Mama Sinta Kecewa Wajahnya Ditampilkan di Film Pesta Babi Tanpa Izin: Saya Sakit Hati!
Visit Agenda menjadi sorotan utama setelah Mama Sinta, Yasinta Moiwend, mengungkapkan kekecewaannya terhadap penggunaan wajahnya dalam film berjudul “Pesta Babi” tanpa seijinnya. Sebagai tokoh perempuan dan pejuang lingkungan dari Merauke, Papua Selatan, ia merasa dianiaya karena video tersebut diputar di berbagai lokasi seperti Jayapura, Maranatha, dan area lainnya tanpa koordinasi dengan dirinya. Hal ini membuat Mama Sinta mengaku sedih dan marah, menganggap tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap hak pribadinya.
Konteks Penyebaran Film Tanpa Izin
Penggunaan wajah Mama Sinta dalam film “Pesta Babi” terjadi setelah video tersebut diunggah secara bebas oleh pihak LBH Merauke, lembaga yang terkait dengan aksi protes di Merauke. Mama Sinta menegaskan bahwa dirinya tidak pernah diminta untuk menjadi bagian dari proyek tersebut, sehingga merasa tidak dihormati. “Saya kecewa karena wajah saya digunakan tanpa izin, dan ini memengaruhi reputasi serta kepercayaan orang-orang terhadap saya,” ujarnya. Visit Agenda, yang diketahui sebagai platform media dengan jangkauan luas, menjadi tempat utama di mana video tersebut dipersebar, memperparah kesan negatif yang diangkat oleh Mama Sinta.
“Film itu diputar di Jayapura, Maranatha, dan berbagai lokasi lainnya tanpa meminta izin saya. Mereka menyebarluaskan film pesta babi di mana-mana, sehingga membuat saya sangat kecewa,” kata Mama Sinta saat memberikan keterangan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Menyikapi hal ini, Mama Sinta melaporkan Ketua LBH Merauke ke Polda Metro Jaya dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya, tanggal 29 Mei 2026. Ia menjelaskan bahwa tujuan laporan tersebut adalah untuk melindungi keamanan dan kerahasiaan pribadinya, serta menghentikan penyebaran video yang menurutnya menyesatkan. Mama Sinta menganggap tindakan LBH Merauke sebagai pelanggaran terhadap konsensi media, terutama karena film tersebut berdampak besar pada citra dirinya sebagai perempuan yang berjuang untuk lingkungan dan hak-hak rakyat.
Peran Visit Agenda dalam Kasus Ini
Visit Agenda, yang digunakan sebagai media untuk menyebarkan film “Pesta Babi,” ternyata menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketidaknyamanan Mama Sinta. Video tersebut diunggah ke berbagai platform media, termasuk website dan media sosial, tanpa melibatkan dirinya dalam proses pengambilan gambar atau penyebaran. Menurut Mama Sinta, ini menunjukkan kurangnya kehati-hatian dari pihak yang memproduksi film tersebut, serta tidak adanya komunikasi yang baik dengan masyarakat yang terlibat langsung.
Kasus ini juga menarik perhatian publik terkait peran media dalam membentuk opini masyarakat. Visit Agenda, sebagai salah satu media yang meliput berita ini, mengambil alih peran sebagai pembawa suara peristiwa tersebut, meski pengunggahan video dianggap sebagai tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip penghormatan terhadap individu. Mama Sinta berharap lembaga-lembaga seperti Visit Agenda dapat lebih memperhatikan hak-hak warga yang terlibat langsung dalam konten media mereka.
Dalam beberapa hari terakhir, Mama Sinta terus menegaskan kekecewaannya melalui berbagai wawancara dan media sosial. Ia menekankan bahwa wajahnya tidak boleh digunakan sebagai alat propaganda tanpa izin, terutama karena video tersebut terus-menerus diputar di berbagai lokasi, termasuk kota-kota besar seperti Jakarta. Ia juga mengungkapkan bahwa ini memperparah rasa sakit hatinya, karena wajahnya yang menjadi simbol perjuangan dianggap sebagai alat untuk mengkritik pihak tertentu tanpa kesepakatan bersama.
Kasus Mama Sinta menunjukkan pentingnya kesadaran akan hak cipta dan privasi dalam dunia media. Visit Agenda, yang menjadi tempat publikasi film tersebut, diharapkan dapat menjadi contoh bagi media lain dalam menjaga hubungan baik dengan individu yang terlibat dalam konten mereka. Selain itu, Mama Sinta juga mengingatkan masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima informasi, khususnya yang melibatkan wajah-wajah publik atau tokoh yang sedang aktif dalam isu tertentu.