News

New Policy: Ekonom Sebut Tudingan Utang Negara Naik akibat MBG Tak Tepat: Cara Berpikir Terlalu Dangkal

Daftar Isi
  1. Kritik Terhadap Tudingan MBG Penyebab Utang Negara Naik
  2. Realitas Pembiayaan dan Kritik Publik

Kritik Terhadap Tudingan MBG Penyebab Utang Negara Naik

New Policy – “New Policy” yang diperkenalkan pemerintah di tengah situasi ekonomi kritis, ternyata dianggap sebagai langkah strategis yang berbeda dari narasi sederhana yang mengaitkan kenaikan utang negara hanya dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para ahli ekonomi, seperti Pakar sekaligus Analis Senior dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menyoroti bahwa keberadaan MBG tidak bisa dipandang secara terisolasi, tetapi harus dilihat dalam konteks kebijakan fiskal yang lebih luas. Menurut Ronny, tudingan utang negara meningkat hanya karena MBG merupakan cara berpikir yang terlalu dangkal, karena tidak menggambarkan kompleksitas pengelolaan anggaran negara.

Struktur APBN dan Peran Utang dalam Pembiayaan Negara

Ekspansi utang pemerintah di bawah “new policy” adalah bagian dari strategi pembiayaan nasional yang lebih modern. Dalam sistem anggaran yang terpadu, utang tidak hanya digunakan untuk satu proyek atau program, tetapi menjadi instrumen untuk mendukung berbagai sektor secara bersamaan. Ronny menjelaskan bahwa utang negara yang mencapai Rp9.920,42 triliun hingga 31 Maret 2026, atau 40,75 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), bukanlah hasil dari MBG secara tunggal. Faktor-faktor seperti pengembangan infrastruktur, subsidi energi, perlindungan sosial, dan stabilitas ekonomi semuanya menjadi komponen dalam perhitungan ini.

Menurut Ronny, mekanisme pengelolaan utang di APBN modern menggunakan prinsip pooled financing, bukan hanya project-based debt. Ini berarti pemerintah mengumpulkan dana dari berbagai sumber untuk mengalirkan ke berbagai program, termasuk MBG, yang dalam jangka panjang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Jika hanya melihat MBG sebagai penyebab utang negara, maka kita melewatkan dinamika ekonomi yang lebih luas,” imbuhnya. Ia juga menyatakan bahwa program seperti MBG memiliki dampak multiplicative yang signifikan terhadap sektor pertanian, logistik, dan pangan lokal.

Multplier Effect MBG: Investasi untuk Masa Depan

Menurut Ronny, MBG bukan hanya pengeluaran sekarang, tetapi investasi biologis dan intelektual yang akan berdampak pada produktivitas ekonomi di masa depan. Anak-anak yang mendapat asupan gizi seimbang dari program ini, secara tidak langsung mengurangi risiko stunting dan defisit nutrisi kronis. “Dengan kesehatan yang lebih baik, mereka akan lebih mampu berkontribusi pada PDB ketika dewasa,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa biaya terbesar bagi negara justru terjadi jika generasi muda tidak mendapat dukungan gizi yang memadai.

Di samping itu, Ronny menyebut bahwa “new policy” yang diusulkan juga membantu menjaga konsumsi nasional dan meningkatkan permintaan domestik (domestic demand) dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian. Dengan memperkuat kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pemerintah menciptakan kondisi ekonomi yang lebih stabil. Ia menekankan bahwa keberhasilan program MBG tergantung pada efektivitas pelaksanaannya, bukan hanya pada keberadaannya. “Kritik yang sehat harus ditujukan pada bagaimana program ini dijalankan, bukan pada apakah perlu dibuat,” tambahnya.

Realitas Pembiayaan dan Kritik Publik

Banyak masyarakat awam masih menganggap utang negara hanya sebagai pengeluaran yang tidak terkendali. Namun, Ronny menjelaskan bahwa angka utang negara yang tinggi adalah hasil dari kebijakan yang dirancang secara sistematis. Ia mengatakan, MBG adalah bagian dari rencana jangka panjang pemerintah untuk menekan inflasi dan meningkatkan kesejahteraan melalui intervensi di sektor pangan. “Tidak mungkin menganggap satu kebijakan sebagai penyebab tunggal kenaikan utang,” tegasnya. Selain itu, program ini juga diperkirakan mampu menciptakan lapangan kerja di sektor logistik dan distribusi pangan.

Ronny menyoroti pentingnya komunikasi yang efektif dalam menjelaskan kebijakan fiskal. Ia menilai keberadaan MBG di bawah “new policy” tidak bisa dipisahkan dari upaya pemerintah untuk memastikan kesejahteraan warga. Dengan demikian, tudingan bahwa MBG menyebabkan utang negara meningkat justru menunjukkan kurangnya pemahaman tentang cara kerja APBN modern. “Program ini harus dinilai berdasarkan hasil, bukan hanya angka pengeluaran,” lanjutnya. Ia berharap masyarakat bisa lebih kritis dalam mengapresiasi kebijakan tersebut, terutama dalam konteks pemulihan ekonomi nasional.

Dalam pandangan ekonom lainnya, kebijakan MBG sebagai bagian dari “new policy” adalah langkah yang tepat di tengah ketegangan harga pangan yang tinggi. Pengeluaran ini dianggap sebagai langkah pencegahan untuk menghindari keluhan masyarakat yang bisa berdampak pada stabilitas politik. Namun, Ronny menegaskan bahwa efektivitas program ini harus diperiksa lebih dalam, termasuk bagaimana distribusi bantuan dilakukan dan sejauh mana masyarakat benar-benar mendapat manfaat dari bantuan tersebut. “Tidak ada yang salah dengan MBG, tetapi penting bahwa kebijakan ini diterapkan secara proporsional dan akuntabel,” pungkasnya.

Leave a Comment