Update Ledakan Bom Sisa Perang di Biak: 32 Potongan Tubuh Ditemukan dalam SAR dan Gegana
Ledakan bom sisa perang di Biak, Papua, menjadi perhatian publik setelah tim SAR dan Gegana berhasil menemukan 32 potongan tubuh pada hari kelima pencarian. Peristiwa ini terjadi di Kompleks Perikanan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, dan diduga terkait senjata dari Perang Dunia II. Ledakan tersebut mengakibatkan enam korban tewas, sementara tiga orang lain masih dalam proses pencarian dan identifikasi. Dalam wawancara dengan inews.id, Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan mengungkapkan bahwa tim gabungan terus bergerak untuk mengidentifikasi sisa-sisa tubuh yang ditemukan, yang menunjukkan skala kerusakan yang parah.
Korban dan Dampak Ledakan
Kebakaran dan ledakan di lokasi terjadi pada awal pekan ini, dengan dampak yang semakin mengkhawatirkan. Menurut sumber di lapangan, area yang terkena serpihan proyektil menjadi rentan terhadap risiko kecelakaan. Puluhan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara tim medis terus memberikan perawatan darurat. Dinas Kesehatan dan RSUD Biak aktif mengawasi kondisi korban yang telah dievakuasi, sebagian dari mereka saat ini menjalani pemulihan di posko pengungsian.
Pelaksanaan sterilisasi hingga hari ini mencapai 75 persen, meski hujan deras sempat mengganggu operasi. Tim Jibom Gegana Polda Papua berhasil mengumpulkan 30 bagian tubuh, sementara dua potongan lainnya ditemukan oleh tim SAR gabungan di wilayah pencarian. Seluruh barang bukti langsung diserahkan ke Tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk proses identifikasi lebih lanjut. Petugas juga menemukan beberapa barang pribadi korban, seperti parang, pisau, dan jam tangan, yang akan dianalisis untuk memperjelas hubungan antara objek dan kejadian.
Dalam upaya mempercepat pengidentifikanan, tim DVI telah membuka posko antemortem di lokasi kejadian. Sampel DNA dari keluarga korban dikumpulkan untuk membandingkan dengan bahan bukti yang ditemukan. Pencarian dan evakuasi dibagi menjadi dua lingkaran kerja, dengan Basarnas dan tim gabungan menjelajahi radius 4 kilometer dari titik ledakan. Dalam beberapa hari terakhir, proses olah TKP tetap berjalan, dengan Puslabfor Polda Papua terus mengumpulkan data untuk mengetahui penyebab ledakan bom sisa perang di Biak.
Upaya Pencarian dan Tindakan Pencegahan
Pemerintah setempat meminta warga tidak memasuki area yang terkena ledakan serta menghindari memindahkan bahan berbahaya seperti senjata atau sisa-sisa proyektil. Langkah ini bertujuan untuk mencegah risiko tambahan dan memastikan keselamatan masyarakat sekitar. Menurut Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Cahyo Sukarnito, operasi pencarian masih intensif, dengan tim gabungan bekerja tanpa henti guna mengidentifikasi semua korban dan memutus rantai penyebaran potensi bahaya.
Sejumlah warga yang terlibat langsung dalam proses SAR mengakui kesulitan dalam mengakses area yang terdampak. Beberapa petugas harus menggunakan peralatan khusus dan mobilisasi besar untuk menjangkau lokasi. Meski begitu, upaya mereka terus berlanjut, dengan harapan bisa menemukan semua korban yang hilang dalam waktu dekat. Ledakan bom sisa perang di Biak juga memicu pembicaraan tentang kembali ke minat masyarakat terhadap peninggalan perang yang masih berbahaya.
Para ahli menyatakan bahwa ledakan seperti ini bisa terjadi karena senjata atau bahan peledak yang terlupa atau terkubur dalam tanah. Kebanyakan dari mereka berasal dari masa Perang Dunia II, ketika Biak Numfor menjadi lokasi penting dalam perang di wilayah Timur Indonesia. Kehadiran tim Jibom Gegana Polda Papua dalam proses sterilisasi menunjukkan upaya serius untuk memastikan semua potensi bahaya di lokasi ditemukan dan diatasi. Dengan penemuan 32 potongan tubuh, kasus ini semakin memperlihatkan betapa menghawatirkannya ledakan bom sisa perang di Biak.