar dan TNI/Polri juga diperkuat guna memastikan proses evakuasi berjalan lancar. “Kami sedang mengevaluasi kebutuhan jangka pendek dan menengah, termasuk rencana pembersihan material longsor dan rehabilitasi rumah rusak,” kata Abdul Muhari.
Pemantauan BNPB tidak hanya terfokus pada Banjar Kalsel, tetapi juga mencakup daerah lain yang potensinya rentan terhadap bencana serupa. Kepala BNPB menambahkan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu memerlukan perhatian khusus, terutama di daerah dengan kemiringan lereng tinggi. “Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terlebih jika terjadi hujan lebat atau perubahan suhu tiba-tiba,” ujar Abdul Muhari, mengingatkan bahwa tindakan pencegahan sangat penting untuk mengurangi korban di masa depan.
Pelajaran dari Longsor Terjang Banjar Kalsel
Longsor Terjang Banjar Kalsel menjadi bencana yang mengingatkan akan pentingnya pengelolaan sumber daya alam dan penguatan infrastruktur. Dalam penelitian BNPB, wilayah ini termasuk salah satu daerah yang berisiko tinggi karena tingkat urbanisasi yang cepat di lereng bukit. “Perlu adanya pembangunan tanggul penahan dan drainase untuk mengurangi aliran air yang memicu longsor,” sarankan Abdul Muhari.
Dalam upaya mitigasi bencana, pemerintah setempat sedang merancang program peningkatan kesadaran masyarakat akan risiko longsor. Selain itu, pihak terkait juga menggencarkan pemasangan alat pengukur curah hujan dan sistem peringatan dini untuk meminimalkan kerugian. “Kami menilai bahwa keberhasilan penanggulangan bencana bergantung pada kecepatan respons dan kesiapan masyarakat,” ujar Abdul Muhari.
BNPB juga mengingatkan bahwa penanganan bencana harus didukung oleh data yang akurat dan up-to-date. “Dengan mengetahui pola cuaca dan kestabilan tanah, kita bisa memprediksi potensi longsor dan mempersiapkan diri lebih baik,” jelasnya. Penyebab utama longsor di Banjar Kalsel bukan hanya faktor alam, tetapi juga aktivitas manusia yang berdampak pada lingkungan. Dengan demikian, keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat menjadi elemen penting dalam upaya penanggulangan bencana di masa depan.
Upaya untuk memulihkan situasi pasca-Longsor Terjang Banjar Kalsel terus berjalan, diiringi dengan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan penanggulangan. Selain itu, daerah lain yang berpotensi terkena bencana serupa, seperti Kabupaten Tapin dan Hulu Sungai Selatan, juga menjadi perhatian BNPB. “Kami akan menggencarkan pelatihan dan simulasi bencana untuk mempersiapkan warga lebih baik,” kata Abdul Muhari.
Dengan peningkatan kewaspadaan dan penanggulangan bencana yang lebih terarah, diharapkan dampak dari Longsor Terjang Banjar Kalsel bisa diminimalkan. BNPB terus memberikan dukungan kepada Pemda dan masyarakat setempat untuk membangun ketahanan di tingkat lokal. “Masyarakat adalah pilar utama dalam pengurangan risiko bencana, dan kami berharap mereka bisa terlibat aktif dalam pengelolaan lingkungan,” pungkas Abdul Muhari.