Important Visit: Perbedaan Gejala Retinopati Diabetik dan Katarak
Nusantaranews1.com – Kaburkan penglihatan di usia tua sering dikaitkan dengan katarak, namun untuk penderita diabetes, gejala ini bisa menjadi tanda penyakit lain, yaitu retinopati diabetik. Penting untuk melakukan important visit ke dokter mata secara rutin, terutama bagi penderita diabetes, agar bisa mendeteksi kondisi ini sejak dini. Jika tidak segera diatasi, retinopati diabetik berpotensi menyebabkan kebutaan permanen.
Retinopati Diabetik vs Katarak: Mengapa Diagnosa Harus Dipastikan?
Profesor spesialis ilmu kesehatan mata, Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, Sp.M, M.Epid., Ph.D, mengatakan bahwa banyak pasien datang ke dokter dengan keyakinan bahwa mereka mengidap katarak, padahal bisa jadi gejala awal retinopati diabetik. “Kalau cari di internet ‘pandangan mata kabur’ dan usia 55 tahun, yang pertama keluar biasanya katarak. Namun, dalam kenyataannya, tidak selalu demikian,” tulis Prof. Bayu dalam penjelasannya.
“Dok, saya katarak. Bahkan belum diperiksa dia sudah mendiagnosis sendiri. Sekarang kan zaman AI. Kalau cari di internet ‘pandangan mata kabur’ dan usia 55 tahun, yang pertama keluar biasanya katarak,”
Menurut Prof. Bayu, retinopati diabetik berkembang perlahan dan tidak menunjukkan gejala di tahap awal. “Akhirnya datang dengan keyakinan itu. Begitu dicek ternyata gulanya tinggi, ternyata retinopatinya sudah berat,” tambahnya. Ini menunjukkan bahwa pentingnya important visit ke dokter mata untuk penderita diabetes tidak boleh diabaikan.
Penyebab dan Mekanisme Penyakit
Retinopati diabetik terjadi akibat kerusakan pembuluh darah di retina akibat kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang. Sementara katarak disebabkan oleh kehilangan kejernihan lensa mata, biasanya terkait penuaan. Meski gejalanya mirip, seperti penglihatan kabur, kedua kondisi ini memiliki mekanisme berbeda. Prof. Bayu menjelaskan bahwa gejala retinopati diabetik bisa termasuk bintik hitam di pandangan, penglihatan bergelombang, atau penurunan kualitas penglihatan secara bertahap.
Katarak sering menunjukkan gejala seperti melihat seperti melalui kaca berembun, silau saat terkena cahaya, kesulitan melihat di malam hari, atau perubahan ukuran kacamata. Retinopati diabetik, di sisi lain, bisa memicu perubahan pada retina yang tidak terlihat jelas pada awalnya. “Kalau sudah sampai fase itu, kualitas penglihatan sudah berkurang. Bisa tajam penglihatan berkurang, atau kecerahan berkurang. Jadi kalau lihat lampu 100 watt seperti 80 atau 75 watt,”
Prof. Bayu menegaskan bahwa penderita retinopati diabetik bisa tetap beraktivitas normal meski retina sudah rusak. Namun, penglihatan yang kabur sering dianggap sebagai gejala katarak, sehingga mereka mengabaikan tanda-tanda penyakit lain. Dengan important visit ke dokter mata, diagnosa yang akurat bisa segera dilakukan dan tindakan pencegahan lebih cepat diterapkan.
Proses Diagnosa dan Pengendalian Penyakit
Skrining mata rutin sangat penting untuk penderita diabetes, terutama karena retinopati diabetik bisa berkembang tanpa gejala jelas. American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan pemeriksaan mata komprehensif untuk semua penderita diabetes tipe 2 segera setelah didiagnosis. Untuk tipe 1, skrining dilakukan maksimal lima tahun setelah diagnosis, kemudian dilanjutkan secara berkala setiap satu hingga dua tahun.
Menurut American Academy of Ophthalmology (AAO) dan National Eye Institute (NEI), retinopati diabetik sering muncul tanpa tanda-tanda jelas. Jadi, important visit ke dokter mata bisa menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serius. Prof. Bayu menekankan bahwa diagnosis dini memungkinkan perawatan lebih efektif, seperti injeksi anti-VEGF, laser fotokoagulasi, atau operasi vitrektomi.
Di sisi lain, katarak bisa diatasi dengan operasi penggantian lensa. Namun, jika pasien mengira gejala retinopati diabetik sebagai katarak, mereka mungkin terlambat melakukan skrining yang diperlukan. Dengan mengetahui perbedaan gejala, important visit ke dokter mata bisa memastikan bahwa kondisi yang benar-benar terjadi diidentifikasi dengan tepat.
Prof. Bayu mengingatkan bahwa gejala awal retinopati diabetik sering diabaikan. “Kalau sudah muncul keluhan, sering kali penyakitnya sudah berkembang. Yang paling penting adalah skrining rutin, meskipun merasa penglihatan masih normal,”
Pentingnya important visit ke dokter mata tidak hanya untuk mendeteksi penyakit, tetapi juga untuk memantau perkembangan kesehatan mata secara berkala. Dengan mengetahui perbedaan antara retinopati diabetik dan katarak, pasien dapat lebih siap menghadapi gejala yang muncul dan mengambil tindakan tepat waktu untuk menjaga kualitas penglihatan.
