Kementan Ungkap Biang Kerok Harga Cabai Melonjak meski Pasokan Surplus
Daftar Isi
Surplus Nasional Belum Menjamin Harga Cabai Turun di Semua Daerah
Nusantaranews1.com – Harga cabai rawit di pasar konsumen masih berada pada level tinggi, meski produksi nasional selama Oktober 2026 diperkirakan lebih besar daripada kebutuhan konsumsi. Rata-rata harga cabai rawit secara nasional tercatat mencapai Rp93.629 per kilogram pada pemantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) hingga 14 Oktober 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan harga tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi secara keseluruhan. Ketersediaan cabai di tiap wilayah menjadi faktor penting, terutama ketika daerah yang membutuhkan pasokan belum terhubung secara lancar dengan sentra produksi yang sedang panen.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Sudi Mardianto, menyebut produksi cabai rawit nasional pada Oktober diproyeksikan sebanyak 133 ribu ton. Produksi cabai besar pada periode yang sama diperkirakan mencapai sekitar 115 ribu ton. Sementara kebutuhan konsumsi nasional berada di kisaran 70 ribu ton.
“Posisi produksi ini apabila dibandingkan dengan tingkat konsumsinya yang berkisar 70 ribu ton, itu sebetulnya kita secara agregat masih mengalami surplus. Tapi memang sebaran produksinya yang lebih banyak daerah-daerah yang masih mengalami defisit,” kata Sudi dalam keterangan resminya pada Kamis (15/10/2026).
Distribusi Menjadi Penentu Stabilitas Harga
Surplus pada skala nasional dapat terjadi bersamaan dengan kelangkaan di sejumlah provinsi. Cabai merupakan komoditas segar yang membutuhkan penanganan dan pengiriman tepat waktu. Karena itu, daerah dengan produksi berlebih perlu dapat memasok wilayah yang mengalami kekurangan agar harga tidak melonjak di tingkat konsumen.
Kementerian Pertanian mencatat terdapat 26 kabupaten yang menjadi sentra cabai rawit dan cabai besar di Jawa, Sumatera, serta Sulawesi. Kontribusi wilayah-wilayah tersebut mencapai sekitar 65 persen dari total produksi cabai nasional.
Keberadaan sentra produksi itu dinilai dapat mendukung kerja sama pasokan antardaerah. Saat suatu wilayah mengalami defisit, pasokan dari kabupaten penghasil dapat menjadi salah satu cara untuk meredam kenaikan harga, selama pengiriman dan koordinasi berlangsung cepat.
“Bahwa dari 26 kabupaten ini ini menyumbang sekitar 65 persen dari total produksi cabai nasional. Artinya posisi kabupaten-kabupaten yang keberadaan Champion Cabai ini berada, ini adalah salah satu solusi untuk bagaimana kita dapat mengendalikan kondisi harga cabai di beberapa provinsi yang mengalami lonjakan cukup tinggi,” ungkap Sudi.
Daerah Penghasil Cabai Rawit dan Cabai Besar
Untuk cabai rawit, Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat diproyeksikan menjadi salah satu daerah dengan produksi terbesar pada Oktober, yakni 24,4 ribu ton. Malang, Jawa Timur, diperkirakan menghasilkan 10,8 ribu ton, disusul Situbondo, Jawa Timur, sebanyak 7,6 ribu ton. Aceh Tengah juga menjadi salah satu penyumbang penting dengan produksi sekitar 6 ribu ton.
Sentra cabai besar tersebar di sejumlah wilayah lain. Kerinci, Jambi, diproyeksikan menghasilkan 20,2 ribu ton, sementara Aceh Tengah diperkirakan memproduksi 18,1 ribu ton. Kulon Progo di DI Yogyakarta menghasilkan sekitar 4,8 ribu ton, Garut di Jawa Barat 3,6 ribu ton, dan Simalungun di Sumatera Utara sebanyak 3 ribu ton.
Data tersebut memperlihatkan bahwa produksi cabai tidak terkonsentrasi dalam satu pulau saja. Namun, jarak antara wilayah penghasil dan daerah konsumen tetap membutuhkan skema distribusi yang efektif, khususnya bagi provinsi yang bukan sentra produksi.
Fasilitasi Pengiriman ke Wilayah Defisit
Pemerintah menyiapkan dukungan distribusi untuk memindahkan cabai dari daerah surplus menuju wilayah yang pasokannya terbatas. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, menyampaikan bahwa bantuan pengiriman dapat diberikan bagi daerah yang membutuhkan cabai dari sentra produksi.
“Bagi yang di daerahnya bukan daerah sentra produksi, kekurangan cabai, karena cabai saat ini, produksi yang paling tinggi salah satunya ada di Aceh, Bapanas bisa membantu subsidi untuk membantu pengiriman,” ujar Hermawan.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah Fasilitasi Distribusi Pangan atau FDP. Program ini direncanakan untuk mengirim cabai rawit merah dari Probolinggo, Jawa Timur, ke Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Pelaksanaannya melibatkan Champion Cabai binaan Kementerian Pertanian.
Skema tersebut diharapkan membantu mengurangi kesenjangan pasokan antarwilayah. Bagi masyarakat, kelancaran distribusi penting karena kenaikan harga di pasar tidak selalu mencerminkan rendahnya produksi nasional. Harga dapat bergerak naik ketika pasokan di suatu daerah terlambat datang atau jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi permintaan lokal.
Perbedaan Harga Antarwilayah
Meski rata-rata nasional cabai rawit mencapai Rp93.629 per kilogram, harga di sejumlah daerah masih lebih terkendali. Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur mencatat harga cabai rawit dalam rentang Rp57.000 hingga Rp65.000 per kilogram.
Perbedaan ini memperkuat gambaran bahwa kedekatan dengan wilayah produksi berpengaruh terhadap harga yang diterima konsumen. Daerah yang memiliki pasokan lokal atau akses lebih mudah ke sentra cabai cenderung menghadapi tekanan harga yang lebih rendah dibanding wilayah dengan keterbatasan pasokan.
Untuk cabai merah keriting, rata-rata harga nasional tercatat Rp79.913 per kilogram. Di sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, komoditas tersebut berada pada kisaran Rp50.000 sampai Rp64.000 per kilogram.
Hermawan meminta pemerintah daerah terus menyampaikan perkembangan stok dan harga di wilayah masing-masing. Informasi yang cepat diperlukan agar langkah stabilisasi dapat dilakukan ketika pasokan menipis atau harga mulai meningkat tajam. Dengan pemantauan dan distribusi yang terkoordinasi, surplus produksi nasional diharapkan dapat lebih terasa manfaatnya bagi konsumen di berbagai daerah.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kementan Ungkap Biang Kerok Harga Cabai?
Kementan Ungkap Biang Kerok Harga Cabai is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kementan Ungkap Biang Kerok Harga Cabai matter?
Kementan Ungkap Biang Kerok Harga Cabai matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.