Lifestyle

Tak Disangka, Rumput Purun dari Rawa Kalimantan Disulap Jadi Produk Bernilai Tinggi

codex-24bdb2d724c34c8ebac22ada8c8d2228
Foto : Elizabeth Jones - nusantaranews1.com
Daftar Isi
  1. Tak Disangka Rumput Purun Jadi Produk Bernilai Tinggi
  2. FAQ Rumput Purun Kalimantan Selatan
  3. Related Reading

Tak Disangka Rumput Purun Jadi Produk Bernilai Tinggi

Nusantaranews1.com – Tak Disangka Rumput Purun yang tumbuh di rawa dan lahan basah Kalimantan Selatan kini diolah menjadi produk fungsional bernilai ekonomi. Bahan anyaman tradisional ini dikembangkan menjadi tech organizer, pouch dokumen, tas, aksesori, hingga perlengkapan rumah tangga.

Pengembangan tersebut dilakukan Gaia Weave, wirausaha sosial yang dirintis Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta. Inisiatif ini menghubungkan keterampilan perajin lokal dengan desain produk serta akses pasar yang lebih luas.

Dari Anyaman Tradisional ke Produk Modern

Purun sudah lama digunakan masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan untuk membuat kebutuhan sehari-hari. Dengan pengembangan desain dan fungsi, anyaman dari tanaman rawa ini dapat menjangkau konsumen yang membutuhkan produk praktis untuk aktivitas modern.

“Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah. Dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membantu membangun insentif agar masyarakat tetap melihat nilai dari lanskap tempat purun tumbuh,” ujar Alexandra dalam keterangannya.

Tak Disangka Rumput Purun memiliki siklus panen sekitar tiga hingga enam bulan. Tanaman ini tumbuh alami di kawasan basah, termasuk rawa dan gambut, sehingga berpotensi menjadi bahan baku terbarukan apabila pemanfaatannya tetap memperhatikan kondisi habitatnya.

Lanskap gambut tempat purun berkembang memiliki peran penting dalam menyimpan karbon dan mengatur tata air. Pengeringan, pembakaran, maupun alih fungsi lahan dapat mengganggu fungsi tersebut serta meningkatkan risiko kebakaran dan pelepasan karbon.

Karena itu, pemanfaatan purun dapat menjadi salah satu jalan untuk menghubungkan penghidupan masyarakat dengan upaya menjaga lahan basah. Ketika purun memiliki nilai jual, masyarakat dapat melihat rawa sebagai aset yang perlu dipelihara.

Tambahan Pendapatan bagi Perajin

Bagi perajin, produksi anyaman purun membuka peluang pendapatan tambahan tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama. Salah satunya dialami Idang, yang sebelumnya mengandalkan pekerjaan pertanian musiman dengan penghasilan sekitar Rp40.000 hingga Rp50.000 per hari.

Setelah menjadi perajin, Idang tetap bekerja di sawah dan melanjutkan kegiatan menganyam ketika pekerjaan tani selesai. Dari aktivitas tersebut, ia memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp80.000 sampai Rp100.000 per hari.

“Setelah pulang dari sawah, saya biasanya melanjutkan dengan menganyam di rumah. Sekarang keterampilan yang sudah kami miliki bisa menjadi tambahan penghasilan, dan hasil anyaman kami digunakan menjadi produk yang dipakai lebih banyak orang,” ujar Idang.

Pengalaman itu memperlihatkan bagaimana keterampilan lokal dapat memperoleh nilai tambah melalui inovasi produk, kualitas yang terjaga, dan pemasaran yang lebih konsisten. Bagi keluarga perajin, pemasukan tersebut dapat melengkapi pendapatan dari pekerjaan musiman.

Kemitraan di 15 Desa Kalimantan Selatan

Gaia Weave saat ini bekerja bersama 126 perajin di 15 desa di Kalimantan Selatan. Kapasitas produksinya disebut mencapai sekitar 6.000 unit per bulan, menunjukkan bahwa kerajinan berbasis bahan lokal dapat berkembang melalui jaringan komunitas.

Kemitraan tersebut juga dikaitkan dengan peningkatan pendapatan perajin sekitar 100 hingga 150 persen. Penghasilan yang sebelumnya berkisar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan, bagi sebagian perajin kini dapat mencapai sekitar Rp2,7 juta sampai Rp3 juta setiap bulan.

Alexandra mulai mengembangkan Gaia Weave pada 2025 setelah berkunjung ke Kalimantan Selatan. Ia melihat adanya jarak antara kemampuan penganyam purun dan peluang pasar yang dapat memberi nilai tambah secara berkelanjutan.

Model kerja yang dibangun mencakup proses dari hulu hingga hilir. Perajin lokal mengolah dan menganyam purun, kemudian hasilnya dikembangkan menjadi barang yang sesuai kebutuhan sehari-hari tanpa menghilangkan nilai keterampilan tradisional.

Masuk Ritel dan Kebutuhan Korporasi

Produk Gaia Weave telah tersedia di lebih dari 100 gerai ritel. Sejumlah pelanggan korporasi juga memanfaatkannya, sehingga hasil anyaman perajin dapat menjangkau pasar yang lebih beragam.

Tak Disangka Rumput Purun bukan hanya menjadi bahan kerajinan, melainkan juga membuka peluang ekonomi berbasis lingkungan. Pengembangan produk yang tepat dapat membantu memperluas manfaat bagi perajin sekaligus memperkuat alasan untuk menjaga ekosistem rawa dan gambut.

FAQ Rumput Purun Kalimantan Selatan

Apa itu rumput purun?

Purun adalah tanaman yang tumbuh di rawa, lahan basah, dan kawasan gambut. Seratnya dapat diolah menjadi bahan anyaman untuk berbagai produk.

Produk apa saja yang dapat dibuat dari purun?

Anyaman purun dapat dikembangkan menjadi tas, pouch dokumen, tech organizer, aksesori, dan perlengkapan rumah tangga.

Mengapa pemanfaatan purun penting bagi masyarakat?

Pemanfaatan purun dapat memberi tambahan pendapatan bagi perajin lokal. Nilai ekonomi tanaman ini juga dapat mendukung kesadaran untuk menjaga lanskap rawa dan gambut tempat purun tumbuh.

Leave a Comment