Rupiah Diramal Bertahan di Level Rp18.000 per Dolar AS hingga Akhir Tahun
Daftar Isi
Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp18.000 per Dolar AS sampai Pengujung 2026
Nusantaranews1.com – Nilai tukar rupiah diproyeksikan tetap berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS hingga akhir 2026. Dalam sisa tiga bulan tahun ini, pergerakan mata uang Indonesia dipandang tidak akan terlalu lebar, meski masih terbuka peluang pelemahan terbatas.
Chief Asia Economist HSBC, Frederic Neumann, melihat tekanan yang dihadapi rupiah saat ini terutama berkaitan dengan kekuatan dolar AS di pasar internasional. Situasi tersebut dinilai berbeda dari tekanan yang muncul akibat persoalan khusus di dalam negeri.
Penguatan dolar tidak hanya berpengaruh terhadap rupiah. Mata uang besar lain, termasuk yen Jepang dan euro, juga menghadapi tekanan ketika dolar AS memperoleh dukungan dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Terkait rupiah, kita harus mengakui bahwa The Fed sedang menaikkan suku bunga saat ini dan dolar karena itu mendapat banyak dukungan. Kita melihat penguatan dolar terhadap banyak mata uang, yen Jepang misalnya, Eropa, euro juga,” kata Frederic dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026, Selasa (29/9/2026).
Tekanan Lebih Banyak Datang dari Kekuatan Dolar
Naiknya suku bunga oleh Federal Reserve menjadi salah satu faktor yang menjaga daya tarik dolar AS. Ketika dolar menguat secara luas, mata uang negara lain cenderung menghadapi tekanan, termasuk rupiah. Karena itu, pergerakan rupiah hingga akhir tahun lebih mencerminkan kondisi pasar valuta asing global ketimbang sinyal melemahnya fondasi ekonomi domestik.
Frederic menilai waktu menuju akhir 2026 yang tersisa relatif singkat. Dengan horizon tersebut, rupiah diperkirakan cenderung stabil dan hanya mungkin terkoreksi sedikit.
“Jadi kita hanya punya tiga bulan hingga akhir tahun , dan jadi di sana kita melihat rupiah kira-kira stabil, mungkin sedikit lebih lemah, tetapi tidak banyak. Namun ini lebih merupakan cerminan dari kekuatan dolar daripada pada dasarnya kelemahan rupiah,” ujarnya.
Dalam konteks ini, angka Rp18.000 per dolar AS dipandang sebagai kisaran yang realistis untuk posisi rupiah pada akhir tahun. Perkiraan tersebut bukan berarti rupiah akan bergerak lurus menuju satu titik tertentu, sebab nilai tukar tetap dapat berubah dari hari ke hari mengikuti sentimen pasar, arah dolar, serta respons kebijakan moneter.
“Jadi jika Anda menanyakan target kepada saya, sekitar 18 ribu, misalnya, itu akan menjadi target,” katanya.
Prospek Dapat Berubah pada 2027
Pandangan terhadap rupiah pada 2027 berpotensi berbeda apabila tren penguatan dolar AS mulai berbalik. Pelemahan dolar dapat memberi ruang lebih besar bagi mata uang lain untuk menguat, termasuk rupiah.
Perubahan arah dolar menjadi faktor penting karena nilai tukar rupiah tidak berdiri sendiri. Ketika tekanan dolar mereda, arus dana global dan sentimen terhadap aset negara berkembang dapat memberi dukungan tambahan bagi rupiah. Namun, waktu serta besarnya perubahan itu tetap bergantung pada perkembangan kebijakan dan kondisi pasar pada tahun mendatang.
“Tahun berikutnya, itu bisa sangat berubah, karena pada saat tertentu, dolar akan berubah, dan kemudian rupiah akan mendapat dorongan,” ujarnya.
Bagi pelaku usaha dan masyarakat, stabilitas kurs memiliki arti praktis. Perusahaan yang membutuhkan bahan baku atau barang modal dari luar negeri biasanya memperhatikan nilai tukar karena perubahan kurs dapat memengaruhi biaya. Di sisi lain, eksportir dapat merasakan dampak berbeda karena penerimaan yang menggunakan dolar AS akan dikonversi ke rupiah.
Meski demikian, kurs hanyalah salah satu unsur dalam aktivitas ekonomi. Harga komoditas, permintaan pasar, biaya logistik, inflasi, dan tingkat suku bunga juga ikut menentukan keputusan bisnis maupun daya beli.
Risiko Khusus Rupiah Dinilai Sudah Mereda
Frederic menyampaikan bahwa tekanan yang secara spesifik pernah melekat pada rupiah pada awal 2026 telah tertangani. Dengan meredanya faktor idiosinkratik tersebut, fokus pasar kini lebih banyak tertuju pada penguatan dolar AS secara global.
“Pesan utamanya di sini adalah tidak lagi ada kelemahan rupiah yang spesifik yang kita miliki awal tahun. Itu telah teratasi,” kata dia.
Stabilitas mata uang Indonesia juga disebut berjalan seiring dengan mulai masuknya kembali modal asing. Arus modal ini penting bagi pasar keuangan karena mencerminkan pulihnya minat investor terhadap aset domestik, meskipun pergerakannya tetap dapat berubah cepat sejalan dengan dinamika global.
Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia dinilai telah mendekati penghujung siklus pengetatan moneter. Frederic memperkirakan masih ada kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga acuan pada 2026 sebelum fase tersebut berakhir.
“Kita hampir di akhir siklus moneter di Indonesia. Kami berpikir ada satu lagi kenaikan yang akan datang pada tahun ini, tapi kemudian itu adalah penghujung siklus,” ujarnya.
Arah suku bunga Bank Indonesia akan tetap menjadi perhatian karena kebijakan tersebut berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas harga dan nilai tukar. Dalam lingkungan dolar AS yang kuat, ruang kebijakan moneter menjadi salah satu elemen yang dicermati pasar untuk menilai ketahanan rupiah.
Dengan sisa waktu menuju akhir 2026, proyeksi utama masih menempatkan rupiah di sekitar level Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan di dekat kisaran itu akan banyak ditentukan oleh apakah dolar AS tetap mempertahankan penguatannya, serta bagaimana arus modal dan kebijakan moneter berkembang dalam beberapa bulan ke depan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Rupiah Diramal Bertahan di Level Rp18 000?
Rupiah Diramal Bertahan di Level Rp18 000 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Rupiah Diramal Bertahan di Level Rp18 000 matter?
Rupiah Diramal Bertahan di Level Rp18 000 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.