Travel

Rahasia Memasak Telur agar Protein Maksimal – Suhu Jadi Kunci

Foto : Patricia Rodriguez - nusantaranews1.com

Rahasia Memasak Telur agar Protein Maksimal, Suhu Jadi Kunci

Nusantaranews1.com – Memasak telur tidak hanya memengaruhi rasa dan tekstur, tetapi juga memainkan peran penting dalam menentukan nilai gizi dan kualitas protein yang dihasilkan. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani, menegaskan bahwa suhu pemanasan menjadi faktor kritis dalam proses ini.

Proses Pemanasan dan Denaturasi Protein

Dalam memasak telur, protein yang awalnya dalam bentuk cair akan mengalami perubahan struktur. Proses ini, yang disebut denaturasi, membuat protein lebih mudah dicerna oleh tubuh. Namun, suhu yang terlalu tinggi bisa merusak kandungan gizi, terutama asam amino.

“Proses memasak telur meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga 91 persen, jauh lebih baik dibandingkan telur mentah yang hanya 51 persen,” kata Dr Karina.

Ia menyarankan suhu optimal untuk memasak telur berkisar antara 60 hingga 80 derajat Celsius. Suhu ini cukup untuk memastikan protein tetap terjaga, tetapi tidak terlalu tinggi hingga merusak nutrisi. Pemanasan di atas 150-160°C selama waktu lama berisiko mengurangi kualitas protein.

Pengaruh Minyak Terhadap Nilai Gizi

Dalam memasak telur, penggunaan minyak juga berkontribusi terhadap kandungan lemak dan kalori. Meski telur ceplok dan telur dadar memiliki kandungan gizi yang hampir serupa, jumlah lemak dan energi bisa berbeda tergantung pada volume minyak yang digunakan.

“Secara umum, tidak ada perbedaan gizi signifikan antara telur ceplok dan telur dadar. Perbedaan utamanya adalah kadar lemak, yang dipengaruhi oleh jumlah minyak,” ujarnya.

Telur dadar cenderung menyerap lebih banyak minyak, sehingga mengandung lebih banyak kalori. Tambahkan bahan seperti keju atau daging cincang, nilai energi makanan bisa meningkat. Bagi yang ingin mengurangi lemak, metode tanpa minyak seperti merebus atau mengukus lebih disarankan.

Dr Karina juga meluruskan mitos bahwa kuning telur harus dihindari karena kolesterol. Kuning justru kaya akan vitamin dan mineral penting. Penelitian terbaru menunjukkan konsumsi telur tidak meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang sehat, selama dikonsumsi secara moderat.

Kolesterol dalam darah lebih dipengaruhi oleh asupan lemak jenuh dan lemak trans, bukan hanya telur. Sebab itu, ia mengimbau masyarakat tetap mengonsumsi telur sebagai bagian dari pola makan seimbang. Pemilihan bahan berkualitas, suhu, dan metode memasak yang tepat adalah kunci agar manfaat protein bisa diperoleh optimal.

Leave a Comment