New Policy: Hong Myung-bo Diteriaki Suporter di Bandara Incheon, Keluar dari Korea Kembalikan 2 Miliar Won
Kepulangan Hong Myung-bo dan Reaksi Masyarakat
Nusantaranews1.com – Penerapan New Policy dalam pertandingan sepak bola Korea Selatan (Korsel) mengundang reaksi yang cukup mencolok ketika Hong Myung-bo, mantan pelatih Tim Nasional Korsel, kembali ke negaranya di Bandara Internasional Incheon pada Selasa (30/6/2026). Meski terlihat sebagai kegembiraan, teriakan antusias dari para suporter justru berubah menjadi hujan kritik terhadap Hong. Mereka menyalahkan mantan pelatih tersebut atas kegagalan Taeguk Warriors mencapai babak gugur Piala Dunia 2026, dengan New Policy dianggap sebagai salah satu faktor utama.
Protes yang Memanas di Terminal Bandara
Saat Hong tiba, puluhan suporter yang tergabung dalam kelompok kritikus telah menunggu di terminal. Mereka langsung mengecamnya dengan teriakan keras, seperti, “Hong Myung-bo, keluar dari Korea! Kau seharusnya malu!” Mencermati situasi, petugas keamanan terpaksa mengambil langkah cepat untuk mengurangi ketegangan. New Policy, yang sebelumnya diharapkan meningkatkan kinerja tim, justru menjadi pusat perdebatan di antara para penonton.
“Hong Myung-bo, keluar dari Korea! Kembalikan 2 miliar won!”
Permintaan Kembalikan Dana dan Perubahan Jadwal
Kebijakan New Policy yang melibatkan kontrak senilai 2 miliar won atau sekitar Rp23 miliar menjadi poin utama dalam protes suporter. Mereka menuntut Hong untuk mengembalikan dana yang diterimanya selama masa jabatan sebagai pelatih, dengan alasan kegagalan mengantarkan tim ke babak 32 besar. Untuk memastikan keamanan, jadwal keberangkatan Hong diubah. Awalnya, pemain dijadwalkan keluar lebih dulu, tetapi akhirnya Hong dipersilakan meninggalkan bandara lebih awal, diawaki oleh sekitar 20 orang, termasuk petugas keamanan dan pejabat KFA.
Langkah KFA untuk Penguatan Keamanan
Sebagai respons atas keributan di bandara, Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) memutuskan membatalkan acara penyambutan resmi serta konferensi pers. Keputusan ini diambil setelah ancaman pembunuhan terhadap Hong muncul di media sosial, menggambarkan tingkat ketegangan yang memuncak akibat New Policy. Sebanyak 160 personel keamanan, termasuk polisi antihuru-huru, dikerahkan untuk menjaga ketenangan di terminal. Langkah ini menunjukkan upaya KFA memperkuat pengawasan terhadap pelatih yang kini dianggap sebagai simbol kegagalan timnas.
Hasil Terburuk Korsel Sejak 2002
Piala Dunia 2026 menjadi momen paling berat dalam sejarah Taeguk Warriors. Meski Korsel tampil dengan harapan besar, mereka hanya mampu meraih satu kemenangan dan dua kekalahan di Grup A. New Policy yang diusulkan sebelumnya tidak mampu memperbaiki performa tim, sehingga finis di peringkat ketiga grup dengan tiga poin. Dari 12 tim peringkat ketiga, Korsel berada di posisi ke-10, membuat mereka gagal lolos ke babak 32 besar. Hasil ini menjadi yang terburuk sejak Piala Dunia 2002, menunjukkan bahwa kegagalan ini memicu kekecewaan yang luar biasa.
Dengan format baru Piala Dunia yang melibatkan 48 negara, Korsel harus menerima kenyataan menjadi salah satu tim yang terpuruk. New Policy, yang sebelumnya dianggap sebagai strategi modernisasi, justru dianggap tidak cukup efektif. Penonton mengkritik pendekatan pelatih tersebut, menyebutnya sebagai alasan utama kegagalan timnas.
Reaksi Kapten dan Harapan untuk Pemulihan
Sementara Hong Myung-bo menjadi sasaran utama protes, kapten tim Son Heung-min yang tidak hadir dalam rombongan keberangkatan, menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial. Ia menulis, “Saya benar-benar minta maaf kepada para penggemar. Kami akan memberikan segalanya dan berjuang untuk bangkit kembali.” Reaksi ini menunjukkan bahwa meski New Policy memicu kegundahan, ada harapan bagi pemulihan performa timnas di masa depan.
Kekecewaan terhadap New Policy tidak hanya terbatas pada para suporter, tetapi juga mencerminkan kegagalan sistem manajemen sepak bola Korsel. Protes di bandara Incheon menjadi simbol ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan yang dianggap tidak mampu memperbaiki hasil pertandingan. Meski demikian, perdebatan seputar New Policy tetap menjadi fokus utama dalam analisis kinerja timnas.
