Berita
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
Berita

Ibu di Rokan Hulu Tega Habisi Anak Kandung – Korban Dikira Kerasukan Roh Halus

Patricia Rodriguez ⏱ 2 min read

Ibu di Rokan Hulu Habisi Anak Kandung, Dikira Kerasukan Roh Halus

Ibu di Rokan Hulu Tega Habisi – Ibu di Rokan Hulu Tega – Tragedi mengenaskan terjadi di Desa Muara Dilam, Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Seorang anak perempuan berusia 11 tahun, AA, dikabarkan tewas setelah menjadi korban kekerasan dari ibu kandungnya, DR (41). Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 14 Mei 2026, sekitar pukul 15.00 WIB. Ayah korban, yang berada di luar rumah saat kejadian, langsung melaporkan kejadian tersebut ke polisi, yang kemudian mengamankan pelaku.

Detil Tragedi

“Pelaku sudah kita tangkap setelah ayah korban melapor,” kata Kapolres Rokan Hulu AKBP Emil Eka Putra, dikutip dari iNews Pekanbaru, Senin (18/5/2026).

Dalam penyelidikan awal, DR diduga percaya bahwa anaknya terkena kerasukan roh halus. Alih-alih membawa AA ke rumah sakit, ia memilih melakukan pengobatan spiritual di rumah. Proses tersebut dianggapnya lebih efektif untuk “menyembuhkan” anaknya dari gangguan kejiwaan.

Dalam situasi tersebut, DR menggunakan tangan kosong untuk menganiaya korban, menciptakan luka memar di bagian kepala. Sementara itu, tetangga mengungkapkan bahwa mereka sempat berusaha menghentikan kekerasan setelah melihat kondisi aneh di rumah korban. Namun, situasi memburuk ketika pelaku mengambil kaleng bekas susu kental manis yang biasa digunakan sebagai asbak, lalu melemparkannya ke tubuh AA.

Latar Belakang Kecamatan Rokan Hulu

Kecamatan Rokan Hulu, yang berada di wilayah Kabupaten Riau, dikenal memiliki tradisi spiritual kuat. Banyak warga setempat percaya pada kekuatan roh halus dan sering mengadakan upacara untuk mengusir gangguan dari dunia lain. Penyebab kematian AA, menurut sementara penyelidikan, terkait dengan penggunaan kaleng yang diduga menjadi benda tajam saat melemparkan ke tubuh korban.

Korban juga diduga diberi potongan rambut, ikat rambut, hingga gumpalan kertas ke mulutnya, sehingga menghalangi saluran pernapasan. Pukul 18.30 WIB, warga mendengar suara meminta bantuan dari dalam rumah. Setelah ragu-ragu, mereka akhirnya memasuki ruangan bersama tokoh masyarakat. Saat ditemukan, AA sudah tidak berdaya.

Bidan desa yang datang ke lokasi memastikan korban meninggal dunia. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya benda asing yang menghalangi pernapasan serta cedera fisik. Sebelum diamankan, pelaku sempat meninggalkan rumah dalam kondisi terguncang. Polisi menyita barang bukti, seperti pakaian korban, potongan rambut, dan kaleng bekas yang diduga digunakan saat kejadian.

Kebanyakan warga di sekitar lokasi mengungkapkan kekecewaan terhadap kejadian ini. Mereka menilai bahwa DR kurang bijak dalam menangani kasus yang seharusnya diatasi dengan cara yang lebih tenang. Selain itu, ada juga yang menyebutkan bahwa kondisi psikologis pelaku mungkin memengaruhi keputusannya mengambil tindakan ekstrem. Sejumlah warga berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap gangguan mental.

Pihak kepolisian masih terus melakukan investigasi untuk memastikan motif tindakan DR. Dalam laporan resmi, polisi mengklaim bahwa korban tidak menunjukkan tanda-tanda kecelakaan atau penyakit lain. Selain itu, tim medis juga sedang mengevaluasi apakah adanya kontribusi dari faktor spiritual dalam kasus ini. Proses hukum terhadap DR sedang berjalan, dan ia dikenai tindak pidana pembunuhan berpembelaan.

Bagikan artikel ini