Key Strategy: Rupiah Rp18.000 per Dolar AS, BEM SI Segel Kantor BI Jateng
Jumat, 5 Juni 2026
Key Strategy – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melangsungkan aksi demonstrasi besar-besaran di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah pada Jumat (5/6/2026). Protes ini menyoroti penurunan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), yang dianggap sebagai isyarat tekanan terhadap kebijakan moneter yang saat ini dijalankan. Aksi ini bukan hanya tindakan spontan, tetapi juga bagian dari strategi kolektif yang dirancang untuk menyampaikan kekhawatiran masyarakat terhadap kestabilan perekonomian nasional.
Pelaksanaan Aksi
Aksi demonstrasi yang berlangsung di depan kantor BI Jateng dilengkapi dengan tindakan teatrikal seperti tabur bunga, pembakaran uang mainan, dan penyegelan gerbang. Massa aksi menegaskan kritik mereka terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak mampu menjaga kestabilan kurs rupiah. Tindakan penyegelan di pagar utama kantor BI ini secara simbolis menggambarkan ketidakpuasan terhadap pengelolaan ekonomi yang sedang kritis, sekaligus mengingatkan pihak berwenang agar segera bertindak.
Permintaan dari Koordinator BEM SI
Koordinator Isu Ekonomi dan Ketenagakerjaan BEM SI, Kevin Kurnia Priambodo, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bagian dari strategi mengingatkan pemerintah untuk segera merumuskan langkah-langkah konkret. “Key Strategy” BEM SI terfokus pada peningkatan transparansi dan kebijakan yang mampu menangkal inflasi serta melindungi kemampuan beli masyarakat kecil. Kevin juga meminta BI untuk lebih proaktif dalam mengatur pasokan uang dan mengawasi kenaikan harga barang kebutuhan pokok.
“Kami tidak hanya menyampaikan kekhawatiran, tetapi juga memberikan sinyal bahwa tindakan serius harus diambil segera. Penurunan rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS menunjukkan bahwa sistem ekonomi saat ini sedang mengalami tekanan besar. Key Strategy kami adalah menggali solusi yang berkelanjutan dan terukur,” tutur Kevin dalam pidatonya.
Kritik Terhadap Kebijakan Pemerintah
Dalam aksinya, massa BEM SI juga menyebarkan uang kertas sebagai simbol krisis yang kian menghawatirkan. Protes ini dianggap sebagai sindiran terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dianggap mengalihkan dana rakyat tanpa hasil yang signifikan. Demonstran menyoroti ketidakseimbangan antara subsidi yang diberikan dan pengelolaan kebijakan moneter yang terkesan lambat responsif. Key Strategy mereka menyasar perubahan pola pemerintahan dalam menghadapi tekanan ekonomi yang sedang berlangsung.
Analisis Impak Ekonomi
Penurunan rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS menciptakan dampak yang luas di berbagai sektor. Khususnya, masyarakat berpenghasilan rendah mengalami tekanan signifikan karena daya beli mereka tergerus. Key Strategy dalam aksi ini tidak hanya fokus pada kesadaran publik, tetapi juga untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak agar pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan. Inflasi yang meningkat terus menerus, kemiskinan yang meluas, dan risiko PHK massal menjadi tantangan utama yang dihadapi perekonomian Jateng dan Indonesia secara keseluruhan.
Respons Pemerintah dan Solusi yang Diusulkan
Aksi BEM SI memicu respons dari pihak BI dan pemerintah. Meski kebijakan moneter mereka dinilai kurang efektif, BI mengklaim bahwa langkah-langkah seperti pemangkasan suku bunga dan stimulasi ekonomi sudah diambil. Key Strategy BEM SI, namun, menekankan perlunya penerapan kebijakan yang lebih konsisten dan transparan. Mereka meminta BI untuk bekerja sama lebih erat dengan lembaga pemerintah lainnya, seperti Kementerian Perdagangan, dalam mengurangi ketergantungan pada impor dan mendorong ekspor. Selain itu, mereka juga menyerukan perlunya reformasi struktural untuk memperkuat stabilitas ekonomi jangka panjang.
Perspektif Jangka Panjang
Kehadiran massa BEM SI di kantor BI Jateng menunjukkan perhatian besar mahasiswa terhadap isu ekonomi. Key Strategy mereka diharapkan mampu membangun kesadaran publik akan pentingnya stabilitas kurs rupiah. Aksi ini juga menjadi pengingat bahwa kebijakan moneter yang tidak responsif dapat menimbulkan krisis lebih besar, seperti tekanan inflasi yang terus meningkat dan penurunan daya beli masyarakat. Dengan adanya aksi seperti ini, BEM SI berharap mampu mendorong pemerintah untuk segera menangani isu ekonomi dengan langkah yang lebih efektif dan berkelanjutan.