2 Pendaki Ilegal Gunung Semeru Masuk Jurang Dievakuasi, 1 Terjebak di Dalam Lembah
2 Pendaki Ilegal Gunung Semeru Masuk – Dua pendaki ilegal Gunung Semeru yang terjebak di jurang berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan, namun satu orang masih terperangkap di dalam lembah curam yang berbahaya. Insiden ini terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBS), Jawa Timur, saat tiga pendaki ilegal mengalami kecelakaan di jalur yang tidak resmi. Dua dari mereka kini berada di Puskesmas Ampelgading untuk pemeriksaan medis, sementara korban ketiga masih dalam kondisi kritis setelah terjatuh dari tebing.
Evakuasi Berlangsung Berat di Jalur Tegak
Kepala Bagian Tata Usaha BB-TNBTS, Bambang Suryono, mengatakan bahwa proses evakuasi memakan waktu sekitar 48 jam karena medan yang sangat berat. Tim SAR harus menggunakan alat vertical rescue khusus untuk mengangkat korban dari lembah yang curam. “Dua pendaki ilegal Gunung Semeru berhasil dibawa ke posko evakuasi dini hari tadi. Meski kondisi mereka dianggap stabil, tim medis tetap melakukan evaluasi menyeluruh di Puskesmas Ampelgading,” jelas Bambang, Jumat pagi.
Korban ketiga, seorang remaja berinisial C (18 tahun), terjatuh dari tebing pada Selasa pagi setelah kehilangan keseimbangan. Ponselnya menjadi sarana komunikasi utama, mengirimkan informasi ke orang tua bahwa dirinya terjebak di jurang dan membutuhkan pertolongan segera. Meski tim evakuasi langsung bergerak ke lokasi berdasarkan koordinat yang dikirim, prosesnya terhambat karena baterai ponsel korban habis.
Risiko Jalur Ilegal dan Upaya Pemantauan
Jalur Candi Jawar, Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading, merupakan jalur ilegal yang selama ini digunakan oleh pendaki untuk menghindari biaya masuk atau pengawasan petugas. Risiko tinggi di jalur ini terlihat jelas, terutama karena curamnya lereng dan minimnya titik pengawasan. “Korban ketiga masih terjebak di dalam jurang, namun kita sedang berupaya keras untuk menemukan dan mengevakuasinya,” tambah Bambang.
Kepala Pusat Pengendalian Operasi SAR, Doni, menyatakan bahwa evakuasi korban ketiga membutuhkan koordinasi intensif antar tim. “Kita mengirimkan alat vertical rescue khusus ke lokasi, dan seluruh proses dievakuasi secara bertahap sejak Jumat siang,” kata Doni. Pendaki ilegal Gunung Semeru seperti ini sering kali mengabaikan keselamatan, terutama saat musim hujan yang membuat jalur semakin licin.
Insiden Menyebabkan Perhatian Masyarakat dan Pihak Terkait
Insiden yang terjadi di Gunung Semeru ini telah menimbulkan perhatian luas dari masyarakat setempat dan pihak terkait. Warga sekitar menyatakan bahwa jalur Candi Jawar kerap digunakan oleh pendaki ilegal karena jauh lebih cepat daripada jalur resmi. “Kami sudah memperingatkan beberapa kali, tetapi masih banyak pendaki yang mengambil risiko,” ujar warga setempat, Amin.
Besarnya jumlah pendaki ilegal Gunung Semeru juga memperburuk situasi. Dalam satu minggu terakhir, pihak park telah mencatat 20 pendaki ilegal yang terjebak di berbagai titik. Evakuasi dua dari tiga korban ini menunjukkan upaya pemerintah untuk mengurangi risiko kecelakaan di area yang rawan. “Kita terus meningkatkan pemeriksaan jalur ilegal dan memberikan edukasi kepada pendaki,” kata Doni.
Dalam beberapa hari terakhir, tim SAR juga telah melakukan penelusuran di area sekitar untuk menemukan korban ketiga. Jalur yang terjal dan ekstrem membuat evakuasi membutuhkan peralatan canggih serta tim yang terlatih. Selain itu, cuaca buruk dan hujan deras meningkatkan risiko kecelakaan di Gunung Semeru, yang secara umum dikenal sebagai gunung dengan tingkat ketinggian dan curam yang sangat tinggi.
Langkah Peningkatan Keselamatan dan Penegakan Aturan
Setelah kejadian ini, pihak BB-TNBTS berencana meningkatkan penegakan aturan terkait pendakian ilegal. “Kita akan memberikan sanksi lebih berat kepada pendaki yang tidak mengikuti prosedur masuk dan keluar gunung,” kata Bambang. Peningkatan keselamatan juga melibatkan penggunaan alat pelindung tambahan serta penempatan petugas di jalur resmi.
Evakuasi dua pendaki ilegal Gunung Semeru menunjukkan bahwa pihak SAR sudah sangat siap dalam menghadapi situasi darurat. Meski evakuasi jadi lebih berat, mereka tetap menjalankan tugas dengan profesional. “Kita tidak menyerah meskipun medan sangat berat, karena keamanan pendaki adalah prioritas utama,” kata Doni. Insiden ini diharapkan menjadi pelajaran bagi pendaki ilegal lainnya untuk lebih berhati-hati dalam memilih jalur dan mengikuti protokol keselamatan.