Protes Sistem PPDB, Emak-Emak Demo Sambil Masak di Depan DPRD Jabar
Main Agenda – Protes terhadap sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini menjadi sorotan utama dalam aksi yang dihadiri ratusan orang di Kota Bandung. Aksi unjuk kekuatan yang berlangsung di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat menggambarkan ketidakpuasan masyarakat terutama dari kalangan emak-emak terhadap kekacauan dan ketidakadilan dalam proses seleksi. “Main Agenda kami adalah menuntut transparansi dan keadilan dalam PPDB Jabar 2026,” ungkap salah satu pengunjuk rasa, Rina Darmayanti, yang juga ibu dari siswa SMA.
Latar Belakang Protes PPDB
Aksi ini bukan pertama kalinya para orang tua siswa mengungkapkan keluhan terhadap sistem PPDB di Jawa Barat. Sebelumnya, aduan serupa sering muncul terkait penggunaan Sistem Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) yang dianggap memperumit proses seleksi dan menyebabkan ketidakseimbangan antara siswa berprestasi dengan yang kurang beruntung. Dalam aksi hari ini, para emak-emak membawa peralatan dapur dan melakukan aktivitas memasak di depan gedung DPRD, sebagai simbolik perlawanan mereka terhadap kebijakan Disdik Jabar. “Main Agenda kami adalah memastikan anak-anak kami mendapatkan kesempatan yang sama untuk masuk ke sekolah negeri,” tambah Rina.
Isu Kecurangan dan Tuntutan Perubahan Sistem
Aksi tersebut didasari oleh keluhan atas kekacauan skoring dan penggunaan metode penilaian yang dianggap tidak objektif. Para ibu-ibu menyoroti bahwa beberapa calon siswa mendapatkan nilai yang berubah tanpa dasar jelas, sementara lainnya terkesan mendapat keuntungan. “Ini membuat kami merasa seperti orang yang tidak berdaya,” kata Neni Suhaeni, salah satu peserta aksi. Mereka juga menuntut penghapusan PCMB dan penggunaan sistem yang lebih adil serta transparan. Dalam orasi, Neni mengatakan, “Main Agenda kami adalah menekan pemerintah provinsi agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap PPDB.” Kekacauan dalam sistem ini dianggap memengaruhi kualitas pendidikan dan peluang akses bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Main Agenda kami bukan sekadar keluhan, tapi tuntutan perubahan sistem yang lebih merata,” tutur Neni Suhaeni.
Reaksi Pihak Terkait dan Penyelenggaraan Aksi
Para emak-emak memperlihatkan semangat perjuangan mereka dengan memasak massal di luar gedung DPRD. Mereka menyiapkan nasi uduk, bubur ayam, dan berbagai hidangan lainnya sambil menunggu respons dari pihak legislatif. “Ini adalah cara kami menunjukkan dukungan terhadap keadilan dan keberlanjutan sistem pendidikan,” kata salah satu pengurus aksi. Sejumlah anggota DPRD Jabar yang hadir langsung memberikan tanggapan, menyatakan akan meninjau ulang proses PPDB dan mendorong peningkatan kejelasan dalam sistem seleksi. Meski begitu, beberapa orang dari pihak Disdik Jabar menegaskan bahwa PPDB 2026 telah mengalami perbaikan dibanding tahun sebelumnya. “Main Agenda kami adalah menjawab kekhawatiran masyarakat dengan data dan penjelasan yang jelas,” kata salah satu pejabat.
Persiapan dan Harapan Emak-Emak
Sebelum aksi berlangsung, para emak-emak telah melakukan persiapan ekstra untuk menyampaikan aspirasi mereka. Mereka membagi tugas, dengan sebagian mengatur kegiatan masak, sementara yang lain fokus pada orasi dan dialog langsung dengan wakil rakyat. Aksi ini juga didukung oleh sejumlah organisasi masyarakat dan komunitas pendidikan. “Kami berharap pemerintah provinsi dapat merespons keluhan kami dengan tindakan konkret,” imbuh salah satu pengurus. Harapan tersebut berupa penghapusan sistem yang dinilai tidak efektif dan pengenalan metode baru yang lebih fair. Aksi ini diperkirakan akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan, dengan rencana menyebarkan pesan keberatan ke seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat.
Kontribusi Emak-Emak dalam Pembangunan Pendidikan
Para ibu-ibu ini bukan hanya pelaku protes, tetapi juga aktif dalam upaya memperbaiki sistem pendidikan. Mereka berperan sebagai pengawas dan pengadu langsung ke lembaga pemerintah. “Main Agenda kami adalah memastikan setiap anak memiliki peluang yang adil, tidak tergantung pada keberuntungan atau keluarga,” jelas salah satu peserta. Aksi mereka menunjukkan bahwa emak-emak bukan hanya berperan sebagai penonton, tetapi juga sebagai bagian dari perubahan. Dengan memasak di depan DPRD, mereka ingin menarik perhatian publik dan menegaskan bahwa isu PPDB adalah prioritas yang harus diperhatikan. Penyampaian pesan ini juga disertai dengan berbagai tuntutan, seperti penggunaan sistem online yang lebih transparan dan pemantauan lebih ketat terhadap pihak yang melakukan kecurangan.
“Dengan Main Agenda protes ini, kami ingin menunjukkan bahwa keadilan pendidikan adalah hak setiap anak, terlepas dari latar belakangnya,” ujar salah satu emak-emak.
Langkah Selanjutnya dan Dukungan Masyarakat
Setelah aksi di luar gedung DPRD selesai, massa tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka berencana melanjutkan kegiatan ke dalam kompleks DPRD untuk mengajukan pertanyaan langsung kepada anggota komisi. Sejumlah peserta aksi juga berharap mendapatkan rencana kerja konkret dari pemerintah provinsi. Dukungan masyarakat terhadap aksi ini terus meningkat, karena isu PPDB dianggap memengaruhi kualitas pendidikan di Jawa Barat. “Main Agenda kami adalah memastikan setiap orang tua memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan terbaik bagi anaknya,” tambah Rina Darmayanti. Aksi ini diharapkan menjadi awal dari perubahan sistem yang lebih adil dan transparan. Dukungan dari publik serta partisipasi aktif emak-emak menunjukkan bahwa isu ini sangat relevan dan perlu diperhatikan secara serius oleh pemerintah dan institusi terkait.