News

Latest Program: Gerindra Tak Setuju MBG Dihentikan meski Belum Sempurna, Ini Alasannya

Latest Program: Gerindra Tak Setuju MBG Dihentikan Meski Belum Sempurna, Ini Penjelasannya

Latest Program – JAKARTA — Juru Bicara Partai Gerindra, Astrio Feligent, menegaskan bahwa Partai Gerindra masih bersikukuh untuk tidak menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) meskipun pelaksanaannya belum sempurna. Menurut Astrio, program ini memiliki dampak yang berpotensi positif, tidak hanya dalam hal pemberdayaan masyarakat tetapi juga dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi secara keseluruhan. “Program MBG harus dinilai dari data yang ada. Sementara itu, kita perlu mempertimbangkan efek spillover dari MBG terhadap perekonomian,” jelas Astrio dalam program Rakyat Bersuara bertajuk ‘Suara Mahasiswa: Menguji Fakta, Menjaga Harapan’ yang tayang di iNews pada Rabu (17/6/2026).

Manfaat Ekonomi dari Program MBG

“Kenapa Partai Gerindra tidak sepakat menghentikan program MBG, karena kita harus kembali ke data. Jadi di satu sisi kita harus berbicara spillover effect dari program MBG terhadap perekonomian kita,”

Astrio menjelaskan bahwa data kuartal satu yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang salah satunya disebabkan oleh MBG. Menurutnya, program ini berkontribusi signifikan pada Produk Domestik Bruto (PDB) di sejumlah sektor, seperti peternakan yang tumbuh 4,97 persen. “Subsektor peternakan, ini yang supplier-supplier daging, telur, oke, itu bertumbuh dua digit, 10 sampai 11 persen. Bahkan sektor makanan minuman, F and B bertumbuh sekitar 7 persen,” terangnya. Astrio menekankan bahwa program MBG bukan hanya sebatas pemberian bantuan, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor produktif.

Kritik terhadap Tata Kelola MBG

“Nah, ini merupakan bentuk contoh spillover effect dari program MBG. Lalu kalau kita berbicara working force dari 1,5 juta yang sudah di-employed, mayoritas itu ibu-ibu,”

Di sisi lain, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Yatalathof Ma’shum Imawan, mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran terkait tata kelola program MBG. Ia menyoroti kasus korupsi yang menimpa mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, yang ditangkap Kejaksaan Agung (Kejagung). “Program MBG ini sempat kena korupsi besar-besaran, jadi tata kelolanya dipertanyakan. Bagaimana bisa sistem program itu juga bisa kredibel dalam arti ditutup celah-celah korupsinya begitu,” ujarnya. Yatalathof menambahkan bahwa meski tujuan MBG baik, masalah sering muncul saat implementasinya di lapangan.

Yatalathof juga menyebutkan bahwa adanya celah korupsi dalam MBG menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas program tersebut. “Yang ingin saya bicarakan adalah segala hal rencana dari pemerintah itu memang bagus di atas kertas, tapi implementasinya sangat buruk bahkan penuh dengan celah-celah korupsi begitu,” tutupnya. Meski demikian, ia mengakui bahwa MBG tetap memiliki nilai dalam upaya memperbaiki kondisi kesehatan dan nutrisi masyarakat, terutama untuk kelompok yang rentan.

Sebagai salah satu program terbaru yang dicanangkan pemerintah, MBG dirancang untuk memberikan bantuan pangan bergizi kepada masyarakat kurang mampu. Dalam beberapa bulan terakhir, program ini menjadi sorotan karena kebijakan pemerintah yang terus berubah. Astrio Feligent menambahkan bahwa Gerindra masih yakin program ini bisa terus diperbaiki, tidak perlu langsung dihentikan. “Latest Program ini tidak hanya sebagai kebijakan sosial, tetapi juga sebagai alat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara langsung dan tidak langsung,” jelas Astrio.

Beberapa anggota Gerindra mengungkapkan bahwa program MBG masih bisa berjalan dengan lebih baik jika ada perbaikan mekanisme distribusi. Menurut mereka, meskipun ada beberapa kelemahan, program ini telah memberikan dampak yang positif terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama di tingkat daerah. “Program MBG ini sudah terbukti memberikan manfaat, meskipun perlu ada penyesuaian,” tambah salah satu anggota. Hal ini menunjukkan bahwa Gerindra masih optimis akan keberhasilan MBG sebagai salah satu dari Latest Program yang dijalankan pemerintah.

Kritik terhadap MBG juga datang dari kalangan akademisi. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rudi Suryadi, menyatakan bahwa efektivitas program ini bergantung pada transparansi dan pengawasan yang ketat. “Kita harus melihat apakah ada penyesuaian kebijakan berdasarkan data yang terkini. Jika ada celah korupsi, maka program tersebut bisa dihentikan sementara untuk evaluasi,” ujarnya. Meski demikian, Rudi menegaskan bahwa MBG masih layak dipertahankan sebagai salah satu dari Latest Program yang bisa diimprovisasi.

Leave a Comment