Regional

22 Daerah di Jatim Tetapkan Status Darurat Kekeringan, Pemprov Cari Sumber Air Baru

codex-efca0e10d1ad474b855911e62e8a79c7
Foto : Sarah Smith - nusantaranews1.com
Daftar Isi
  1. Kekeringan Meluas di Jawa Timur, Pemprov Dorong Pencarian Sumber Air Terdekat
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Kekeringan Meluas di Jawa Timur, Pemprov Dorong Pencarian Sumber Air Terdekat

Nusantaranews1.com – Wilayah Jawa Timur menghadapi tekanan kekeringan yang semakin luas pada September 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak hanya menyalurkan air bersih bagi warga terdampak, tetapi juga mempercepat pencarian sumber air baru yang dapat diakses untuk kebutuhan jangka lebih panjang.

Sampai 17 September 2026, terdapat 24 kabupaten dan kota di Jawa Timur yang telah menetapkan status darurat kekeringan. Dari jumlah itu, 22 kabupaten telah menjalankan penyaluran air bersih ke kawasan yang mengalami kesulitan memperoleh pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Langkah pencarian sumber air dinilai penting karena bantuan tangki air bersifat penanganan langsung dan harus terus dilakukan selama warga belum mempunyai akses pasokan yang memadai. Kondisi lapangan pun tidak sama di setiap daerah. Ada titik yang memiliki potensi air, sementara lokasi lain menghadapi kendala geologi atau persoalan penerimaan masyarakat di sekitar sumber air.

Lamongan Menjadi Salah Satu Wilayah dengan Dampak Luas

Kabupaten Lamongan termasuk daerah yang merasakan dampak kekeringan cukup besar. Data terbaru menunjukkan 7.339 keluarga, atau 26.551 orang, terdampak di 10 kecamatan. Situasi tersebut mendorong penyaluran bantuan air bersih ke sejumlah titik yang membutuhkan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan bantuan langsung kepada warga Dusun Bulu, Desa Mantup, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan, pada Sabtu, 19 September 2026. Bantuan tersebut diterima oleh 105 keluarga dengan total 590 jiwa.

Pemprov Jawa Timur menyiapkan empat truk tangki dengan kapasitas 5.000 liter per unit. Selain air bersih, bantuan juga mencakup tiga tandon, dua tandon lipat, dan 100 jeriken. Ketersediaan wadah penampungan diperlukan agar air yang tiba dapat disimpan dan dipakai warga secara lebih teratur.

Penyaluran air melalui mobil tangki menjadi salah satu bentuk respons cepat pada masa darurat. Namun, kebutuhan warga tidak berhenti setelah satu kali distribusi. Karena itu, keberadaan sumber air yang dapat dialirkan atau dimanfaatkan secara berkelanjutan menjadi bagian penting dari upaya penanganan kekeringan.

Potensi Sumber Air Berjarak Lima Kilometer

Di sekitar Dusun Bulu, terdapat sumber air yang sedang dikaji dengan jarak kurang lebih lima kilometer. Secara potensi, air dari lokasi tersebut dapat dialirkan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Pemanfaatannya tetap memerlukan pembahasan yang cermat, terutama berkaitan dengan kondisi sosial di lingkungan sekitar sumber air.

“Bahwa ada yang sesungguhnya bisa kita lakukan secara lebih strategis ketika kita menemukan sumber-sumber air terdekat yang dimungkinkan untuk bisa diakses,” ujar Khofifah.

Pemerintah perlu memastikan pemanfaatan sumber air tidak menimbulkan persoalan baru bagi warga di desa sekitar. Sebuah sumber yang secara teknis memungkinkan dimanfaatkan belum tentu dapat segera dialirkan apabila muncul keberatan dari masyarakat di lokasi asal air.

“Ada yang potensinya lumayan, tapi kemudian desa di tempat sumber air itu keberatan sehingga tidak jadi ditarik airnya,” katanya.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kekeringan membutuhkan lebih dari kesiapan alat dan infrastruktur. Komunikasi dengan warga, pemetaan kebutuhan, serta kesepahaman mengenai penggunaan sumber air ikut menentukan apakah suatu rencana dapat dijalankan.

Pengeboran Sumur Tidak Selalu Berhasil

Selain mengkaji sumber air permukaan, Pemprov Jawa Timur juga menempuh pengeboran sumur di titik-titik yang diperkirakan berpotensi menghasilkan air. Upaya ini dilakukan untuk membuka pilihan pasokan bagi kawasan yang sulit dijangkau dari sumber air lain.

Hasil pengeboran berbeda-beda di setiap lokasi. Ada titik yang menemukan air pada kedalaman sekitar 90 meter. Namun, terdapat pula pengeboran yang telah mencapai kedalaman 200 meter tanpa menghasilkan air. Pada lokasi tersebut, pengeboran justru menemui lapisan batu dan menyebabkan 19 mata bor putus.

“Artinya ada kesulitan-kesulitan tertentu. Tapi juga ada yang 90 meter ketemu air,” ujarnya.

Perbedaan hasil itu menjadi gambaran bahwa pengeboran perlu mempertimbangkan karakter kondisi bawah tanah di masing-masing wilayah. Tidak semua lokasi yang dibor akan memberikan hasil serupa, sehingga pencarian air perlu dilakukan melalui beberapa alternatif yang saling melengkapi.

Operasi Modifikasi Cuaca juga menjadi bagian dari ikhtiar menghadapi kekeringan. Meski demikian, penanganan kebutuhan air warga tetap memerlukan langkah nyata di tingkat lokasi, mulai dari distribusi air bersih, pembangunan atau pemanfaatan penampungan, hingga pengembangan jalur pengaliran dari sumber yang memungkinkan.

Pengaliran Air dari Wilayah Lain Menjadi Pilihan

Pemprov Jawa Timur juga melihat peluang membangun sistem pengaliran air dari wilayah yang memiliki sumber menuju kawasan yang mengalami kekurangan pasokan. Pilihan tersebut disesuaikan dengan kondisi geografis dan jarak antarwilayah.

Contoh skema yang dipertimbangkan adalah pemanfaatan sumber air dari kawasan gunung untuk dialirkan ke daerah yang membutuhkan. Khofifah menyebut kemungkinan penarikan air dari Arjuna menuju Singosari sebagai salah satu gambaran pendekatan tersebut.

“Ada juga yang dari gunung bisa ditarik seperti dari Arjuna bisa ditarik ke Singosari dan seterusnya. Jadi opsi untuk bisa mengidentifikasi sumber-sumber terdekat, termasuk di dalamnya adalah melakukan pengeboran sumur di daerah yang potensial, kita akan maksimalkan ikhtiar itu,” katanya.

Dengan banyaknya daerah yang telah menetapkan status darurat, penanganan kekeringan di Jawa Timur membutuhkan kombinasi langkah cepat dan strategi pasokan air yang dapat diterapkan sesuai kondisi setempat. Distribusi air bersih tetap dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, sedangkan pencarian sumber terdekat, pengeboran di lokasi potensial, dan pengaliran dari wilayah lain menjadi pilihan untuk memperluas akses air bagi warga terdampak.

Frequently Asked Questions

What is 22 Daerah di Jatim Tetapkan Status?

22 Daerah di Jatim Tetapkan Status is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does 22 Daerah di Jatim Tetapkan Status matter?

22 Daerah di Jatim Tetapkan Status matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment