Update Gempa M 6,7 Guncang Sulteng – 1.074 Rumah Rusak, 73 Luka-Luka dan 1 Tewas
Gempa M 6,7 Guncang Sulteng: 1.074 Rumah Rusak, 73 Luka dan 1 Tewas
Gempa M 6 7 Guncang Sulteng - Gempa bumi berkekuatan 6,7 skala Richter (M 6,7) kembali mengguncang Sulawesi Tengah, terutama Kabupaten Sigi, pada Selasa (16/6/2026). Bencana alam ini telah menyebabkan kerusakan yang signifikan, dengan total 1.074 unit rumah rusak, 73 warga mengalami luka ringan, serta satu korban jiwa. BNPB melaporkan bahwa sekitar 5.784 jiwa terpaksa mengungsi akibat gempa M 6,7 yang kembali mengguncang Sulteng.
Dampak Gempa M 6,7 di Sulteng
Kerusakan paling parah terjadi di Kabupaten Sigi, dengan sebanyak 1.074 unit rumah tergolong dalam kategori rusak berat dan ringan. Angka ini menunjukkan bahwa gempa M 6,7 masih menjadi ancaman besar bagi masyarakat setempat. Menurut laporan terbaru dari BNPB, 73 warga mengalami cedera ringan, sementara satu orang tewas akibat kejadian ini. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa jumlah korban meninggal dunia tidak berubah sejak laporan pertama.
“Jumlah korban meninggal dunia hingga saat ini masih tercatat satu orang, tanpa adanya penambahan dari laporan sebelumnya,” kata Abdul Muhari dalam pernyataannya, Rabu (17/6/2026).
Bencana ini tidak hanya mengakibatkan kerusakan bangunan, tetapi juga mengganggu kehidupan sehari-hari warga. Terdapat 1.834 kepala keluarga yang terpaksa berpindah ke tempat yang lebih aman, dengan total 5.784 jiwa terdampak. Pemerintah setempat dan organisasi seperti BPBD masih berupaya menyelesaikan pendataan korban serta memastikan kelangsungan hidup warga yang terdampak. Beberapa daerah seperti Kota Palu dan Kabupaten Poso juga melaporkan adanya kerusakan, meskipun dampaknya tidak seberat di Sigi.
Respons Darurat dan Upaya Penanggulangan
Setelah gempa M 6,7 mengguncang Sulteng, tim respons darurat segera bergerak untuk menangani keadaan darurat. Pos Komando telah didirikan di Desa Maku, Kabupaten Sigi, sebagai pusat koordinasi pengungsi dan penanganan krisis. Selain itu, pemerintah setempat mendistribusikan bahan makanan, air bersih, serta perlengkapan kebutuhan pokok untuk mendukung warga yang terdampak. BPBD dan tim gabungan dari berbagai lembaga bantuan terus melakukan pemantauan kondisi terkini di daerah terkena gempa.
“Kerusakan rumah yang terjadi mencakup 1.074 unit, termasuk 110 rumah rusak ringan dan 30 unit rusak berat,” tambah Aam, sapaan Abdul Muhari.
Pendataan kerusakan terus dilakukan secara sistematis, dengan upaya memastikan bahwa semua warga yang terdampak dapat diakomodasi. Laporan terbaru menunjukkan bahwa kerusakan infrastruktur mencakup jalan raya, jembatan, serta beberapa fasilitas umum. Meski begitu, kondisi di wilayah lain seperti Kota Palu dan Kabupaten Poso belum menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan laporan awal. Di Kota Palu, dua orang masih tercatat terluka, sedangkan satu warga di Kabupaten Poso mengalami cedera.
Berdasarkan data dari BMKG, gempa susulan yang mengguncang Sulteng hingga 17 Juni 2026 mencapai 612 kali, dengan gempa yang terasa sebanyak 25 kali. Angka ini menunjukkan bahwa risiko bencana masih tinggi, terutama di wilayah yang berdekatan dengan daerah patahan tanah. Aam mengingatkan masyarakat dan pemerintah setempat untuk tetap waspada terhadap ancaman gempa susulan. “Jika terjadi hujan deras yang berlangsung lama, warga yang tinggal dekat daerah aliran sungai diminta memantau ketinggian air dan segera melakukan evakuasi mandiri apabila melebihi batas aman,” ujarnya.
Beberapa area seperti Kabupaten Parigi Moutong juga melaporkan adanya dampak gempa, meski jumlah korban tidak sebesar Sigi. Dalam upaya mempercepat respons darurat, pemerintah daerah terus mengkoordinasikan bantuan dari berbagai sumber, termasuk bantuan dari pihak swasta dan lembaga internasional. Di sisi lain, warga yang tinggal di daerah rawan longsor juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman tsunami atau banjir yang mungkin terjadi akibat gempa M 6,7.
Kondisi kejadian gempa M 6,7 ini menjadi peringatan bahwa Sulawesi Tengah masih rentan terhadap bencana alam. Sebagai langkah pencegahan, BNPB dan BMKG melakukan pemantauan terus-menerus terhadap aktivitas seismik. Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk memperkuat sistem peringatan dini serta mengikuti instruksi dari pihak berwenang untuk meminimalkan risiko cedera lebih lanjut. Gempa M 6,7 guncang Sulteng ini menjadi bagian dari rangkaian bencana yang terus-menerus menguji ketahanan masyarakat di wilayah tersebut.